BANTENRAYA.CO.ID – PT Krakatau Osaka Steel (KOS) di Kota Cilegon bangkrut atau gulung tikar. Pabrik baja ini resmi berhenti beroperasi pada 30 April 2026.
Sebanyak 153 karyawan dipecat atau putus hubungan kerja (PHK). Pabrik ini minim order lantaran kondisi global dan proyek pemerintah pusat banyak yang tak berjalan.
Kondisi perang dan ekonomi global menjadi masalah di hulu bagi PT KOS. Hal itu karena perang Amarika dan Iran di Timur Tengah memicu mahalnya bahan baku baja serta operasional bahan bakar bagi PT KOS.
Masalah di hilir sendiri dipicu karena melemahnya ekonomi lokal yang mengakibatkan proyek atau pembangunan konstruksi yang membutuhkan baja tidak ada.
BACA JUGA : Gen Z Enggan Jadi Guru
Hal itu membuat hasil produksi baja PT KOS terkena imbas karena tidak mampu diserap produknya.
Diketahui, PT KOS merupakan perusahaan baja patungan antara PT Kralatau Steel (KS) dari Indonesia dengan 14 persen saham, dan PT Osaka Steel dari Jepang dengan 86 persen saham.
Perusahaan baja tersebut mulai beroperasi pada Januari 2017 dengan nilai invetasi sekitar USD 220 juta. Tujuan pendirian pabrik ini dalam rangka membantu memenuhi kebutuhan baja dalam negeri khususnya untuk konstruksi.
Namun, seiring waktu karena tekanan finansial global dan dalam negeri, mengakibatkan hasil produksi PT KOS tidak mampu diserap karena minimnya proyek pemerintah di bidang konstruksi.
Diketahui, di Kota Cilegon sendiri pada 2025 lalu ada sebanyak 479 orang dari 83 perusahaan yang sudah di-PHK. Dimana, sebanyak 72 persen alasannya adalah perusahaan tengah melakukan efisiensi karena tekanan finansial dalam negeri dan luar negeri.
Pada 2026 diketahui ada sebanyak 200 karyawan yang sudah dilakukan PHK dan sebagian besarnya yakni karyawan PT KOS yang mencapai 153 orang.
Mantan Ketua Serikat Pekerja PT KOS Tengku Fatwa menjelaskan, ada banyak faktor eksternal dan internal yang membuat perusahaan bangkrut. Misalnya faktor eksternal itu ada di hulu sampai hilir.
BACA JUGA : “Dari Catatan Manual ke Digital”: Transformasi Pembukuan UMKM melalui Aplikasi SiApik
“Banyak faktor eksternal dan internal juga. Kebanyakan eksternal baik di hulu dan hilir, di hulu kita tersendat bahan baku karena konflik global Amerika dan Iran.
Di hilirnya program pemerintah tidak berjalan dan itu membuat bahan hasil produksi tidak terserap,” katanya, Senin (4 Mei 2026).
Tengku menambahkan, hasil produk baja PT KOS sendiri merupakan baja batang untuk konstruksi. Dimana, produk bajanya banyak dipakai untuk pembangunan dalam negeri. “Ada baja tulangan, baja siku dan kanal,” jelasnya.
Imbas tidak berprodukainya PT KOS, jelas Tengku, membuat sebanyak 152 karyawan organik dipecat. Tepat pada 30 April 2026, seluruh karyawan resmi diberhentikan.
“Ada 152 karyawan organiknya. Alhamdulillah, tidak ada (pengaduan) sampai hari akhir kondusif. Pada 30 April lalu, sudah tidak beroprasi sama sekali,” tegasnya.
Tengku menjelaskan, berpesan kepada seluruh koleganya untuk tetap semangat menjalani kehidupan. Diharapkan juga mendapatkan pekerjaan yang bisa lebih layak.
“Tetap semangat, hidup masih terus bejalan, semoga teman-teman bisa mendapatkan hidup yang lebih layak,” ujarnya.
Sementara itu, Walikota Cilegon Robinsar tidak menampik adanya ancaman global dan dalam negeri yang membuat industri di Kota Cilegon terimbas dan sampai gulung tikat.
BACA JUGA : Cukup Menabung di bank bjb, Bisa Ikut Keseruan BOGORUN 2026
Namun, ancaman global sudah di depan mata harus membuat semua lapisan baik buruh, pemerintah dan industri harus bersatu.
“Iyah betul kondisi efek global berdampak (industri tutup dan PHK karyawan), ini menjadi pengingat bagi kita untuk bisa saling mengingatkan. Ego sektoral itu kita kesampingkan untuk lebih (kepentingan) luas,” ungkapnya.
Robinsar menegaskan, forum serikat buruh dan pekerja agar bisa berkolaborasi. Hal itu menjadi penting ditengah ancaman ekonomi global dan dalam negeri sekarang. “Ancaman sudah di depan mata,saling menguatkan dan menjaga,” tegasnya.
Robinsar menyatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon akan memberikan ruang dan menjadi jembatan kepentingan buruh. Terutama yang terkena imbas, sehingga nantinya ada keadilan.
BACA JUGA : Warga Keluhkan Jalan ke Baduy Mirip Kubangan Kerbau
“Prinsipnya membuka ruang jika industri dan buruh. Jika ada yang dijembatani kami siap hadir. Itu karena kondisi global dan lokal nasional harus jadi pengingat bersama saling menguatkan,” ucapnya.
Anggota DPRD Kota Cilegon Faturohmi mengungkapkan, Pemkot Cilegon harus memastikan seluruh hak pekerja PT KOS diselesaikan. Jangan sampai para karyawan mendapatkan pesangon tidak sesuai dengan aturan.
“Soal jumlahnya itu harus dihitung sesuai masa kerja. Pemkot harus lakukan pendampingan kepada seluruh karyawan,” ujarnya.
Faturohmi menjelaskan, kebangkrutan PT KOS murni soal persaingan bisnis. Dimana banyaknya baja impor yang masuk dan menguasai pasar.
Namun, tentunya Pemkot Cilegon harus melakukan langkah bagi perlindungan tenaga kerjanya.
BACA JUGA : Budi Rustandi, Kenang Jasa Guru
“Ini imbas persoalan bisnis. Kewenangan daerah terntu lakukan langkah yang bisa dilakukn dengan memastikan pendampingan agar haknya semua terpenuhi,” paparnya.
Tutupnya PT KOS, sebut Faturohmi, menjadi perhatian pemerintah. Dimana, harus ada langkah antisipatif.
“Ini jelas akan menambah deretan pengguran di Kota Cilegon. Pemerinth harus mengambil langkah antisipatifnya bagaimana, sesuai dengan kewenangannya,” ujarnya. (uri)






