Numpuk di Tangerang Raya, Banten Selatan Masih Kekurangan Dokter

WhatsApp Image 2025 09 03 at 18.12.16
Gubernur Banten Andra Soni saat beraudiensi dengan Kepala Dinas Kesehatan dari Kabupaten Kota se-Provinsi Banten dan Organisasi IDI Banten, Rabu, 3 September 2025. (Raffi/Banten Raya)

BANTENRAYA.CO.ID – Masalah ketimpangan distribusi dokter di Provinsi Banten menjadi sorotan Gubernur Banten Andra Soni yang mengungkapkan, dari sekitar 13 ribu dokter umum dan spesialis yang ada di Banten, hampir 10 ribu di antaranya terkonsentrasi di wilayah Tangerang Raya.

Sementara, untuk daerah di Banten Selatan, terutama Lebak dan Pandeglang, masih menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan.

“Pemerataan dokter ini salah satu masalah serius. Banyak dokter-dokter kita itu menumpuk di Tangerang Raya, sementara daerah lain kekurangan. Pertemuan ini kita gunakan untuk mencari solusi jangka pendek maupun panjang untuk bagaimana bisa dokter-dokter kita terdistribusi dengan baik ke semua daerah di Banten,” kata Andra Soni saat ditemui usai bersilaturahmi dengan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dan pengurus IDI Banten, Rabu, 3 September 2025.

Bacaan Lainnya

Andra menjelaskan, salah satu upaya yang sedang dirancang adalah pemberian beasiswa berjenjang bagi tenaga kesehatan yang bersedia untuk bertugas di Banten Selatan.

BACA JUGA: Cilegon Krisis Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut, Hanya 2 Dokter Kantongi Surat Izin Praktik

Program ini, kata dia, akan mendorong tenaga medis melanjutkan pendidikan dari dokter umum menjadi spesialis, hingga subspesialis.

“Tahun ini Untirta akan meluluskan angkatan pertama dokter. Itu kebanggaan bagi Banten, karena kita sudah bisa mencetak dokter sendiri. Kita ingin dorong kampus-kampus di Banten agar bisa membuka program studi spesialis,” katanya.

“Ke depan, kita akan buat semacam program untuk meningkatkan kualitas daripada tenaga-tenaga kedehatan kita. Dari dokter umum menjadi dokter spesialis, yang spesialis menjadi sub-spesialis. Dengan begitu, jumlah dokter spesialis dan subspesialis di Banten bisa meningkat,” tambah Andra.

Dalam jangka pendek, Andra mangatakan, Pemprov Banten akan mengembangkan tenaga khusus untuk memenuhi kebutuhan sembilan jenis tenaga kesehatan di puskesmas, terutama di wilayah barat dan selatan. Opsi outsourcing tenaga dokter juga tengah dijajaki.

BACA JUGA: Tetap Layani Pasien BPJS, RSUD Kota Cilegon Baru Punya Dokter Spesialis Bedah Mulut Berstatus Dokter Tamu

Sementara itu, untuk jangka panjang, program beasiswa tenaga kesehatan akan diperluas.

Andra juga mendorong universitas dengan fakultas kedokteran di Banten seperti Untirta, UPH, UHMK, UIN, dan UMJ untuk aktif berkontribusi. Menurutnya, kebijakan distribusi tenaga kesehatan juga harus dibarengi dengan perhatian pada wilayah selatan.

“Selama ini penugasan dokter ke Lebak dan Pandeglang lebih bersifat sementara. Ke depan kita ingin pemerataan benar-benar berjalan. Pelayanan kesehatan harus bisa diakses masyarakat secara adil,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten, dr. Rifqi, menyebut pihaknya siap bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk mendorong pemerataan dokter.

“Kami sudah berdiskusi dengan Pak Gubernur dan Bu Kadis. IDI siap membantu, karena tujuan kita sama, meningkatkan layanan kesehatan untuk masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA: Dokter Forensik Sebut Siti Dimutilasi Dalam Kondisi Hidup

Sementara itu, di sisi lain, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, mengungkapkan fakta di lapangan yang cukup memprihatinkan. Dari 44 puskesmas yang ada, 12 di antaranya sama sekali tidak memiliki dokter gigi.

“Idealnya satu puskesmas minimal ada tiga dokter umum. Tapi di daerah terpencil, masih banyak yang hanya punya satu dokter. Untuk dokter gigi kondisinya lebih berat, banyak puskesmas kosong,” katanya.

Menurut Endang, ketimpangan ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

“Kalau dokter umum, mereka masih bisa cari tambahan praktik di luar puskesmas. Tapi dokter gigi penghasilannya lebih besar di kota, jadi enggan ditempatkan di daerah pelosok seperti Lebak. Apalagi wilayah kami sangat luas, jarak ke pelosok bisa sampai empat jam perjalanan,” jelasnya.

BACA JUGA: Enam Dokter Disigakan RSUD Kota Serang Untuk Layani Paska Pemilu

Ia menekankan, penempatan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas di Lebak dan Pandeglang yang kondisinya paling darurat.

“Semua daerah memang kekurangan dokter, tapi Lebak dan Pandeglang kondisinya mengkhawatirkan. Kami berharap dengan visi ‘Banten Maju’, Pak Gubernur bisa mendorong pemerataan tenaga medis. Karena kalau Banten maju, daerah selatan juga harus maju,” tandasnya. (raffi)**

Pos terkait