Ruang Isolasi RSUD Kota Serang Dipenuhi Pasien TBC

Ruang Isolasi RSUD Kota Serang Dipenuhi Pasien TBC
MENUNGGU: Sejumlah pasien TBC tengah menunggu pelayanan di rumah sakit, Rabu (25 Februari 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Ruang isolasi di RSUD Kota Serang penuh dengan pasien tuberkulosis (TBC). Kondisi tersebut terjadi karena lonjakan pasien TBC.

Berdasakan data yang diperoleh tenaga surveilans dan promosi kesehatan (promkes) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, ada 4.343 warga yang terkena TBC.

Direktur RSUD Kota Serang Ahmad Humariyadi mengatakan, pasien TBC memerlukan penanganan khusus, mengingat TBC adalah penyakit menular melalui udara yang membutuhkan tekanan negatif.

Humariyadi mengatakan, ada enam pasien TBC yang membutuhkan isolasi atau rawat inap di RSUD Kota Serang.

BACA JUGA : Yandri Tegaskan Stop Ekspansi Ritel Modern

“Saat ini sudah ada 6 pasien yang kita rawat diisolasi dan komplikasi. Sifatnya adalah kita menerima rujukan dari semua FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) yang ada di Kota Serang,” ujar Humariyadi, Rabu (25 Februari 2026).

Ia menjelaskan, enam pasien TBC yang dirawat di RSUD Kota Serang itu berasal dari Kota Serang.

Menurutnya, enam pasien TBC yang di ruang isolasi mengalami peningkatan dibanding hari biasanya.

“Semuanya usianya dewasa, jumlahnya meningkat. Biasanya kadang 2 sampai 3 orang. Ini full semua,” katanya.

BACA JUGA : Walikota Serang Budi Rustandi Serahkan Bantuan Atensi Kemensos Bagi Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat 

Ia menjelaskan, ruang isolasi di RSUD Kota Serang hanya menyiapkan enam bed. “Kan kita beda. Dia khusus isolasi.

Kita punya isolasi cuma ada 6 bed. Beda dengan rawat inap. Rawat inap secara umum. Kalau ini kan khusus isolasi,” jelas Humariyadi.

Bila ada pasien TBC baru membutuhkan perawatan di ruang isolasi, maka pihaknya akan mengarahkan untuk dirujuk ke rumah sakit lain.

“Ya kita saat ini hanya mampu menampung 6 bed. Paling dirujuk ke rumah sakit yang lain yang ada di Kota Serang,” kata dia.

BACA JUGA : Pemprov Ancam Cabut Izin Pedagang

Humariyadi mengaku pihaknya tidak bisa memprediksi berapa lama pasien TBC dirawat di ruang isolasi.

“Tidak bisa diprediksi. Tergantung nanti progres dari daya tahan pasien tersebut dan sejauh mana komplikasinya,” katanya.

Namun, ia memastikan bahwa penanganan setiap pasien TBC sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Penanganan sesuai dengan SOP diisolasi atau dipisah dengan pasien yang lain. Misalnya dirawat, diobatkan sesuai dengan SOP TB, nanti apa komplikasinya itu diobati komplikasinya,” tandas dia. (harir)

Pos terkait