Ledakan di PT MCI Diduga dari Plan Produksi, Warga Alami Gangguan Kesehatan

Ledakan di PT MCI Diduga dari Plan Produksi Warga Alami Gangguan Kesehatan
TERTUTUP RAPAT: Kondisi setelah ledakan di PT MCI yang sangat ketat dan hanya sejumlah pihak yang diperkenankan masuk ke dalam pabrik, Senin (25 Mei 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Ledakan disertai kepulan asap putih terjadi di PT Merak Chemical Indonesia (MCI), Kota Cilegon, Senin (25 Mei 2026), pukul 12.30.

Ledakan tersebut menyebabkan bau kimia menyengat yang menyebar hingga radius 12 kilometer lebih.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ledakan tersebut diduga dari pipa atau tabung plan produksi dari dalam pabrik.

Suara ledakan terdengar hingga radius 5 kilometer dari lokasi kejadian, dan membuat panik warga.

BACA JUGA : BRI Salurkan Alat Marching Band ke SMA Al Khairiyah 1 Cilegon

Bahkan, kepulan asap menutupi hampir seluruh area pabrik dan wilayah sekitar dan membumbung setinggi kurang lebih 300 meter ke udara.

Tidak hanya itu saja bau asap putih berupa kandungan kimia juga membuat ratusan warga di wilayah Pegunungan Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol yakni Lingkungan Pasir Salam, Dermaga Malang dan Kagungan mengalami gangguan kesehatan pusing dan mual.

Sebanyak 2 orang warga yang mengalami gangguan kesehatan terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon untuk mendapatkan penanganan serius.

Menurut keterangan masyarakat, ledakan serupa rupanya pernah terjadi pada 2022. Saat itu kasusnya ditangani oleh Mabes Polri.

BACA JUGA : Movenpick Hotel Mewah Manjakan Keluarga

PT MCI sendiri merupakan perubahan nama dari PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI) yang berlokasi di Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Banten.

Perusahaan tersebut resmi didirikan pada 4 Maret 1991 melalui joint venture antara Mitsubishi Kasei Corporation dan Bakrie Group.

Pabrik tersebut memproduksi purified Terephthalic Acid (PTA) untuk bahan baku utama dalam industri pembuatan plastik kemasan (PET), serat tekstil (polyester), dan resin.

Lalu juga menghasilkan Polyethylene Terephthalate Resin (PET) untuk produksi berbagai macakm melasam plastic dan botol.

BACA JUGA : Siswa SMK Islam Cendekia akan Wakili Indonesia ke Vietnam

Sadeli, warga Sumur Wuluh, Kelurahan Gerem yang lokasinya tidak jauh dari lokasi pabrik mengatakan, terdengar ledakan sangat keras dari dalam area pabrik.

Selanjutnya, ada kepulan asap putih pekat yang membuat pandangan tidak bisa terlihat karena tebalnya asap.

“Itu meledak satu kali dan keras sekali saat siang hari. Asapnya menutupi pandangan seperti kabut pekat. Karena kondisi angin kencang, asap itu menyebar cepat ke pegunungan,” katanya.

Sadeli mengungkapkan, bau asap sendiri sangat menyengat seperti karet yang terbakar. Hal itu membuat kondisi warga mengalami gejala pusing. Asap yang masuk ke mata juga membuat perih.

BACA JUGA : BRI Salurkan Alat Marching Band ke SMA Al Khairiyah 1 Cilegon

“Yah itu tidak bisa melihat membuat mata perih, terus juga baunya seperti ban (karet) dibakar membuat pusing dan mual,” jelasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Kelurahan Gerem Anton mengaku pihaknya sudah mendapatkan laporan jika ada ratusan warga yang mengalami gangguan kesehatan.

Warga tersebut letaknya di pegunungan. Hal itu karena asap putih membumbung tinggi hingga 300 meter dan mengakibatkan ratusan warga di pegunungan terkena efek gangguan kesehatan.

“Itu angin lari ke gunung, jadi asap itu kesana dan juga memiliki bau. Di sana ada beberapa kampung misalnya Pasir Salam, Dermaga Malang dan Kagungan jaraknya itu sampai perkiraan 12 kilo lah. Tidak bisa turun meski kondisi terganggu kesehatannya,” ucapnya.

BACA JUGA : Nikmati Sensasi Chocolate Hour di Movenpick Resort Carita

Dari ratusan warga itu, papar Anton, ada sebanyak 2 warga yakni dari Dermaga Malang dan Kagungan yang sudah dilarikan ke RSUD Kota Cilegon untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Yang Dermaga Malang dan Kagungan itu dilarikan ke RSUD. Itu laporan dari warga, ratusan lainnya mengalami pusing dan mual,” ujarnya.

Terkenanya warga pegunungan, ujar Antor, karena kondisi cuaca angin yang kencang dan pada akhirnya lari ke pegunungan.

“Asapnya lagi ke pegunungan. Itu saya tidak tahu bahan kimianya apa. Paling nanti jika sudah ada hasil dari dokter bisa diketahui,” ucapnya.

BACA JUGA : Mau Ikut Dieng Caldera Race 2026? Cukup Menabung di Bank BJB

Sementara itu, Public Relations PT MCI Dimas Saputro membenarkan peristiwa adanya ledakan dari pabrik.

Menurutnya, untuk kejadian detailnya masih dilakukan investigasi, termasuk juga apa yang menjadi penyebab dan apa yang meledak masih dilakukan penyelidikan.

“Saat ini kami sedang investigasi bagaimana detailnya, seperti apa, nanti akan kami informasikan kemudian,” jelasnya.

Dimas menyatakan, pihaknya sekarang tengah menerapkan penanganan keselamatan. Hal itu untuk memastikan kondisi di area pabrik tetap aman dan tidak menimbulkan dampak lanjutan.

BACA JUGA : Allisa Resort Hotel Tawarkan Konsep Familly Private

“Safety treatment sudah kita lakukan, makanya sudah tidak ada apa-apa. Saya coba koordinasi ke dalam itu tadi apa kok sampai ke atas gitu ya,” terangnya.

Dimas mengaku, untuk semburan asap putih yang membumbung tinggi ke udara dan menyebar ke wilayah sekitar merupakan sistem steam turbine yang ada di fasilitas produksi perusahaan.

Menurutnya, itu adalah air karena warnanya putih dan tidak berbentuk partikel padat.

“Itu katanya efek dari steam turbine kami. Itu yang ke atas tadi yang warna putih itu adalah air, Untuk hal detailnya mungkin Saya harus minta konfirmasi dengan tim teknis seperti apa,” imbuhnya.

BACA JUGA : Etalase Penghargaan Bank BJB Kembali Bertambah, Kali Ini dari Ajang Digiwara 2026

Atas kejadian tersebut, imbuh Dimas, pihaknya memohon maaf kepada masyarakat sekitar yang terganggu dan panik. Pihaknya memastikan akan bertanggung jawab dengan semua yang terjadi.

Sebagai langkah awal, perusahaan membagikan masker melalui RT dan RW.

“Untuk masyarakat, yang jelas pertama-tama gini, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan apa pun yang sudah terjadi,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon Muhammad Saiful Basri mempertanyakan jika kepulan asap yang timbul dari ledakan itu adalah air sebagaimana disampaikan pihak perusahaan.

BACA JUGA : Siswa SMK Islam Cendekia akan Wakili Indonesia ke Vietnam

Menurutnya, hal itu merupakan kesimpulan yang terbaru-buru.

“Belum dapat informasi dari LH (Dinas Lingkungan Hidup). Kalau dari industri kan, tadi tuh biasalah sedikit menutupi.

Kalau ini tekanan air, dia mengeluarkan gas dan segala macamnya. Makanya kan kami bantahan terus,” ucapnya.

Syaeful menyampaikan, fakta di lapangan sangat berbeda dengan alasan yang disampaikan pihak perusahaan.

Dimana penjelasan perusahaan yang menyebut peristiwa tersebut hanya berkaitan dengan tekanan air dan uap yang keluar dari sistem produksi, padahal itu kondisi kejadian meledak dan asap yang dihasilkan sangat perih di mata.

BACA JUGA : Pengelolaan Lampu PJU Bermasalah

“Kan pas keluar dari mobil itu kan mata langsung perih, kalau memang itu uap air nggak mungkin pedas. Enggak mungkin baunya menyengat,” ujarnya.

Saiful menegaskan, pihak DPRD Kota Cilegon meminta invetigasi menyeluruh atas kondisi tersebut. Bahkan, itu harus dilakukan secara transparan.

“Klarifikasi itu menurut saya, tidak sesuai. Karena kan belum ada investigasi, menyampaikan bahwa itu hanya tekanan air kan,” katanya.

Salah satu warga Lingkungan Dermaga Malang, Kelurahan Gerem Nurin menjelaskan, jika anaknya pingsan sekarang tengah ditangani di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) karena sesak nafas dan pingsan usai menghirup bau gas dari ledakan Pt MCI.

BACA JUGA : bank bjb Tawarkan ST016, Investasi Syariah dengan Imbal Hasil Menarik

“Awalnya bangun tidur dari kamar, begitu keluar ngomong bau apa ini, anak saya langsung pusing, agak mual, sesak langsung pingsan.

Dibawa ke Puskesmas dan di rujuk ke RSUD Kota Cilegon. Dari sana karena tidak ada perkembangan saya bawa ke RSKM,” jelasnya.

Nurin menjelaskan, sampai sekarang tidak ada pertanggungjawaban dari pihak perusahaan untuk penanganan anaknya.

Sebab, di RSKM dirinya sudah tidak bisa menggunakan BPJS Kesehatan lagi karena sebelumnya sudah di RSUD Kota Cilegon.

BACA JUGA : Allisa Resort Hotel Tawarkan Konsep Familly Private

“Ke RSUD dan masih pakai BPJS, pas saya masuk ke KS dan tidak bisa sudah dipakai tadi. Lalu diminta bayar sendiri tidak pakai BPJS Kota Cilegon dan sementara pengen di bawa pulang dulu.

Tidak tahu belum ada yang datang (dari PT MCI-red) dan saya sudah bilang laporan dan yang mengurus bu RT dan untuk sementrara ini minta bayar sendiri rasanya takut tidak mampu,

tadi dikasih obat dari panggung rawi dan keadaan saya juga semoga tidak terlalu parah amat dan sekarang masih agak sesak dibantu oksigen, baru lulus SMA dan baru kuliah lagi,” ujarnya.

Nurin menyatakan, Kondisi anaknya sekarang masih menggunakan oksigen karena masih sesak nafas. Tidak hanya anaknya saja. Tapi banyak masyarakat di Puskesmas juga informasinya tidak kebagian oksigen.

BACA JUGA : Kasus Cerai di Lebak Tinggi, 16.732 Perempuan Jadi Janda

“Kalau yang tadi di lokasi puskesmas juga tidak kebagian oksigen kehabisan dan orang mananya tidak tahu. Anak saya masih pakai oksigen masih sesak sampai sekarang,” ujarnya. (uri)

Pos terkait