BANTENRAYA.CO.ID – Pelaksanaan bazar murah Ramadan yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) menuai sejumlah keluhan dari warga.
Program yang diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau justru dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, baik dari sisi harga maupun pengelolaan antrean.
Pantauan Banten Raya di lokasi pada Selasa (10 Maret 2026), ratusan warga memadati area bazar untuk membeli sejumlah komoditas kebutuhan pokok seperti minyak goreng, telur, cabai, dan beras.
Namun di tengah antrean panjang tersebut, sejumlah aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Banten juga terlihat ikut mengantre bersama masyarakat.
Para ASN bahkan tampak berada dalam antrean minyak goreng yang penebusannya menggunakan kupon yang disediakan panitia.
Kondisi tersebut membuat antrean semakin padat dan memicu keluhan dari sebagian warga yang merasa harus berdesakan untuk mendapatkan bahan kebutuhan pokok.
Iyah, warga Curug, Kota Serang, mengaku harga komoditas yang dijual di bazar tersebut tidak jauh berbeda dengan harga yang biasa ditemui di pasar.
“Gak terlalu murah juga, menurut saya sih standar aja, harga pasar biasa. Bukan pasar murah, biasa harganya biasa-biasa semua. Bedanya cuma beda gope, beda seribu,” ujar Iyah saat ditemui di lokasi bazar.
BACA JUGA : Eksploitasi Tambang Pemicu Banjir
Ia menyebutkan harga telur di bazar dipatok sekitar Rp27.000 per kilogram, sedangkan cabai dijual sekitar Rp35.000 per kilogram.“Telur sama cabe juga beda dikit,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Suheri yang gagal mendapatkan paket sembako murah dari Bank Indonesia karena padatnya antrean dan berdesakan dengan para ibu-ibu.
Padahal, ia mengaku berharap bisa mendapatkan paket sembako murah tersebut karena harganya yang sangat terjangkau.
“Pengennya mah dapet, kan lumayan cuma satu rupiah. Tapi yaudahlah, paling ngantre minyak aja. Rebutan sama ibu-ibu, gak sanggup saya,” katanya.
Tak hanya itu, Suheri juga menilai jika paket sembako yang dijual dalam bazar tahun ini tidak selengkap pada penyelenggaraan sebelumnya.
Menurutnya, selisih harga yang hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp1.500 tidak sebanding dengan kondisi antrean panjang dan sistem kupon yang dinilai cukup menyulitkan.
“Ya kalau dari harga bedanya paling Rp1.500. Terus minyak juga Rp30 ribu 2 liter, tapi pakai kupon. Untung sih udah dapet nih,” ujarnya.
Ia juga menyoroti antrean yang semakin padat karena adanya ASN yang ikut berbelanja di bazar tersebut.
“Yang pasti kesel, orang antrinya panjang, orang ASN pada ikutan juga,” katanya.
BACA JUGA : Pekerja dan Ojol Bisa Lapor Jika Tak Dapat THR
Meski demikian, warga mengakui bazar Ramadan tetap memberikan sedikit bantuan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dapur selama bulan puasa.
Namun mereka berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap mekanisme pelaksanaannya agar program tersebut lebih tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Iwan Hermawan, mengatakan pihaknya tidak dapat sepenuhnya melarang ASN untuk ikut berbelanja dalam bazar murah tersebut.
“Ya, kita tidak bisa hindari ya. Karena ASN juga kan mungkin sama mempunyai kebutuhan yang lain. Tetapi untuk kupon itu kita sebar ke masyarakat melalui RTRW,” kata Iwan.
BACA JUGA : Tol Tamer Bakal Diberlakukan Ganjil Genap
Ia menjelaskan kupon untuk pembelian minyak goreng murah sebagian besar telah dibagikan kepada masyarakat melalui pengurus RT dan RW di lingkungan masing-masing.
Kupon yang tersedia di lokasi bazar hanya disiapkan dalam jumlah terbatas untuk mengantisipasi masyarakat yang belum mendapatkannya di tingkat lingkungan.
“Yang di sini hanya sebagian kecil saja untuk mengantisipasi masyarakat yang memang tidak kebagian di tingkat RTRW. Kupon juga kita titipkan di masing-masing dinas untuk tenaga pengamanan dan tenaga kebersihan,” ujarnya.
Selain itu, panitia juga menyalurkan paket sembako gratis secara simbolis kepada sejumlah penerima manfaat seperti petugas kebersihan serta pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Bantani.
BACA JUGA : Jalan Berlubang Ancam Keselamatan Pemudik
Terkait harga komoditas yang dijual di bazar, Iwan memastikan bahan pangan tersebut berasal langsung dari distributor maupun produsen agar harga yang ditawarkan dapat lebih rendah dibandingkan harga di pasar.
“Terdiri dari distributor, agen maupun langsung dari produsen. Jadi harganya juga itu harga produsen, bukan lagi harga distributor. Jadi terpangkas rantai pasoknya,” jelasnya.
“Kaya minyak itu kita sediakan 3000 liter ya, itu langsung dari distributor dari PT Sinarmas Land,” tambahnya.
Iwan menilai pelaksanaan bazar murah tersebut telah berjalan sesuai dengan konsep yang direncanakan, yakni menyediakan bahan pangan dengan harga lebih rendah dari pasar sekaligus membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga selama Ramadan.
BACA JUGA : Transparansi Keuangan Publik: Mengapa Laporan Pemerintah Jarang Dipahami?
“Dan ini memang sudah sesuai dengan konsep kita, Bazar Pasar Murah. Dan alhamdulillah tadi masyarakat antusias, sebelum kita buka secara resmi oleh Pak Gubernur jam 10, jam 8 itu sudah ada yang mulai belanja,” kata Iwan. (raffi)





