Oleh : Tim Dosen Universitas Pamulang – Program Studi Akuntansi (Yayah Syahriyah, S.Ak., M.Ak dan Ririn Sari Dewi, S.E., M.Ak., CAP)
BANTENRAYA.CO.ID – Perkembangan teknologi digital seharusnya tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar, tetapi juga menjadi peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas.
Namun, realitanya masih banyak UMKM yang menghadapi kendala mendasar, terutama dalam hal pencatatan keuangan yang masih dilakukan secara manual, bahkan sekadar mengandalkan ingatan.
Hal inilah yang melatarbelakangi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh dosen Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang Kampus Serang di UMKM CV Sinar Banten Gemilang.
Mengusung tema “Dari Catatan Manual ke Digital: Transformasi Pembukuan UMKM melalui Aplikasi SiApik”, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam menjembatani kesenjangan literasi keuangan di kalangan pelaku usaha kecil.
Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh Ibu Yayah Syahriyah, selaku dosen di Universitas Pamulang Kampus serang Prodi Akuntansi dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami.
Ia menekankan bahwa pencatatan keuangan bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama dalam menjalankan usaha.
Dengan pembukuan yang baik, pelaku UMKM tidak hanya mengetahui arus kas masuk dan keluar, tetapi juga dapat memahami kondisi keuangan secara menyeluruh, termasuk laba, biaya, serta potensi pengembangan usaha di masa depan.
Pendekatan praktis melalui penggunaan aplikasi SiApik menjadi nilai tambah dalam kegiatan ini. Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu UMKM melakukan pencatatan keuangan secara digital dengan lebih terstruktur dan efisien.
Transformasi ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan lama yang kurang tertib menjadi sistem pencatatan yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Respon positif datang dari pemilik CV Sinar Banten Gemilang, Bapak Indra, yang menyambut baik kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya mengalami kesulitan dalam mengelola pencatatan keuangan usahanya.
“Selama ini saya kesulitan dalam melakukan pencatatan keuangan usaha. Saya hanya mengetahui uang masuk dan keluar tanpa adanya pencatatan yang jelas dan terstruktur. Bahkan, saya juga tidak tahu harus memulai dari mana. Alhamdulillah, kegiatan PKM dengan tema ini sangat saya butuhkan,” ujarnya. Pengakuan tersebut mencerminkan kondisi nyata yang dialami banyak pelaku UMKM.
Minimnya pemahaman akuntansi seringkali membuat usaha berjalan tanpa arah yang jelas dari sisi keuangan. Oleh karena itu, kehadiran akademisi melalui kegiatan PKM menjadi sangat relevan dan dibutuhkan. Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku usaha.
Harapannya, program seperti ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan, melainkan dapat berkelanjutan sehingga mampu memberikan dampak yang lebih luas dan signifikan.
Transformasi digital dalam pembukuan UMKM bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan pendampingan yang tepat dan berkelanjutan, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih profesional, transparan, dan berdaya saing di era ekonomi digital.(*)






