BANTENRAYA.CO.ID – Nama STM Hasanuddin pernah begitu digdaya sebagai salah satu sekolah teknik swasta paling bergengsi, dan menjadi primadona di Kota Serang pada era 1980-an.
Selain kualitas pendidikan, sekolah teknik bergengsi di Kota Serang ini populer berkat kedisiplinan kerasnya yang membentuk karakter siswa.
Namun kini, nama STM Hasanuddin memang sudah tidak lagi digunakan. Seiring perubahan regulasi pendidikan kejuruan dari Sekolah Menengah Ekonomi (SME) dan Sekolah Teknik Menengah (STM) menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Lembaga pendidikan tersebut dilebur menjadi SMK Hasanuddin 2 yang berlokasi di seberang Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
BACA JUGA : M. Ibra Gholibi, Jagokan Spanyol di Piala Dunia 2026
Sementara gedung lama STM Hasanuddin kini digunakan sebagai kampus FKIP Untirta.
Pelaksana Tugas Kepala SMK Hasanuddin 2, Muhamad Juhyani, mengatakan sejak era 1980-an STM Hasanuddin merupakan sekolah legendaris dengan jumlah siswa paling banyak di Kota Serang.
Para siswanya berasal dari berbagai daerah mulai dari Bojonegara, Kabupaten Serang; Kota Serang, hingga Balaraja dan Mauk, Kabupaten Tangerang.
“Dulu ada STM Hasanuddin 1 yang fokus pada bidang teknologi dengan jurusan mesin dan listrik, sedangkan STM Hasanuddin 2 fokus di bidang bisnis dan manajemen. Setelah regulasi berubah, semuanya dilebur menjadi SMK Hasanuddin 2,” kata Juhyani.
BACA JUGA : DLH Ambil Sempel Air Sungai Ciujung yang Menghitam
Bagi Juhyani yang juga merupakan alumni STM Hasanuddin, masa sekolah menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ia mengenang bagaimana para guru menerapkan disiplin yang sangat keras kepada para siswa.
“Dulu kalau terlambat atau tidak mengerjakan PR ya digaplok guru. Ada juga hukuman lari atau push up. Tapi kami tidak sakit hati karena memang merasa bersalah.
Justru sekarang kami merasakan manfaatnya. Disiplin itu membentuk karakter dan membuat kami lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, pola pendidikan yang tegas kala itu menghasilkan lulusan yang memiliki kedisiplinan tinggi dan bekal pengetahuan yang kuat.
Hal ini berbeda dengan pola pendidikan saat ini di mana guru tidak bisa asal memberikan sanksi kepada siswa meskipun dengan alasan kedisiplinan.
“Output-nya benar-benar terasa. Kami dididik keras, tetapi hasilnya kami rasakan sampai sekarang, baik dari sisi kedisiplinan maupun pemahaman ilmu,” tuturnya.
Selain terkenal dengan kedisiplinan, STM Hasanuddin juga memiliki fasilitas praktik yang lengkap pada masanya.
Kondisi tersebut membuat sekolah ini menjadi pilihan utama masyarakat meski berstatus swasta dan memungut biaya pendidikan.
BACA JUGA : DLH Ambil Sempel Air Sungai Ciujung yang Menghitam
Juhyani mengungkapkan, jumlah siswa saat itu bahkan mampu menembus sekitar 1.000 orang. Dalam satu angkatan saja terdapat sekitar 300 siswa.
“Dulu sekolah swasta justru menjadi pilihan masyarakat karena kualitas pendidikan dan kedisiplinannya. Fasilitas pembelajaran juga lengkap, bahkan saat itu banyak sekolah negeri yang belum seperti kami,” katanya.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah setelah Pemerintah Provinsi Banten menerapkan kebijakan sekolah negeri gratis pada masa kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Andika Hazrumy.
Seiring berjalannya waktu, fasilitas sekolah negeri juga terus ditingkatkan melalui dukungan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Akhirnya, orang tua lebih memilih sekolah negeri gratis ketimbang swasta.
BACA JUGA : Pengusaha Enggan Pasok Batu Bara
“Sejak sekolah negeri gratis dan fasilitasnya semakin lengkap, masyarakat mulai bergeser memilih sekolah negeri. Sejak itu sekolah swasta kehilangan siswa bahkan tutup,” ucapnya.
Meski begitu, nama besar STM Hasanuddin tetap dikenang melalui para alumninya yang berhasil berkiprah di berbagai bidang.
Selain Juhyani yang kini memimpin SMK Hasanuddin 2, sekolah tersebut juga melahirkan tokoh seperti Ranta Suharta yang pernah menjabat Sekda Provinsi Banten serta almarhum Jayeng Raya yang merupakan politisi kawakan PDI Perjuangan Provinsi Banten.
Juhyani juga mengakui kehidupan pelajar STM pada masa itu tidak lepas dari fenomena tawuran antarsekolah yang sempat marak.
BACA JUGA : Kemendiktisaintek Tetapkan MA Sekolah Unggulan Garuda Transformasi
Walaupun secara pribadi Juhyani tidak pernah sekalipun ikut dalam tawuran karena selain bersekolah dia juga mondok di salah satu pesantren salafi di Kota Serang.
“Dulu memang sering terjadi tawuran dengan STM PGRI 1 atau STM Setia Budhi Rangkasbitung. Itu memang menjadi bagian dari dinamika kehidupan sekolah pada masa itu, meskipun tentu bukan sesuatu yang patut ditiru,” katanya.
Meski zaman telah berubah, Juhyani berharap semangat kedisiplinan, kualitas pembelajaran, dan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar STM Hasanuddin tetap diwariskan kepada generasi penerus melalui SMK Hasanuddin 2, sehingga nama besar sekolah legendaris tersebut tetap hidup di tengah perkembangan pendidikan kejuruan di Banten. (tohir)





