BANTENRAYA.CO.ID – Lima siswa perempuan di Sekolah Khusus Anak Mandiri, Kota Serang, Banten, yang mengenakan celemek merah tampak asyik beraktivitas di dapur.
Ada yang memegang adonan, mengaduk sambal kacang, hingga memasukkan adonan ke dalam wajan berisi minyak. Siang itu, mereka sedang belajar memasak batagor didampingi seorang guru perempuan.
Ketika Christiana Young menyapa mereka dengan ramah, beberapa siswa membalas sapaannya. “Kalian masak apa?” tanya Christiana. Seorang siswa langsung menjawab bahwa mereka sedang memasak batagor.
Christiana kemudian meminta batagor yang telah matang dan mencicipinya bersama sambal kacang. Suasana dapur pun berlangsung akrab.
BACA JUGA : Golden Tulip Essential Hotel, Strategis dan Ramah Keluarga
Para siswa terlihat menikmati kegiatan yang bukan sekadar praktik memasak, tetapi juga bagian dari proses belajar keterampilan hidup.
Itulah salah satu aktivitas di Sekolah Khusus Anak Mandiri. Christiana Young merupakan Ketua Yayasan Anak Mandiri Banten, sebuah lembaga yang menaungi Sekolah Khusus Anak Mandiri dan Akademi Anak Mandiri.
Yayasan Anak Mandiri Banten menyelenggarakan layanan pendidikan mulai jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA melalui Sekolah Khusus Anak Mandiri yang telah memperoleh akreditasi A.
Yayasan ini juga mengembangkan pendidikan tinggi melalui Akademi Anak Mandiri.
BACA JUGA : 6 SMA Terapkan Pembelajaran Pakai AI
Di balik berdirinya lembaga tersebut, ada pengalaman pribadi Christiana dalam mendampingi anaknya yang autistik.
Setelah mempelajari perkembangan anak berkebutuhan khusus, Christiana bersama keluarga memutuskan mendirikan sekolah sendiri agar anaknya mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan dan target perkembangan yang telah dirancang.
“Saya kebetulan punya anak yang autistik dengan diagnosis PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified),” katanya, Jumat (30 Oktober 2026).
Sekolah Khusus Anak Mandiri berdiri pada 2008. Pada awal pendiriannya, sekolah ini memiliki empat siswa, yakni anak Christiana dan tiga anak dari koleganya.
BACA JUGA : Masduki Pimpin PAPPRI Cilegon, Janji Semarakkan Hari Musik Nasional
Saat itu, tujuh guru terlibat dalam memberikan pendampingan kepada para siswa.
Christiana mengaku, saat itu layanan pendidikan bagi anak autistik belum seperti sekarang.
Ia juga memiliki pendekatan dan target penanganan tersendiri yang ingin diterapkan kepada anaknya. Karena itu, ia memilih membangun lembaga pendidikan sendiri sekaligus menyusun rencana pendidikan individual bagi setiap anak.
“Pada saat itu autistik sangat sulit ditangani, tidak seperti sekarang. Saya mencari sekolah yang ada, tetapi kami punya misi dan target sendiri bagaimana penanganan anak autistik.
BACA JUGA : 300 PNS Kabupaten Serang Pensiun
Maka, kami bikin saja lembaga sendiri. Kami susun juga education plan untuk setiap anak,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Sekolah Khusus Anak Mandiri kini memiliki 61 siswa dan didukung 25 guru.
Untuk memastikan pendampingan berjalan optimal, Christiana menerapkan aturan jumlah siswa yang ditangani setiap guru.
Satu guru maksimal mendampingi tiga anak. Bahkan, untuk siswa dengan kebutuhan pendampingan lebih intensif, satu guru dapat menangani satu anak.
BACA JUGA : Masduki Pimpin PAPPRI Cilegon, Janji Semarakkan Hari Musik Nasional
“Satu guru maksimal menangani tiga anak. Bahkan ada juga satu guru menangani satu anak.
Pada anak-anak dengan kasus yang berat harus ditangani oleh satu guru. Namun, setelah bisa berkembang, mereka bisa disatukan dengan anak lainnya,” jelas Christiana.
Terkait biaya pendidikan, Christiana mengatakan, pihak yayasan menyesuaikannya dengan kondisi ekonomi keluarga siswa.
Ada siswa yang mendapatkan beasiswa penuh, beasiswa parsial, hingga keluarga yang mampu berkontribusi sesuai kemampuannya.
BACA JUGA : Gunung Karang, Destinasi Wisata Alam Memukau
Ia juga berkomitmen membuka kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus dari berbagai daerah untuk mendapatkan layanan pendidikan dan pendampingan di sekolah tersebut.
Meski anaknya kini telah menyelesaikan pendidikan di akademi, hidup mandiri, bahkan berwirausaha, Christiana tetap melanjutkan pengelolaan sekolah.
Baginya, pengalaman mendampingi anak sendiri menjadi alasan untuk membantu keluarga lain yang menghadapi perjalanan serupa.
Ia ingin yayasan yang dibangunnya dapat menjadi mitra bagi keluarga dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan untuk berkarya dan berdaya.
BACA JUGA : Dua Siswi MIN 1 Serang Juara Olimpiade IPAS dan Bahasa Arab
“Harapan ke depan, anak berkebutuhan khusus dapat diterima dan didukung masyarakat supaya mereka bisa berkarya dan berdaya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Khusus Anak Mandiri dan Akademi Anak Mandiri Hesty Kurniawati mengatakan, pembelajaran di sekolah lebih menekankan pada pembentukan kemandirian siswa.
Para siswa dibekali berbagai keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Materi pembelajaran tersebut antara lain bina diri, keterampilan hidup (life skill), memasak (cooking), merawat diri, merawat lingkungan, berbelanja, vokasi, keterampilan, hingga prakarya.
BACA JUGA : Citra Banten Sediakan Oleh-oleh Paling Lengkap di Kota Serang
“Selain itu, para siswa juga diajari tentang pengetahuan umum, misalnya mengenal fasilitas umum, penggunaannya untuk apa, jenis-jenis makanan, dan lain-lain,” kata Hesty.
Melalui pembelajaran tersebut, sekolah berupaya membekali siswa agar mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri sesuai dengan kemampuan masing-masing. (tohir)





