BANTENRAYA.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat inflasi secara tahunan sebesar 2,76 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,51 pada Oktober 2026.
Cabai menjadi salah satu komoditas pangan yang memicu laju inflasi di Banten.
Kepala BPS Provinsi Banten Yusniar Juliana menyampaikan, laju inflasi bulanan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,20 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun berjalan berada di angka 1,81 persen.
“Pada Oktober ini, cabai rawit menyumbang andil inflasi tertinggi sebesar 0,10 persen, disusul cabai merah, tomat, kemudian mesin sigaret, dan ketimun,” kata Yusniar dalam siaran resmi BPS Banten, Senin (2 November 2026).
BACA JUGA : Klaim Asuransi KMP Batu Mandi Jelimet
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Banten di lima kabupaten dan kota, pada Oktober 2026 terjadi inflasi tahunan sebesar 2,76 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 108,51 pada Oktober 2025 menjadi 111,51 pada Oktober 2026.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni mencapai 1,24 persen dengan tingkat inflasi kelompok sebesar 3,85 persen,” jelasnya.
Perkembangan harga pasar lokal turut mempengaruhi pergerakan inflasi ini, kenaikan harga cukup signifikan terjadi pada komoditas cabai rawit yang mengalami lonjakan harga berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram berdasarkan data dari UPTD Pasar Baru, Kota Cilegon.
Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis cabai rawit besar, dari Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.
Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit ini tercatat menjadi salah satu pendorong utama andil inflasi bulanan maupun tahunan di Banten.
Berdasarkan wilayah pemantauan IHK di lima kabupaten dan kota se-Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang mencatatkan tingkat inflasi tahunan sebesar 3,95 persen dengan IHK 112,50.
“Sementara itu, Kota Cilegon mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,03 persen dengan IHK 112,39 dan inflasi bulanan sebesar 0,21 persen. Inflasi terendah di Provinsi Banten terjadi di Kota Tangerang sebesar 2,13 persen,” kata Yusniar. (raden)





