BANTENRAYA.CO.ID – Makna kepahlawanan di era modern tidak lagi diukur dari keberanian mengangkat senjata, melainkan dari seberapa besar seseorang memberi manfaat bagi kehidupan orang lain.
Pahlawan masa kini adalah mereka yang melawan penjajahan dari dalam diri maupun institusi.
Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul menjelaskan, semangat kepahlawanan pada masa perjuangan dulu adalah melawan penjajahan secara nyata.
Namun di era modern, bentuk penjajahan itu telah berubah dan kini justru muncul dari dalam diri maupun institusi.
BACA JUGA : Simbol Perlawanan terhadap Penindasan
“Kalau dulu penjajahnya bangsa lain, sekarang tantangan kita adalah melawan penjajahan dari internal, dari diri sendiri, dari sistem birokrasi, dan dari organisasi yang korup,” tegasnya, Minggu (9 November 2025).
Adib menilai bahwa peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau rutinitas formal belaka.
Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dan para pemimpin memahami dan menerapkan nilai kepahlawanan dalam konteks masa kini.
“Bangsa kita ini suka dengan hal-hal seremonial, memperingati hari ini, hari itu. Itu tidak salah, tapi yang jauh lebih penting adalah memahami konteks dari apa yang diperingati,” kata Adib.
BACA JUGA : Lampu Hias di Jalur Protokol Kota Cilegon Banten Yang Rusak
Menurut Adib, bagi aparatur negara dan birokrasi, bentuk perjuangan hari ini adalah bekerja dengan sebaik-baiknya dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Mereka itu pelayan rakyat. Diberi fasilitas, tunjangan, dan jabatan untuk menyejahterakan masyarakat. Kalau mereka benar-benar bekerja untuk rakyat, itulah pahlawan.
Tapi, kalau yang dilakukan hanya mengenyangkan diri, kelompok, atau memperkuat kekuasaan pribadi, maka mereka bukan pahlawan, tapi penghianat. Karena uang yang mereka nikmati itu berasal dari rakyat,” tambah Adib.
Lebih jauh, Adib juga menyinggung peran masyarakat sipil. Ia menyebut, pahlawan di kalangan masyarakat adalah mereka yang berani bersuara dan melakukan advokasi untuk kepentingan publik.
“Mereka yang membela rakyat banyak tanpa pamrih, itu pahlawan.
Tapi kalau ada yang justru membela oligarki, berkolaborasi dengan kekuasaan yang busuk, dan menikmati keuntungan dengan cara tidak benar, maka itu juga bentuk pengkhianatan,” ujarnya.
Adib menegaskan, Hari Pahlawan semestinya menjadi ajang refleksi, bukan seremonial yang sekadar menggugurkan kewajiban.
“Jangan sampai kita terlihat besar karena seremoninya, tapi miskin makna dalam penerapannya.
BACA JUGA : Kedatangan Presiden RI Prabowo ke Cilegon Disambut Ribuan Warga dan Anak Pelajar
Yang harus dilakukan hari ini adalah meneladani nilai perjuangan, bekerja dengan jujur, berani melawan ketidakadilan, dan memberi manfaat bagi rakyat,” pungkasnya.
Pengamat politik dan akademisi dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten Syaiful Bahri saat dimintai tanggapannya mengenai makna Hari Pahlawan di masa kini mengungkapkan bahwa sosok pahlawan sejati adalah mereka yang memiliki daya juang dan memperjuangkan kemaslahatan bersama.
“Pahlawan itu bukan hanya soal nama besar atau jabatan, tapi pada kontribusi dan kebermaknaannya bagi banyak orang, rahmatan lil alamin, memberi dampak baik untuk semua, bukan hanya kelompoknya,” katanya.
Ia menjelaskan, perjuangan hari ini tentu berbeda dengan masa kemerdekaan. Jika dulu musuh utama bangsa adalah penjajah, maka kini tantangan terbesar datang dari dalam negeri sendiri, yakni kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan.
BACA JUGA : Revitalisasi Pasar Royal Kota Serang Dikebut
“Pahlawan masa kini adalah mereka yang berjuang melawan itu semua, dengan cara dan posisi masing-masing,” katanya.
Syaiful mencontohkan banyak sosok yang kerap luput dari sorotan publik namun berperan besar dalam kehidupan masyarakat.
“Guru di pelosok yang berjalan kaki jauh demi mendidik anak-anak, bidan desa yang mengarungi sungai demi menolong persalinan, atau ustaz kampung yang mengajarkan baca Al-Qur’an tanpa pamrih, mereka semua ya pahlawan,” ujarnya.
Ia menekankan, ciri utama seorang pahlawan sejati adalah tidak pamrih dan tidak menghitung imbalan.
BACA JUGA : Pengusaha Tambang Kecewa Tak Dilibatkan
“Kalau perjuangannya selalu dikaitkan dengan honor atau tunjangan, berarti belum memiliki jiwa kepahlawanan,” tegasnya.
Lebih jauh, Syaiful menilai semangat kepahlawanan perlu kembali ditanamkan, terutama bagi para pemimpin daerah dan pejabat publik.
“Bupati, gubernur, anggota dewan, wakil rakyat, semua harus punya jiwa kepahlawanan. Karena kepemimpinan sejati itu lahir dari semangat melayani, bukan mencari penghormatan,” katanya.
Lebih lanjut Syaiful mengatakan, Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali nilai perjuangan tanpa pamrih dalam setiap bidang kehidupan.
BACA JUGA : Empat Siswa MTsN 2 Cilegon Sabet Juara Silat Dandim Cilegon
“Pahlawan tidak butuh tepuk tangan, penghargaan, atau sorotan. Ia cukup dengan keyakinan bahwa perjuangannya membawa manfaat bagi banyak orang,” tandasnya. (raffi)







