16 Tahun Ngemis Punya 2 Motor dan Warung

16 Tahun Ngemis Punya 2 Motor dan Warung

BANTENRAYA.CO.ID – Salah seorang pengemis berkostum badut yang biasa mangkal di simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya, Kota Serang, tepatnya Jalan Kiajurum, mengaku sudah 16 tahun beroperasi.

Sepanjang waktu itu, ia mampu memiliki dua motor Honda dan usaha warung di kontrakannya.

Suhendar namanya. Kepada Banten Raya, ia mengatakan bahwa biasa memulai aktivitasnya sebagai pengemis badut setelah melaksanakan salat Subuh.

Lantaran jarak tempuh dari kosannya dekat, ia biasa berjalan kaki menuju ke simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya.

BACA JUGA : Mantan Gubernur Sebut MBG Sarat Korupsi

Sedari subuh Suhendar sudah beroperasi di simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya untuk mengais rezeki dengan cara mengemis.

“Saya dari jam 5 subuh. Kebetulan kosan saya kan dekat dari sini jadi jalan kaki dari kosan. Pulang jam tiga sore,” ujar Hendar, ditemui di simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya.

Menurutnya, benar atau tidak menjadi profesi pengemis jalanan bukan lagi karena faktor himpitan ekonomi, melainkan profesi tetap lantaran cukup menjanjikan dari sisi pendapatan.

Buktinya hampir 16 tahun ia masih menjalani profesi tersebut. “Saya dari 2010,” ucap dia.

BACA JUGA : Ahmad Nuri, Tidak Siap Untuk Diam

Suhendar menyebutkan, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

“Paling Rp100 ribu. Kalau lagi sepi Rp80 ribu. Itu belum makan. Cuma rokok sama minum doang. Kadang ada yang ngasih nasi dimakan, nggak ada ya udah. Paling makan sore jam 3,” katanya.

Pendapatan Suhendar jika hitung selama 30 hari maka setara dengan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gaji terendah dari PPPK penuh waktu berkisar Rp 1.938.500 hingga Rp 2.900.900 per bulan.

BACA JUGA : Pramuka Perguruan Tinggi: Saatnya Keluar dari Zona Nyaman dan Menjadi Gerakan Intelektual Berdampak

Dari penghasilan yang menjanjikannya itu, Suhendar sampai rela harus ngekos dari tahun 2008 di sebuah rumah yang tak jauh dari lokasi tempat operasinya, tepatnya di wilayah Kelurahan Cipocok Jaya.

Ia tinggal di kosan bersama kakak perempuannya yang berprofesi pemulung jalanan. Mereka iuran untuk membayar sewa kosnya Rp 500.000 per bulan.

“Saya belum punya istri. Punya saudara perempuan satu orang. Saya ngontrak di Cipocok Tegal tarifnya Rp500 ribu sebulan. Buat bayar kosnya patungan sama kakak. Dia ngambil kardus (mulung) rongsokan,” ungkap Suhendar.

Untuk menjalani profesi pengemis jalanan, Suhendar pun berani merogoh kocek dari kantong pribadi meski harus nyicil. Itu dilakukan untuk menarik perhatian warga pengendara motor yang berhenti saat lampu menyala merah.

BACA JUGA : Mantan Gubernur Sebut MBG Sarat Korupsi

“Dulu sewa sehari Rp50 ribu setorannya sama yang punya kostum badut. Tahun 2012 sampai 2013 beli sendiri Rp300 ribu hasil ngumpulin uang,” kata Suhendar.

Suhendar mengaku merantau ke Kota Serang dari kampung halamannya di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang.

Setiap tiga pekan sekali, ia sempatkan untuk mudik ke kampung halamannya, karena masih terdapat banyak keluarganya. “Saya aslinya dari Pontang. Saudara masih ada banyak, tapi orang tua sudah enggak ada,” ucap dia.

Ia beralibi menjalani profesi badut pengemis jalanan lantaran tidak ada kerjaan lain. “Nggak ada kerjaan lagi.

BACA JUGA : Wagub Minta Tindak Tegas Kasus Pelecehan di Untirta

Mau kerja susah. Bayar sekarang mah. Belum pernah kerja sama orang. Usaha tapi nggak ada hasilnya. Udah gini aja jadi badut,” ujar Suhendar pasrah.

Selama belasan tahun menjadi badut pengemis jalanan ia mengaku dulu sering terjaring razia Satpol PP Kota Serang.

“Pernah kena (razia) tiga kali. Dibawa ke kantor di Cipare. Didata. Diomongin (ditegur) jangan di lampu merah. Ditegur. Satu kali lagi pegang dibawa ke Pondok Bambu di Jakarta,” kenang dia.

Untuk menyiasati agar tidak terjaring razia Satpol PP Kota Serang, Suhendar terpaksa harus kucing-kucingan dengan petugas penegak perda itu saat di lapangan. “Kucing-kucingan aja. Kadang nyumput di kamar mandi. Ada yang ngasih tahu teman,” ungkapnya.

BACA JUGA : Di Tengah Gejolak Energi Dunia, Pertamina Dorong Energi Terbarukan

Meski pernah ditangkap beberapa kali dan diangkut ke Mako Satpol PP Kota Serang, namun itu tak membuat ia jera karena hanya diberikan teguran lisan saja.

“Nggak (kapok). Cuma didata doang terus dilepasin lagi. Jam 11 sampai jam 2 udah pulang nanti jam 2 saya ke sini lagi nyari lagi,” beber Suhendar.

Selama belasan tahun berprofesi sebagai badut pengemis jalanan, Suhendar mengaku sudah memiliki barang simpanan dan usaha sampingan berupa warung mini yang berlokasi di kosannya.

“Warung, sama dua motor seken. Warung yang nungguin kakak perempuan. Jualan kayak warung Madura gitu.

BACA JUGA : Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon di Indonesia dan Korea Selatan

Motor merek Honda. Alhamdulillah nggak punya cicilan, karena belinya seken. Itu hasil dari ngemis dari tahun 2018-2020,” ungkap dia.

Pengemis badut jalanan lainnya, Erna mengatakan, berangkat dari rumahnya di Tembong ke lokasi tempat mengemis naik angkot.

“Saya naik angkot, dari Tembong. Dari rumah jam 5.30 pulang jam 10 pagi,” ujar Erna, kepada Banten Raya.

Erna mengemis tak sampai setengah hari, karena ia harus melakoni profesi tetapnya yakni jadi kuli cuci gosok di tetangganya. “Abis pulang dari sini, cuci gosok di tetangga. Ini sampingan. Kerja juga jadi pembantu,” ucap dia.

BACA JUGA : 21 Petani Muda Berangkat Magang ke Jepang

Ia mengaku tinggal di Tembong ngontrak rumah milik warga setempat. “Saya ngontrak sebulan Rp500 ribu. Aslinya dari Cilegon,” katanya.

Erna menjelaskan, alasan mengemis di Kota Serang karena suaminya asal Kota Serang.

Selain itu, tiga anaknya sudah sekolah di Kota Serang. “Tadinya suami orang sini. Udah meninggal.

Mau pulang ke sana (Cilegon), tapi anaknya pada sekolah di sini semuanya. Jadinya udah kagol hidup di sini. Jadinya lanjut aja. Bismillah,” jelas Erna.

BACA JUGA : Arus Balik Lebaran 2026: Terminal Terpadu Merak Dipadati Pemudik dari Sumatera

Ia beralibi terpaksa mengemis di jalan untuk menambah biaya menghidupi ketiga anaknya yang statusnya masih pelajar semua dari mulai SD, SMP dan SMA.

Erna mengaku profesi tetapnya adalah kuli cuci dan gosok pakaian di tetangganya.

“Ini mah buat jajan sekolah aja. Sampingan. Saya kerja jadi pembantu. Dari sini nyuci gosok ke tetangga.

Langsung dibayar. Kan lumayan. Pagi ngisi waktu kosong. Jam 10 langsung pulang nyari uang lagi. Apa aja yang penting halal,” lugasnya.

BACA JUGA : Mantan Gubernur Sebut MBG Sarat Korupsi

Meski ngontrak di Tembong, Erna mengaku sudah menjadi warga Kota Serang. Selama menjadi warga Kota Serang ia mengaku belum pernah didata sebagai penerima bantuan sosial (bansos) Kota Serang.

“Nggak pernah dapat. Saya kan bukan orang asli situ. Tapi udah bikin KTP sini. Tapi nggak pernah dapat apa-apa,” akunya.

Ia menyebutkan, rata-rata pendapatan mengemis tidak banyak, karena waktu mengemisnya tidak sampai setengah hari.

“Kalau dari sini ya namanya juga minta ya paling 40 ribu, gedenya 50 ribu. Kan kita jam 10 udah pulang. Paling gede 30-40. Lumayan aja buat nyambung-nyambung jajan sekolah,” sebut Erna.

BACA JUGA : 21 Petani Muda Berangkat Magang ke Jepang

Sementara, kuli cuci dan gosok pakaian tidak dibayar bulanan, melainkan harian karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama tiga anaknya.

“Langsung dibayar 50 ribu. Nanti beres sebelah sini dipanggil lagi dikasih 20 ribu, 30 ribu nggosok doang, nyuci doang. Langsung dibayar. Nggak dibayar bulanan mingguan. Saya kan butuhnya tiap hari,” ucap dia.

Ia mengaku menjadi tulang punggung bagi ketiga anaknya. “Iya kan anaknya pada sekolah semua. Kasihan. Saya masih kuat,” katanya.

Erna mengaku menjalani profesi pengemis hampir lima tahun. “Alhamdulillah saya udah jadi badut hampir 5 tahun,” ucapnya.

BACA JUGA : Mantan Gubernur Sebut MBG Sarat Korupsi

Ia mengaku menjadi badut pengemis karena keinginan sendiri bukan dorongan orang lain.

“Keinginan sendiri nggak ada yang nyuruh. Orang saya bingung masa buat nyambung-nyambung jajan sekolah apa.

Kalau kerja fokus jadi pembantu pulang sore gajinya paling gede Rp50 ribu dari pagi sampai sore.

Makanya saya ngomong sama tetangga-tetangga saya pengen nyuci, tapi saya pengen langsung dibayar. Alhamdulillah iya. Langsung dibayar. Tapi kalau pagi nggak bisa. Siang cuma nggosok nyuci doang. Nggak bisa di sini,” kata Erna.

BACA JUGA : Waspada Lonjakan Angka Pengangguran

Beroperasi dari pukul 05.30, Ibu mengaku baru mendapat Rp 8.000. “Baru dapat Rp 8.000,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Serang M Ibra Gholibi mengatakan, pihaknya telah melakukan penjaringan sebanyak 154 anak jalanan (anjal) gelandangan dan pengemis (gepeng) sejak Agustus 2025-Maret 2026.

Penanganan yang dilakukan, Dinsos Kota Serang melakukan penjangkauan rutin setiap hari di setiap lampu merah Kota Serang.

Pihaknya melakukan penjaringan gabungan bersama Satpol PP Kota Serang dan DP3KAB setiap bulan.

BACA JUGA : Komunikasi Bupati Disebut Buruk dan Tak Tahan Kritik, Hasbi Amir Retak

Selain itu melakukan pembinaan sosial oleh bidang rehabilitasi sosial dibantu oleh kepala dinas sosial, kabid rehsos dan tim peksos serta pendamping rehsos, melakukan rujukan dengan beberapa sistem sumber yang dapat di akses sesuai hasil asesmen dari tim pekerja sosial dan pendamping rehsos.

“Ada 113 anjal dan gepeng yang kita bina. Kemaren kita beri pelatihan perbengkelan dan tata boga,” sebut Ibra.

Ia menjelaskan, alasan klasik anjal dan gepeng mengemis di jalanan karena faktor ekonomi. “Mereka ingin jalan pintas karena mental sudah mental meminta-minta, dan kurang motivasi untuk mencari pekerjaan,” ucap dia.

Ia menuturkan, pengemis asal warga Kota Serang hasil penjangkauan yang sudah mendapatkan bantuan rutin dari program PKH akan dievaluasi jika masih terus turun ke jalan.

BACA JUGA : Di Tengah Gejolak Energi Dunia, Pertamina Dorong Energi Terbarukan

“Pokoknya kalau kedapatan masih turun ke jalan, akan kita evaluasi,” ucap dia dengan nada sedikit mengancam.

Menurut Ibra, penanganan anjal dan gepeng bukan hanya peran pemerintah daerah saja, melainkan harus ada peran serta masyarakat Kota Serang.

“Ini perlu peran serta masyarakat juga, makanya kami imbau untuk tidak memberi di jalanan. Paling nggak kita harus rutin turun dan sosialisasikan untuk stop memberi di jalanan,” jelas Ibra.

Ia mengakui bahwa masih ada sebagian anjal dan gepeng yang kembali turun ke jalan.

BACA JUGA : Penggunaan Anggaran Perjalanan Dinas DPRD Kabupaten Lebak Harus Transparan

“Masih ada sebagian kecil yang turun, sekarang banyak juga dari luar kota yang turun ke jalan.

Kemaren ada lima orang dari Lampung, Palembang, sudah kita koordinasikan dengan dinsos asal sudah kita pulangkan. Cilegon juga sama,” akunya.

Kata Ibra, saat melakukan penjangkauan bersama OPD lain, anjal dan gepeng kerap main kucing-kucingan dengan para petugas.

“Sekarang kucing-kucingan kalau kita turun penjangkauan mereka kabur. Ya mereka takutlah kalau ada kita mau turun ke jala,” beber Ibra.

BACA JUGA : Komitmen Energi Berkelanjutan, Pertamina Borong 14 PROPER Emas dan 108 Hijau dari KLH

Ibra mengatakan, Pemkot Serang melarang memberi uang atau barang kepada Gepeng dan Anjal di jalan.

Kebijakan itu diatur dalam Perda Nomor 2 Tahun 2010 tentang tentang pencegahan, pemberantasan, dan penanggulangan penyakit masyarakat salah satunya Gepeng dan Anjal. “Iya di Perda itu diatur,” ujar Ibra.

Mekanisme sanksi bagi pelanggar, kata dia, harusnya diatur dengan Peraturan Walikota (Perwal).

“Ini kan masih Perwalnya sepertinya harus ada perbaikan-perbaikan juga. Proses itu sebenarnya ada di Satpol PP untuk penertibannya.

BACA JUGA : Wagub Minta Tindak Tegas Kasus Pelecehan di Untirta

Kita fokusnya pembinaannya. Merehab mereka. Tapi kalau untuk besarannya sekian-sekian itu di Satpol PP,” katanya.

Ibra mengaku pihaknya tengah membina sekitar 153 PMKS hasil penjangkauan rutin bersama OPD lain. “Masih. Orang Kota Serang, kalau di luar Kota Serang bukan kita lagi,” ucap Ibra.

Dari hasil penjangkauan, pihaknya mengklasifikasi berdasarkan kelompok usianya. Bagi PMKS usia sekolah diarahkan untuk kembali melanjutkan pendidikan.

“Yang sudah dewasa di atas 18 tahun. Kalau itu kita tetap kita bina kita arahkan untuk sekolah reguler, SMP Negeri. Mereka kan nggak mau sekolah.

BACA JUGA : Penerapan WFH Ditentang

Kita bina supaya mereka mau sekolah. Kita memberikan edukasi, manfaat sekolah, memotivasi mereka untuk berubah dan tidak turun lagi ke jalan,” tutur dia.

Sementara bagi PMKS yang masih usia produktif dilakukan pembinaan dengan dibekali keterampilan life skill.

“Kita melakukan pelatihan-pelatihan kayak kemarin pelatihan untuk yang ibu-ibu pelatihan tata boga, kalau yang remaja pelatihan perbengkelan.

Terus kita juga kerja sama dengan provinsi kita lakukan pembinaan, pelatihan yang ada di Pasir Ona di Rangkasbitung punya provinsi. Seperti itu yang kita lakukan,” tandasnya. (harir)

Pos terkait