BANTENRAYA.CO.ID – Kekeringan mulai mulai melanda sebagian wilayah di Provinsi Banten.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaannya guna mengantisipasi terjadinya krisis air bersih selama musim kemarau yang diprediksi akan mengalami puncaknya pada Agustus mendatang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten saat ini telah memetakan sedikitnya ada 415 wilayah di delapan kabupaten dan kota yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau ini.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengatakan, wilayah pesisir utara Banten diperkirakan menjadi daerah yang pertama merasakan dampak kemarau, terutama Kabupaten Serang hingga Tangerang Raya.
BACA JUGA : Nana Heryatna, Berbaur dengan Masyarakat
Ancaman terbesar berada pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Wilayah yang paling berpotensi terdampak berada di bagian utara Banten, mulai dari Kabupaten Serang hingga kawasan Tangerang Raya.
Sektor pertanian menjadi yang paling rentan karena lahan persawahan diperkirakan mengalami kekeringan,” ujar Lutfi, Senin (13 Juli 2026).
Berdasarkan data pemetaan yang dilakukan BPBD Banten, terdapat 415 titik rawan kekeringan yang tersebar di Kabupaten Pandeglang sebanyak 111 titik,
BACA JUGA : Bedah Rumah Tak Kunjung Terealisasi, Warga Pandeglang Tagih Janji Pemprov
Kabupaten Lebak 109 titik, Kabupaten Tangerang 101 titik, Kabupaten Serang 64 titik, Kota Tangerang Selatan 14 titik, Kota Serang 12 titik, dan Kota Cilegon empat titik.
Sementara Kota Tangerang tidak masuk dalam wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kekeringan.
Selain krisis air bersih dan kekeringan lahan pertanian, BPBD juga memprediksi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Berdasarkan hasil pemetaan, potensi kebakaran lahan paling besar berada di wilayah Banten Selatan, sedangkan kebakaran permukiman diperkirakan lebih banyak terjadi di kawasan Tangerang Raya.
BACA JUGA : MBG Beroperasi, Harga Sembako Naik Lagi
“Kalau kebakaran itu kebanyakan lahan, ada di wilayah Banten Selatan. Untuk wilayah perkotaan, kebakaran permukiman itu diprediksi terjadi di Tangerang Raya,” katanya.
Lutfi menerangkan, dalam mengantisipasi kejadian tersebut, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menyiapkan personel serta peralatan penanggulangan bencana.
Koordinasi juga dilakukan bersama kepolisian dan sejumlah instansi lainnya guna mendukung distribusi air bersih apabila masyarakat mulai terdampak kekeringan.
Lebih lanjut Lutfi menjelaskan, penanganan kekeringan di sektor pertanian juga akan dilakukan bersama Dinas Pertanian yang telah menyiapkan sejumlah pompa air (alkon) untuk membantu kebutuhan irigasi lahan persawahan.
BACA JUGA : Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD Lebak Rp21,4 Miliar
Meski demikian, Lutfi mengakui kapasitas armada tangki air yang dimiliki BPBD Provinsi Banten masih sangat terbatas.
Saat ini, kata dia, BPBD provinsi hanya memiliki empat unit mobil tangki, sedangkan BPBD kabupaten dan kota secara keseluruhan memiliki sekitar 150 unit armada yang dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat.
“Satu bulan ke depan kita membackup pengiriman air bersih di wilayah Pandeglang melalui kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Pandeglang,” ujarnya.
Lutfi mengimbau kepad masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan menghemat penggunaan air serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
BACA JUGA : Nelayan Bojonegara Keluhkan Proyek Reklamasi
“Masyarakat harus tetap waspada, jangan buang puntung rokok sembarangan, jangan membakar sampah tanpa pengawasan, kemudian hindari pembakaran lahan.
Kalau memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar ditunggu sampai api padam,” ujarnya. (raffi)





