BANTENRAYA.CO.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami erupsi sejak 2 September 2026.
Aktivitas tersebut memicu kepulan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, bahkan hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.
Diketahui, Letusan Gunung Krakatau terdahsyat tercatat terjadi pada 1883. Suara letusannya terdengar hingga Australia atau sekitar 2.200 kilometer.
Letusan tersebut juga memicu gelombang tsunami setinggi 40 meter yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra, dengan sedikitnya 36.000 orang meninggal dunia.
BACA JUGA : Hari Pelanggan Nasional 2026, bank bjb Hadir untuk Layanan yang Setara dan Berkelanjutan
Setelah 44 tahun tidak aktif, pada 1927 muncul aktivitas vulkanik dari bekas kaldera Krakatau 1883. Gunung baru kemudian tumbuh dari dasar laut dan dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Sejak kemunculannya, GAK terus tumbuh dan mengalami erupsi hampir setiap tahun. Salah satu erupsi terjadi pada 22 Desember 2018, ketika longsoran tubuh gunung ke laut memicu tsunami di Selat Sunda.
Peristiwa tersebut menyebabkan ratusan orang meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, dan puluhan ribu warga mengungsi.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Aktivitasnya mencapai puncak pada 4 September 2026, ketika erupsi berlangsung tanpa henti dan mengeluarkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah.
BACA JUGA : Bupati Copot Kepala SDN 1 Rangkasbitung Timur
Petugas Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) yang enggan disebutkan namanya mengatakan, jika erupsi GAK kali ini tergolong cukup besar.
Namun, ia tidak dapat membandingkannya dengan erupsi yang terjadi pada periode-periode sebelumnya.
“Enggak bisa bilang terdahsyat karena kejadiannya berbeda. Yang terdahsyat itu masih tahun 1883.
Nanti kalau kita bilang ini paling dahsyat dari 2018 ya nanti ada kesalahan,” katanya saat ditemui di pos Pemantau GAK, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Minggu (6 September 2026).
BACA JUGA : PMI Banten Kirim Nakes ke NTT Bantu Pengungsi
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, aktivitas GAK terpantau mengalami penurunan.
Namun, kondisi tersebut belum dapat menjadi indikasi bahwa erupsi akan segera berhenti. Pemantauan tetap dilakukan selama 24 jam guna mengantisipasi setiap perubahan aktivitas.
“Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor bahwa menurun aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tetapi menurunnya itu bukan berarti bahwa ini akan berhenti aktivitasnya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi,” katanya.
PVMBG memastikan hasil pemantauan akan terus dikomunikasikan kepada pemerintah daerah apabila terjadi perubahan rekomendasi. Rita menjelaskan, sebaran abu vulkanik tidak bersifat tetap karena sangat dipengaruhi oleh arah angin.
BACA JUGA : bank bjb Raih Dua Penghargaan OJK di Puncak Hari Indonesia Menabung 2026
“Arah abu ini akan mengikuti arah angin. Untuk tanggal 6 ini arah abu mengarah wilayah barat, ke Selat Sunda dan ke Samudra Indonesia. Jadi kita mungkin merasakan.
Dan sekali lagi untuk arah abu ini akan sampai tergantung kepada arah angin. Jadi bisa berubah-ubah setiap hari,” tambahnya.
Untuk memantau arah angin dan pergerakan abu vulkanik, PVMBG bekerja sama dengan BMKG serta menggunakan data dari sejumlah stasiun pemantauan di Australia.
Sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian terhadap keselamatan penerbangan.
BACA JUGA : bank bjb Raih Dua Penghargaan OJK di Puncak Hari Indonesia Menabung 2026
“Abu ini juga akan mempengaruhi penerbangan. Ada informasi untuk penerbangan yang bisa terus-menerus dipantau oleh aviasi penerbangan untuk memastikan keselamatan penerbangan,” jelasnya.
Rita mengungkapkan, perubahan status Gunung Anak Krakatau tidak hanya ditentukan oleh besar atau kecilnya erupsi, tetapi juga mempertimbangkan ancaman yang ditimbulkan terhadap masyarakat.
“Kenapa Anak Krakatau ini rekomendasinya 3 km? Karena erupsi terus-menerus dan kita tenggarai akan mengancam kepada masyarakat yang sering beraktivitas di sekitarnya.
Untuk gunung itu kita tidak bisa memastikan kapan erupsinya. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya,” ungkapnya.
BACA JUGA : Wakil Walikota Cilegon Tekankan Etika Bermedsos dan Pemanfaatan AI
Rita juga mengakui terdapat sejumlah alat pemantauan yang mengalami kerusakan. Namun, kondisi tersebut dipastikan tidak mengurangi kualitas pemantauan karena masih terdapat stasiun lain yang dapat digunakan untuk menunjang pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Ini kami pastikan saling menunjang satu sama lain. Masih bisa kita lakukan pemantauan. Setelah reda, kami akan memperbaiki alat-alat yang memang rusak,” tuturnya.
Ditempat yang sama, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Ajat Sudrajat mengatakan, saat ini telah terpasang 12 unit Early Warning System (EWS) tsunami di wilayah Kabupaten Serang.
“Dari EWS yang ada tidak ada indikator kejadian anomali di permukaan laut. Jadi tidak berbunyi,” katanya.
BACA JUGA : Lima Siswa SMA IT Bina Insansi Berjuang di ISFO 2026
Terkait pemicu erupsi, Ajat menyebut aktivitas tersebut merupakan faktor alamiah. Gunung Anak Krakatau diketahui kembali aktif setelah cukup lama beristirahat sejak erupsi pada 2018.
“Kalau pemicu itu kan sudah alami. Kalau dilihat dari sejarahnya terakhir di tahun 2018. Itu sebetulnya sudah lama tidur Gunung Anak Krakatau. Dan itu tidak bisa dipastikan,” katanya.
Menurut Ajat, hingga saat ini belum terlihat indikator yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang cukup besar sehingga status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
“Tapi kalau sudah nanti naik level ke level awas kita pun harus sampaikan. Dan pada titik terakhir kalau yang sangat-sangat membahayakan itu baru perlu adanya evakuasi,” jelasnya. (andika)





