Hari Pendidikan Nasional: Ketika Karakter Melemah, Guru Kehilangan Wibawa

Oleh : Dr. Muhamad Wahyudin, MH, Dosen Hukum Universitas Primagraha dan Pembina Satuan Penegak Putra UIN SMH Banten.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 seharusnya menjadi momentum untuk bercermin, bukan sekadar merayakan. Di tengah gencarnya pembangunan sistem pendidikan dan modernisasi kurikulum, justru muncul satu persoalan mendasar yang kian rapuh: pendidikan karakter.

BACA JUGA: Gebyar Ramadan Pramuka UIN SMH Banten Menyatukan Spiritualitas, Kepedulian Sosial, dan Kebersamaan Generasi Muda

Kegelisahan ini bukan tanpa alasan. Di ruang-ruang kelas, gejala melemahnya adab dan sopan santun peserta didik semakin nyata. Relasi antara siswa dan guru yang dahulu sarat penghormatan kini perlahan berubah menjadi hubungan yang datar, bahkan dalam beberapa kasus kehilangan batas etika. Tidak sedikit siswa yang mulai menyepelekan guru, berbicara tanpa tata krama, hingga mengabaikan proses pembelajaran seolah hal tersebut tidak lagi penting.

 

Fenomena ini tidak lagi bersifat kasuistik. Sejumlah guru mengaku menghadapi situasi di mana instruksi diabaikan, sikap tidak hormat ditunjukkan secara terbuka, dan wibawa pendidik perlahan terkikis. Dalam kondisi tertentu, guru bahkan berada pada posisi dilematis antara menegakkan disiplin atau menghindari risiko tekanan sosial dan viralitas di ruang digital.

 

Selama satu dekade terakhir, penguatan pendidikan karakter memang terus digaungkan. Namun dalam praktiknya, implementasi kebijakan tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan. Sistem pendidikan masih didominasi oleh orientasi akademik nilai ujian, capaian kompetensi, dan standar kognitif sementara pembentukan akhlak dan etika sering kali hanya menjadi pelengkap administratif.

BACA JUGA: Menguatkan Karakter Mahasiswa Calon Pendidik Berakhlak Mulia, Berbangsa dan Bernegara

Dampaknya mulai terlihat jelas. Lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam sikap dan perilaku. Banyak siswa yang mahir mengakses teknologi dan informasi global, namun belum mampu menginternalisasi nilai-nilai dasar seperti sopan santun, tanggung jawab, dan empati. Mereka memahami dunia digital, tetapi tidak selalu memahami cara menghormati guru di dunia nyata.

 

Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi ini mencerminkan krisis nilai yang tidak bisa dianggap sepele. Pendidikan yang terlalu lama bertumpu pada aspek kognitif telah kehilangan keseimbangan dengan pembentukan karakter. Padahal, dalam tradisi pendidikan yang kuat, adab selalu ditempatkan di atas ilmu. Ilmu tanpa adab tidak hanya kehilangan makna, tetapi juga berpotensi melahirkan generasi yang cerdas tanpa integritas.

 

Ada sejumlah faktor yang memperparah situasi ini. Pertama, lemahnya internalisasi pendidikan karakter di sekolah, yang sering kali berhenti pada tataran formalitas program. Kedua, pengaruh lingkungan sosial dan era digital yang membentuk pola perilaku instan, permisif, dan kurang menghargai otoritas. Ketiga, berkurangnya keteladanan, baik dari lingkungan keluarga maupun figur publik, yang seharusnya menjadi rujukan moral bagi generasi muda.

 

Yang lebih mengkhawatirkan, sikap meremehkan guru tidak hanya berdampak pada terganggunya proses pembelajaran, tetapi juga pada masa depan siswa itu sendiri. Sulit membayangkan lahirnya generasi berakhlak jika sejak dini mereka terbiasa mengabaikan nilai sopan santun dan tidak menghargai sosok pendidik.

 

Dalam pandangan saya, ini adalah alarm serius bagi dunia pendidikan nasional. Penguatan pendidikan karakter tidak boleh lagi menjadi sekadar slogan kebijakan. Ia harus menjadi ruh dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Sekolah perlu menegaskan kembali batas-batas etika, memperkuat budaya hormat kepada guru, serta menghadirkan keteladanan yang konkret dan berkelanjutan.

 

Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Pendidikan karakter sejatinya dimulai dari rumah. Tanpa fondasi adab yang kuat dalam keluarga, sekolah akan kesulitan mengoreksi perilaku yang telah terbentuk.

 

Hari Pendidikan Nasional 2026 semestinya menjadi titik balik untuk mengembalikan marwah Pendidikan bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh kualitas akhlak dan adab generasinya.

 

Jika hari ini ruang-ruang kelas mulai kehilangan itu, maka sesungguhnya yang sedang kita pertaruhkan bukan sekadar sistem pendidikan, melainkan arah masa depan bangsa itu sendiri. ***

 

 

Pos terkait