TANGERANG – Menurunnya trend pernikahan di Kota Tangerang mendapat perhatian serius Walikota Tangerang Sachrudin. Pria asal Cipondoh ini pun bertekat untuk terus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat melalui program 3 G (gampang sekolah, gampang kerja, gampang sembako) yang kini menjadi program unggulan Pemkot Tangerang.
Walikota Tangerang Sachrudin mengatakan, Pemkot Tangerang telah memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat terkait program 3 G tersebut. Alhasil, masyarakat kini tidak perlu lagi khawatir dan takut untuk berumah tangga.l dan menjalani hidup.
“Ya makanya tadi saya sampaikan, tugas kita itu memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat agar semuanya berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat termasuk
masalah regenerasi bangsa ini,” ujarnya, Senin 8 September 2025.
Pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum KONI Banten 2025-2029 Resmi Dibuka
Sachrudin mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai intervensi untuk menjamin kesejahteraan masyarakat mulai sejak dilahirkan hingga meninggal dunia. Salah satunya mengenai kesehatan dan tumbuh bayi.
“Persiapan nikahnya aja itu sudah kita harus intervensi pemerintah agar bagaimana bayi biar dalam kandungan sehat, biar lahir tidak stunting, tumbuh kembangnya diperhatikan, belajar mengajarnya, terus kesehatannya, sampai itu lah. Jadi urusan pemerintah itu sejak dari lahir sampai meninggal,” tambahnya.
Data yang dihimpun dari BPS Banten, trend pernihakan di Kota Tangerang terjadi penurunan sejak tiga tahun terakhir. Dimana ada pada 2022 lalu jumlah pernikahan di Kota Tangerang mencapai 9.233 pernikahan. Jumlah tersebut turun sebesar 1.415 pernikahan di 2023 yang mencapai 7.818 pernikahan.
Omzet Penjualan Panjang Mulud Turun
Dosen Komunikasi UMT Agus Kristian mengatakan, trend penurunan pernikahan
merupakan bagian dari tren nasional. Dimana angka pernikahan di Indonesia turun dari 1,96 juta pasangan pada 2019 menjadi 1,47 juta pada 2024 meskipun jumlah penduduk terus bertambah .
“Menurut saya penurunan ini terutama disebabkan oleh faktor ekonomi karena ketidakpastian dalam kekuatan financial dan tidak memiliki pekerjaan hal ini menjadi perubahan prioritas generasi muda,” imbuhnya.
“Selain itu, tingginya biaya pernikahan dan kesadaran untuk menikah di usia yang lebih matang turut memengaruhi keputusan ini. Meskipun demikian, penundaan pernikahan dinilai sebagai perkembangan positif karena dapat mengurangi potensi konflik rumah tangga dan perceraian yang sering dipicu oleh ketidaksiapan ekonomi maupun mental,” pungkasnya. (ger)







