Pembelajaran Mendalam Belum Sentuh Persoalan Mendasar Pendidikan

Pembelajaran Mendalam Belum Sentuh Persoalan Mendasar Pendidikan
Seorang guru SMAN Baros, Kabupaten Serang Tatjeri saat mengajar di kelas, Jumat (30 Oktober 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Penerapan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah dinilai belum menyentuh persoalan mendasar pendidikan.

Pengamat pendidikan Universitas Bina Bangsa (Uniba) Hilman menilai, pemerintah masih berisiko terjebak pada pergantian istilah dan penamaan metode pembelajaran, sementara kemampuan siswa dalam memahami materi dan menerapkannya dalam kehidupan nyata belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Hilman mengatakan, pembelajaran mendalam seharusnya tidak dipahami sebatas nama pendekatan yang melekat pada periode kepemimpinan nasional.

Hal terpenting adalah bagaimana siswa memperoleh pemahaman yang utuh, mampu berpikir kritis, serta menghubungkan pengetahuan dengan persoalan sehari-hari.

BACA JUGA : Klaim Asuransi KMP Batu Mandi Jelimet

“Kita terjebak pada penamaan kurikulum yang menandakan satu periode kepemimpinan nasional.

Padahal, yang paling penting dari pembelajaran mendalam adalah bagaimana siswa mendapatkan pemahaman yang benar-benar mendalam,” kata Hilman, Minggu (1 November 2026).

Menurut dia, capaian pendidikan perlu dilihat melalui hasil asesmen, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Programme for International Student Assessment (PISA) dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran berhasil membangun kompetensi siswa.

BACA JUGA : Budi Rustandi Puji Semangat Gotong Royong Warga Gelam Bangun Gapura

Hilman menilai, persoalan kemampuan memahami bacaan masih menjadi tantangan. Siswa tidak cukup hanya memiliki ketertarikan terhadap kegiatan membaca, tetapi juga harus mampu menangkap isi bacaan, mengolah informasi, dan menarik kesimpulan.

“Minat membaca saja tidak cukup. Siswa harus memiliki kemampuan memahami apa yang dibaca, menangkap persoalan, dan menggunakan informasi tersebut untuk membangun pengetahuan,” ujarnya.

Hasil PISA 2022 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan, kemampuan membaca siswa Indonesia masih menghadapi tantangan.

Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai minimal Level 2 dalam literasi membaca.

BACA JUGA : Dicicil Hingga 2029, Jamkrida Disuntik Rp160 Miliar

Pada level tersebut, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan tingkat kesulitan sedang dan mengidentifikasi informasi berdasarkan kriteria tertentu.

Sementara itu, pemerintah mendefinisikan Pembelajaran Mendalam sebagai pendekatan yang menekankan proses belajar berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Pendekatan ini mendorong siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata melalui proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Hilman menilai, pendekatan tersebut pada dasarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Pembelajaran yang mengaitkan materi dengan situasi kehidupan sehari-hari telah dikenal dalam berbagai pendekatan pendidikan sebelumnya.

BACA JUGA : Budi Rustandi Puji Semangat Gotong Royong Warga Gelam Bangun Gapura

“Pembelajaran mendalam itu pada intinya pembelajaran yang diaktualisasikan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Jadi, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi memahami dan mampu menerapkannya dalam situasi nyata,” jelasnya.

Ia juga menyoroti belum meratanya infrastruktur pendidikan sebagai salah satu faktor yang bisa jadi menghambat penerapan pendekatan tersebut.

Ketersediaan fasilitas, kualitas tenaga pendidik, dan dukungan lingkungan belajar di setiap daerah tidak selalu sama.

Karena itu, menurut Hilman, pemerintah perlu memastikan kesiapan sekolah sebelum menuntut penerapan pembelajaran mendalam secara optimal.

BACA JUGA : Kota Serang Dapat Bantuan Bus Sekolah di 2027

Evaluasi juga harus diarahkan pada perubahan kemampuan siswa, bukan sekadar memastikan pendekatan tersebut tercantum dalam perangkat pembelajaran.

“Jangan sampai kita hanya mengganti istilah atau metode, tetapi persoalan mendasar seperti kualitas pembelajaran dan pemerataan fasilitas pendidikan tidak terselesaikan,” tegasnya.

Menurut Tatjeri, salah seorang guru di SMAN Baros, Kabupaten Serang, pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning sebetulnya bukan sesuatu yang baru.

Yang dituntut oleh pembelajaran mendalam bahwa pembelajaran di sekolah harus berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sudah dilakukan oleh para guru.

BACA JUGA : Lima Petinggi Polda Banten Diganti

“Sudah sejak lama saya menerapkan pembelajaran semacam itu,” katanya.

Namun karena istilah ini merupakan istilah baru yang digunakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, maka seolah-olah seperti sesuatu yang baru.

Karena menganggap ini adalah hal baru, para guru pun, termasuk dirinya, diberikan pelatihan selama kurang lebih satu Minggu untuk mendapatkan materi tentang deep learning. (tohir)

Pos terkait