Oleh: Dr Muhammad Wahyudin, SH, MH, Pembina Satuan Penegak Putra Pramuka UIN SMH Banten.
Menurut saya, arah baru yang mulai digaungkan dalam gerakan Pramuka di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta adalah sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda. Pramuka tidak boleh berhenti sebagai simbol kegiatan seremonial atau sekadar pelengkap organisasi kemahasiswaan. Ia harus bertransformasi menjadi gerakan yang benar-benar hidup, relevan, dan berdampak.
BACA JUGA: Ramadhan, Perjuangan, dan Kebangkitan Pemuda
Menurut saya, gagasan untuk menerbitkan jurnal ilmiah Pramuka adalah langkah yang sangat visioner. Selama ini, Pramuka di kampus sering kali terjebak dalam aktivitas teknis dan seremonial. Padahal, sebagai bagian dari lingkungan akademik, sudah semestinya Pramuka menjadi ruang produksi gagasan dan keilmuan. Jurnal ilmiah bukan hanya simbol intelektualitas, tetapi juga bukti bahwa Pramuka mampu berkontribusi dalam diskursus akademik dan sosial.
Saya juga melihat kebijakan bahwa anggota Pramuka yang aktif dalam pengabdian masyarakat tidak perlu lagi mengikuti program seperti KKN atau PPL sebagai bentuk pengakuan yang patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa pengabdian tidak harus selalu formalistik. Ketika seorang anggota Pramuka sudah terjun langsung membina desa atau sekolah, sesungguhnya ia telah menjalankan esensi pengabdian itu sendiri. Namun, yang perlu dijaga adalah kualitas dan keberlanjutan pengabdian tersebut, agar tidak sekadar menjadi alasan untuk menghindari kewajiban akademik.
BACA JUGA: Menguatkan Karakter Mahasiswa Calon Pendidik Berakhlak Mulia, Berbangsa dan Bernegara
Lebih jauh, saya sangat sepakat bahwa seluruh program Gugus Depan harus berdampak. Ini poin krusial. Sudah terlalu lama kegiatan Pramuka berhenti pada laporan kegiatan tanpa indikator manfaat yang jelas. Menurut saya, sudah saatnya setiap program memiliki ukuran keberhasilan yang konkret baik dari sisi peningkatan kapasitas anggota maupun manfaat nyata bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, saya juga melihat bahwa tuntutan agar anggota Pramuka menguasai kewirausahaan dan digitalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan individu yang disiplin dan berkarakter, tetapi juga adaptif dan inovatif. Jika Pramuka tidak mampu menjawab tantangan ini, maka perlahan akan kehilangan relevansinya di kalangan generasi muda.
Saya pribadi percaya bahwa alumni Pramuka memiliki potensi besar menjadi agen perubahan di masyarakat. Namun, potensi itu tidak akan berkembang tanpa ekosistem yang mendukung, termasuk kolaborasi lintas sektor. Oleh karena itu, semangat kolaborasi yang terus digaungkan harus benar-benar diwujudkan dalam program nyata, bukan sekadar wacana.
Selain itu, penguatan sistem pembinaan dan supervisi di tingkat Gugus Depan Perguruan Tinggi menurut saya juga sangat penting. Tanpa tata kelola yang baik, sulit mengharapkan adanya gerakan yang terarah dan berkelanjutan. Di sisi lain, apresiasi terhadap Pramuka berprestasi harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun regenerasi yang berkualitas.
Saya juga menilai bahwa pemanfaatan media sosial untuk mempublikasikan kegiatan Pramuka adalah langkah strategis. Di era digital, eksistensi organisasi sangat ditentukan oleh bagaimana ia mampu membangun narasi di ruang publik. Pramuka harus mampu menunjukkan bahwa ia bukan organisasi yang ketinggalan zaman, melainkan gerakan yang dinamis dan relevan.
Di tengah perubahan zaman, saya juga melihat bahwa tuntutan agar anggota Pramuka menguasai kewirausahaan dan digitalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan individu yang disiplin dan berkarakter, tetapi juga adaptif dan inovatif. Jika Pramuka tidak mampu menjawab tantangan ini, maka perlahan akan kehilangan relevansinya di kalangan generasi muda.
Lebih dari itu, saya ingin menegaskan bahwa generasi hari ini tidak boleh hanya dikenal sebagai generasi yang aktif di media sosial untuk sekadar joget, hiburan sesaat, atau konten yang minim nilai. Media sosial seharusnya menjadi alat produktif ruang untuk berbagi gagasan, mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan perubahan. Di sinilah peran strategis Pramuka: mengarahkan energi generasi muda agar tidak hanya eksis secara digital, tetapi juga hadir secara nyata dalam pembangunan masyarakat dan kemajuan bangsa.
Saya pribadi percaya bahwa alumni Pramuka memiliki potensi besar menjadi agen perubahan di masyarakat. Namun, potensi itu tidak akan berkembang tanpa ekosistem yang mendukung, termasuk kolaborasi lintas sektor. Oleh karena itu, semangat kolaborasi yang terus digaungkan harus benar-benar diwujudkan dalam program nyata, bukan sekadar wacana.
Selain itu, penguatan sistem pembinaan dan supervisi di tingkat Gugus Depan Perguruan Tinggi menurut saya juga sangat penting. Tanpa tata kelola yang baik, sulit mengharapkan adanya gerakan yang terarah dan berkelanjutan. Di sisi lain, apresiasi terhadap Pramuka berprestasi harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun regenerasi yang berkualitas.
Saya juga menilai bahwa pemanfaatan media sosial untuk mempublikasikan kegiatan Pramuka adalah langkah strategis. Di era digital, eksistensi organisasi sangat ditentukan oleh bagaimana ia mampu membangun narasi di ruang publik. Pramuka harus mampu menunjukkan bahwa ia bukan organisasi yang ketinggalan zaman, melainkan gerakan yang dinamis dan relevan.
Terakhir, optimalisasi SKU dan SKK yang diarahkan pada sertifikasi kompetensi menurut saya adalah salah satu terobosan penting. Ini menjadi bukti bahwa Pramuka tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga memberikan nilai tambah yang konkret dalam bentuk pengakuan keterampilan.
Pada akhirnya, menurut saya, Pramuka di perguruan tinggi sedang diuji: apakah akan tetap bertahan dalam pola lama, atau berani bertransformasi menjadi gerakan intelektual, sosial, dan profesional yang berdampak luas. Pilihan itu ada di tangan para pengelolanya. Namun satu hal yang pasti, masa depan Pramuka sangat ditentukan oleh keberanian generasinya untuk tidak sekadar tampil di layar, tetapi benar-benar bergerak nyata untuk kemajuan bangsa. ***




