50 Ribu Warga Banten Terindikasi TBC, Kabupaten Tangerang Tertinggi

WhatsApp Image 2025 08 28 at 20.14.07
Gubernur Banten bersama 6 Kepala Daerah Provinsi lain saat membacakan komitmen percepatan penanganan TBC dalam Rapat Forum Delapan Gubernur Percepatan Eliminasi Penyakit di Gedung Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri RI, Jakarta, Selasa, 26 Agustus 2025.

BANTENRAYA.CO.ID – Sebanyak 50.298 warga Banten terindikasi menderita tuberkulosis atau TBC.

Dari jumlah tersebut, 9.708 di antaranya adalah anak-anak.

Angka ini menempatkan Banten sebagai salah satu daerah dengan beban kasus cukup tinggi di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, kasus TBC tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Berdasarkan data yang dihimpun Banten Raya dari Dinkes Banten menunjukkan, Kabupaten Tangerang mencatat jumlah tertinggi dengan 11.881 kasus, disusul Kota Tangerang 8.930 kasus, Kabupaten Serang 7.612 kasus, dan Kabupaten Pandeglang 5.933 kasus.

BACA JUGA:Ribuan Warga Pandeglang Menderita TBC

Sementara di Kabupaten Lebak tercatat 6.027 kasus, Tangerang Selatan 4.909 kasus, dan Kota Cilegon 1.826 kasus.

“Jumlah ini tentu menjadi perhatian serius. Karena itu, pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota tengah mengimplementasikan enam strategi percepatan eliminasi TBC,” ujar Ati, Kamis, 28 Agustus 2025.

Strategi pertama, kata Ati, adalah penguatan komitmen kepala daerah. Dalam 100 hari kerja, seluruh bupati dan wali kota bersama gubernur menandatangani komitmen percepatan eliminasi TBC yang ditindaklanjuti dengan berbagai regulasi.

“Jadi kemarin start di 100 hari kerja seluruh Bupati Wali Kota bersama dengan Gubernur berkomitmen untuk percepatan eliminasi TBC. Kemudian membuat regulasi-regulasi, serta menyempurnakan regulasi yang ada,” jelasnya.

BACA JUGA: 189 Pasien TBC di Kabupaten Serang Mangkir Saat Dilakukan Pengobatan

Ati menuturkan, strategi kedua adalah peningkatan akses layanan kesehatan yang berpihak pada pasien. Layanan TBC diperkuat di fasilitas primer, sekunder, hingga jemput bola ke pelosok daerah.

“Provinsi Banten ada mobile clinic yang selalu ke daerah-daerah pelosok untuk melakukan cek atau screening dari TBC,” katanya.

Selanjutnya, kata Ati, mencakup promosi dan pencegahan, termasuk terapi pencegahan bagi kontak erat serta pengendalian infeksi. Strategi keempat, penguatan peran komunitas, mitra, dan lintas sektor, seperti lembaga pendidikan hingga perusahaan.

Sementara itu, Ati menjelaskan, strategi kelima difokuskan pada pemanfaatan hasil riset dan teknologi, seperti penggunaan portable X-ray dan mobile klinik untuk mendeteksi kasus aktif.

BACA JUGA: Pemkab Serang Gotong Royong dengan NGO Penabulu Elimininasi Kasus TBC

Terakhir, strategi keenam adalah penguatan manajemen program melalui pemenuhan SDM, logistik, hingga pencatatan dan pelaporan real time di semua fasilitas kesehatan.

Menurut Ati, pelibatan berbagai pihak menjadi kunci. “Klinik maupun rumah sakit swasta juga dilibatkan. Semua pihak harus bergerak. Tanpa kolaborasi, sulit mencapai target eliminasi 2030,” tegasnya.

Sementara itu, sebelumnya, Gubernur Banten Andra Soni menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk melakukan percepatan eliminasi TBC telah menjadi perhatian serius pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota.

Hal ini juga ditegaskan dalam forum delapan gubernur di Jakarta beberapa waktu lalu yang dihadiri langsung oleh pemerintah pusat.

BACA JUGA: Puluhan Warga Meninggal Dunia Akibat TBC dan AIDS

“Alhamdulillah, Provinsi Banten mendapatkan apresiasi atas capaian kinerjanya dalam penanganan tuberkulosis. Tapi tentu masih banyak yang harus kita lakukan, karena Indonesia saat ini menduduki posisi kedua di dunia untuk kasus TBC,” kata Andra.

Sebagai tindak lanjut, Andra menyebut pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan delapan kabupaten/kota di Banten untuk menyusun dan mengoptimalkan Rencana Aksi Daerah atau RAD percepatan eliminasi TBC.

“Alhamdulillah, delapan kabupaten/kota juga sudah menyatakan dukungannya untuk langkah-langkah percepatan ini,” ujarnya.

Dukungan percepatan eliminasi TBC juga datang dari pemerintah pusat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta kepala daerah di seluruh Indonesia untuk lebih serius menjalankan program ini.

BACA JUGA: Pendapatan Daerah Dipatok Rp12,35 Triliun

“Kepala daerah harus menggunakan otoritasnya dan mengerahkan sumber dayanya untuk penanganan TBC,” kata Tito.(Raffi)***

Pos terkait