BANTENRAYA.CO.ID – Kepemimpinan Walikota Cilegon Robinsar dan Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo genap satu tahun pada hari ini, Jumat (20 Februari 2026).
Saat awal dilantik, Robinsar-Fajar memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yakni defisit anggaran dan utang pihak ketiga ratusan miliar rupiah akibat gagal bayar. Namun, masalah itu mampu diselesaikan hingga tuntas.
Pasangan ini melakukan pembenahan pendapatan dan belanja. Termasuk juga menyelesaikan gagal bayar kurang lebih Rp130 miliar.
Hingga pada APBD 2025, Robinsar-Fajar dengan kebijakan efektifitas dan rasionalisasi pendapatan dan belanja akhirnya bisa surplus Rp80 miliar.
BACA JUGA : Empat Pelabuhan Disiapkan untuk Mudik 2026
Walikota Cilegon Robinsar menjelaskan, saat tahun awal dirinya menjabat banyak dinamika dan berkutat pada defisit anggaran.
Hal itu bahkan menjadi sorotan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk bisa dibenahi dan jangan sampai terulang.
“Bahkan defisit itu menjadi PR (pekerjaan rumah) dari BPK. Lalu dilakukan rasionalisasi dari segi pendapatan dan belanja.
Kami ingin ingin semua rasional dan masuk akal. Jangan sampai bisa devisite kembali,” katanya, Kamis (19 Februari 2026).
BACA JUGA : Allisa Resort and Hotel Ramaikan Suasana Ramadan Bersama Pelaku Usaha
Dari sisi pengelolaan kebijakan pendapatan dan belanja, papar Robinsar, pihaknya juga berhasil surplus hingga Rp80 miliar karena formulasi efektivitas belanja, efisiensi dan rasionalisasi terhadap APBD.
“Alhamdulillah kita surplus Rp80 miliar karena di pendapatan juga dipotong Rp110 miliar. Itu karena tidak ada dasarnya dan belanjanya juga dilakukan pemangkasan,” jelasnya.
Selanjutnya yang dilakukan adalah bagaimana Robinsar-Fajar bisa memoles wajah kota agar tidak kumuh.
Sebagai kota dengan julukan petro dollar, kota industri dan dengan PDB terbesar keempat di Indonesia, tidak pantas dengan kondisi wajah kota yang kumuh.
BACA JUGA : Cegah Salah Sasaran, Pemprov Banten Benahi Data Penerima Bansos
“Kita ingin menata Kota Cilegon, saya ini sudah 33 tahun di Kota Cilegon atas kegelisahan daerah lain bisa, kenapa Cilegon tidak bisa. Kita ubah wajah Cilegon supaya sesuai dengan julukannya,” paparnya.
Sementara itu, Wakil Walikota Cilegon Fajar Hadi Prabowo menyampaikan, hal yang dilakukan pada satu tahun kepemimpinan yakni dengan menguatkan dampak kebijakan.
Artinya tidak hanya secara kuantiti, tapi bagaimana bisa terasa dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Menguatkan dampak kebijakan bukan hanya kuantitas kebijakan. Tapi bagaimana kebijakan bisa terasa.
BACA JUGA : Musisi Nasional Ramaikan Hari Musik Nasional 2026 di Banten
Kan yang menilainya adalah masyarakat. Banyak orang bisa bikin kebijakan kalau dampaknya tidak maksimal itu buang uang dan buang waktu. Kita akan menguatkan dampak kebijakan yang sudah dibuat,” jelasnya. (uri)





