Pembayaran Jaspel Mandek, RS Misi Didemo Karyawan

Pembayaran Jaspel Mandek, RS Misi Didemo Karyawan
DEMO : Karyawan RS Misi saat melakukan demo di Gedung Warsito, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu (24 September 2025).

BANTENRAYA.CO.ID – Ratusan tenaga kesehatan (nakes) Rumah Sakit Misi Rangkasbitung menggelar aksi unjuk rasa di Gedung Warsito, Lebak, Rabu (24 September 2025).

Mereka menuntut pencairan jasa pelayanan (jaspel) yang belum dibayarkan selama dua bulan terakhir.

Dalam aksi tersebut, para nakes membawa poster bertuliskan ‘Keringat Kami Bukan Gratis, Bayar Jaspel Tepat Waktu’, hingga ‘Jaspel Rp300 Ribu Per Bulan, Naikkan!’.

Bacaan Lainnya

Aksi ini menarik perhatian masyarakat dan pengguna jalan, namun berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian.

Bank bjb Hadirkan Solusi Finansial dan Literasi Keuangan bagi 1.300 Peserta Magang Jepang

Koordinator aksi, Ricky, menyebut demonstrasi dilakukan setelah berbagai upaya dialog dengan manajemen RS Misi tidak membuahkan hasil.

“Belakangan ini jasa pelayanan kami tidak dicairkan. Padahal itu adalah hak kami sebagai pekerja rumah sakit.

Sebelum aksi, kami sudah berupaya meminta penjelasan, melakukan mediasi, tapi tidak ada solusi,” kata Ricky.

Menurut Ricky, para nakes hanya menuntut hak mereka berupa pencairan jaspel dan tunjangan lain yang seharusnya diterima secara rutin.

Satu Kamar Asrama Sekolah Rakyat Kota Serang Diisi 6 Siswa

Tak hanya itu, sejumlah desakan lain yang juga disampaikan ialah terkait gaji yang tak naik sejak 2024, hingga menuntut agar komunikasi dari manajemen ke karyawan diperbaiki.

“Sikap direktur RS yang intimidatif ke karyawan. Seperti kata ‘Lo jual gua beli’. Kami menilai itu tidak sepantasnya keluar dari mulut seorang direktur.

Harapan kami manajemen mendengar tuntutan kami. Kami juga punya hak yang harus dipenuhi,” tuturnya.

Pihak manajemen RS Misi pada akhirnya menanggapi permintaan masa aksi. Direktur RS Misi, Totot Moenardi mengungkapkan alasan pihaknya menahan pembayaran jasa pelayanan ialah lantaran kondisi RS Misi yang tengah mengalami Kerugian.

Pedagang Pasang Spanduk Tolak Pembongkaran Total Pasar Rau

Hingga Agustus 2025, Sisa Hasil Usaha atau SHU RS Misi mengalami defisit hingga Rp1,2 miliar.

“Saat ini pihak rumah sakit sedang mengalami kerugian. Akibatnya jasa pelayanan karyawan harus tertahan. Sampai Agustus, SHU kami minus 1,2 miliar,” kata Totot.

Kendati begitu, Totot memastikan pihaknya tidak menghilangkan jasa pelayanan karyawan. Ia meminta agar karyawan lebih bersabar. Ia menjanjikan akan segera menyalurkan jasa pelayanan jika keuangan kembali stabil.

Keputusan itu diambil karena pihaknya harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan serta mengacu pada perjanjian kerja bersama atau PKB antar manajemen dan karyawan.

Wakil Walikota Buka Festival Maulid Nusantara II, Maryono : Kegiatan Ini Menjadi Momentum Silaturahmi

“Pada pasal 12 ayat 6 berbunyi, selain upah rumah sakit dapat memberikan intensif dengan sistem perhitungan yang ditetapkan oleh manajemen dan disesuaikan dengan kemampuan pada saat ini,” imbuhnya.

Meski aksi itu dilakukan oleh sebagian besar karyawan, pihak RS Misi memastikan pelayanan yang diberikan tetap berjalan normal.

Salah seorang staff yang enggan disebut namanya menyebut bahwa karyawan telah membagi tugas antara yang berangkat berdemo dengan yang tetap bertugas.

Kata dia, karyawan yang menggelar demo merupakan karyawan yang mendapatkan tugas sift sore hingga malam.

Pedagang Pasang Spanduk Tolak Pembongkaran Total Pasar Rau

Ia memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas di tengah perjuangan karyawan lainnya yang menuntut haknya. “Kami pastikan pasien diterima seperti biasa. Tidak ada yang terganggu,” tandasnya. (aldi)

Pos terkait