BANTENRAYA.CO.ID – Rencana pembangunan 221 hunian tetap (huntap) bagi penyintas banjir bandang dan longsor 2020 di Kabupaten Lebak terus berjalan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak menyebut bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan pemesanan material maupun kebutuhan lainnya untuk pembangunan huntap di Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak tersebut.
“BNPB sudah mengkonfirmasi, material untuk perumahan sudah dipesan. Alat berat juga disiapkan untuk melakukan clearing area. Kita tinggal berkoordinasi dengan pihak kecamatan maupun desa,” kata Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama pada Selasa, 2 September 2025.
Diduga Lawan Arah, Pengendara Motor di Puloampel Kritis Terlindas Tronton
Febby juga mengungkapkan, pembangunan huntap itu sendiri rencananya akan mengikuti gaya konvensional dengan sistem kopel layaknya perumahan.
Di lokasi huntap juga, akan disediakan sejumlah fasilitas umum, jalan lingkungan, hingga saluran air bersih.
BNPB juga disebut akan memastikan lingkungan huntap tersebut bersih dan tidak kumuh.
“Direncanakan September 2025 ini dimulainya berdasarkan hasil rapat di Kemenko PMK yang hasil rapatnya, Lebak menjadi daerah prioritas untuk diselesaikan atau dituntaskan penanganan pasca bencananya,” ungkap dia.
Demo Berujung Ricuh di Kota Serang Bikin Gerai Bisnis Lesu
Menurut Febby, alasan segera dituntaskan persoalan pasca bencana di Lebakgedong tidak terlepas penguatan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat kondisi Huntara yang dihuni ratusan warga korban banjir bandang dan tanah longsor di Lebak Gedong.
Selain sudah lebih dari tahun tahun pasca bencana, kata Febby apa yang disampaikan saat rapat koordinasi dengan pemerintah pusat pak Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menyampaikan Lebak yang jarak tempuh dengan Jakarta tidak jauh, serka kondisi dilapangan yang diyakini berdampak kondisi sosial lainnya membuat Lebak menjadi proritas untuk dituntaskan persoalan pasca bencana.
“Hasil kunjungan ke lapangan dengan mereka, mereka juga berkomitmen tahun ini sudah dimulai baik itu menkliring (proses penyelesaian transaksi keuangan) maupun pembangunan rumahnya. Total rumah yang akan dibangun sebanyak 221 rumah di Lebak Gedong,” jelas Febby.
Sebelumnya diketahui bahwa sebagian besar korban bencana alam Lebakgedong 2020 hingga saat ini masih menetap di hunian sementara (Huntara) Cigobang.
Selama lima tahun itu, mereka hidup dengan penuh keterbatasan dan dalam hunian yang tidak layak. Untuk itu, Febby memastikan pembangunan huntap akan disegerakan.
Febby juga belum lama ini menyampaikan bahwa untuk membangun 221 unit hunian tetap tersebut, BNPB akan menggelontorkan anggaran Rp60 juta per unit atau Rp13,26 miliar jika ditotalkan.
Angka tersebut belum termasuk untuk pembangunan fasilitas lain selain rumah.
“Jadi per unit hunian tetap itu sekitar Rp60 juta. Tinggal dihitung saja totalnya. Tapi itu belum termasuk land clearing maupun saluran air,” imbuhnya.
Di lokasi huntara, warga sendiri rupanya mengaku tak pernah berhenti menunggu.
Sejumlah warga juga bahkan menceritakan kesulitannya selama lima tahun di huntara. Salah seorang warga, Arnita menuturkan dirinya harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dengan kondisi jalan yang rusak ketika sakit.
“Kalau sakit terus mau ke puskesmas ya mau gak mau ngojek, jauh. Sekali jalan pasti harus ada ongkos, sekitar Rp30 ribu. Yang lain juga sama, apalagi yang punya anak kecil,” terang dia.
Dia menyebut alasan dirinya dan warga lain memilih lokasi tersebut untuk mendirikan huntara setelah tertimpa bencana longsor 2020 silam lantaran lokasi tersebut tak terlalu jauh dari kampungnya dulu yang kini sudah rata dengan tanah.
“Sudah banyak sekali yang berubah. Sudah ada yang meninggal, yang bujang sudah punya anak-istri, pemimpin juga sudah gonta-ganti, tapi gini-gini saja. Kampung lama kita bahkan sekarang sudah seperti belantara,” tandasnya. (aldi)






