BANTENRAYA.CO.ID – Sekolah swasta berbasis Islam Terpadu (IT) atau boarding school (sekolah berasrama) saat ini menjadi primadona bagi sebagian besar warga untuk menyekolahkan anaknya.
Orangtua rela merogoh kocek cukup dalam, demi mengejar kualitas pendidikan yang lebih baik, fasilitas lengkap, serta kurikulum ekstra.
Salah satu ASN di Kota Cilegon, Ashif mengaku menyekolahkan anaknya di SMAIT Raudhatul Jannah karena melihat kualitas pendidikan yang baik.
Menurutnya, di sekolah swasta IT, orangtua juga tidak harus menyekolahkan anak ke pendidikan agama karena sudah langsung ada kurikulum dan pembelajarannya di sana.
Tidak hanya itu, sarana prasarana yang lengkap seperti laboratorium komputer, bahasa, kimia dan IPA, sangat mendukung kemampuan dan kualitas anak dalam belajar.
Termasuk, adanya ekstrakulikuler yang lengkap juga menjadikan pertimbangan menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta IT.
“Kan sudah ada pendidikan agamanya, jadi tidak harus lagi menyewa guru mengaji dan pembimbing lainnya,” katanya, Selasa (5 Mei 2026).
Ashif menyatakan, setiap awal masuk harus mengeluarkan uang Rp8 juta sebagai uang pembangunan atau pendaftaran ulang.
Setiap bulan dirinya membayar Rp800 ribu untuk SPP. Namun, hal itu berbanding lurus dengan kualitas pendidikan yang diperoleh anaknya.
BACA JUGA : Pemprov Pilih Negosiasi, Enggan Gugat BPN
“Sebanding, sebenarnya itu kan kita tidak harus keluar lagi untuk anggaran lainnya, baik saat studi banding dan lainnya.
Bahkan anak juga terpantau perkembangannya, karena mendapatkan perhatian penuh dari para gurunya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Kota Cilegon Upik Suwadhani mengungkapkan, dirinya menyekolahkan anaknya dengan konsep boarding school di SMP IT Al Hanif adalah untuk mengajarkan kemandirian pada anaknya.
Sebab, generasi Gen Z dan Gen Alfa sekarang sangat rapuh secara mental. Namun, dengan sekolah di boarding school bisa mendapatkan penempaan mental kemandirian.
BACA JUGA : Pertamina Perkuat Kolaborasi Global untuk Dongkrak Produksi Migas Nasional
“Ada ekosistem pendidikan yang lebih disiplin di sana. Terpenting adalah kemandirian karena terutama Gen Z dan Gen Alfa sekarang menjadi penting.
Termasuk di sana sudah paket lengkap soal pendidikan umum dan agama,” ujarnya.
Upik menyatakan, setiap tahun mengeluarkan biaya pendaftaran masuk atau pendaftaran ulang Rp20 juta per tahun, termasuk rela membayarkan SPP Rp2 juta per bulan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.
“SPP sebulan Rp2 juta sudah termasuk laundry dan makan. Biaya masuk itu Rp20 juta,” ucapnya.
BACA JUGA : RUPST Bank Bjb Resmi Tunjuk Pengurus Baru, Dorong Tata Kelola Lebih Solid
Kendati mengeluarkan puluhan juta per tahun, menurut Upik, itu sebanding dan sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan dirinya.
Dimana, anaknya secara akademis memiliki kemampuan bagus, agama dan akhlak yang juga bagus, termasuk tahfidz dan tahsinnya sangat diperdalam.
“Itu berdasarkan testimoni para tetangga yang mengatakan anak saya ada perubahan (positif),” imbuhnya.
Upik menyampaikan, angkatan anaknya sekarang ada 3 kelas. Bahkan, pada tahun 2026 sekarang animo masyarakat sangat besar dan akan bertambah untuk angkatan barunya.
BACA JUGA : APBD Banten Turun Rp1 Triliun
“Setiap tahun bertambah. Dulu 3 kelas, sekarang anomi masyarakat juga sangat besar,” ujarnya.
Di Kota Serang pun demikian, tak sedikit orang tua siswa memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta ketimbang di sekolah negeri.
Salah satunya, Rita yang lebih memilih mendaftarkan anak ketiganya ke Assaadah Global Islamic School (AGIS) Kota Serang.
Sejak dini, Rita sudah menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta, karena dia percaya kualitas pendidikan di sekolah swasta lebih unggul.
“Anak saya yang ketiga sekolah di AGIS dan tiga-tiganya dari play group sudah di swasta,” ujar Rita, kepada Banten Raya.
Rita menjelaskan, memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta ketimbang di sekolah negeri, karena mutu pendidikannya melebihi standar nasional maupun harapan peserta didik dan masyarakat.
“Memilih swasta itu pertama kelasnya isinya sedikit, jadi bisa fokus perhatian guru ke anak, disiplin tinggi, jaringan luas, bahasanya ada bilingual Indonesia-Inggris, agamanya ada jadi nggak usah sekolah madrasah lagi alias berbasis agama, nggak pake zonasi, dan fasilitas lengkap,” ucap dia.
Namun, Rita menegaskan bahwa menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta bukan semata-mata dorongan orang tua melainkan hasil kesepakatan bersama anaknya. “Keinginan anak dan orang tua hanya mengarahkan,” tuturnya bijak.
Rita mengakui bahwa tantangan memilih menyekolahkan anak di sekolah swasta biaya pendidikannya tinggi ketimbang di sekolah negeri. “Tantangannya apa ya harus kuat biayanya,” ucap Rita seraya tertawa.
BACA JUGA : Penghargaan SPPA 2025 Kini Digondol Bank BJB
Rita menyebutkan biaya saat daftar sekolah swasta diperkirakan mencapai belasan juta rupiah. “Biaya masuknya saya lupa berapa ya. Mungkin sekitar Rp 15 juta kayaknya,” ucap dia.
Ia merinci biaya SPP sebulan Rp650 ribu, sedangkan biaya daftar ulangnya Rp10 juta. “Itu belum termasuk biaya eskul. Anak saya eskul robotik tapi saya lupa biayanya,” akunya.
Rita berharap faktor lingkungan belajar yang kondusif, keamanan, serta investasi jangka panjang pada pendidikan anaknya dapat melahirkan generasi yang unggul, berilmu, cerdas dan beradab.
“Harapan saya karena saya ini bekerja ya. Saya berharap anak lebih terbentuk secara kualitas, berkarakter dan tidak hanya pintar tapi akhlak terbentuk,” harap Rita.
BACA JUGA : RUPST bank bjb Sepakat Tebar Dividen sebesar Rp 900 miliar
Serupa dikatakan orang tua siswa lainnya, Ina. Ina menjelaskan, alasan memilih sekolah swasta karena ingin pendidikan yang seimbang antara akademik dan agama, serta pembinaan karakter yang lebih intensif.
“Kalau saya sebetulnya karena ingin anak sekolah Islam terpadu, dan adanya swasta,” ujar Ina.
Perihal biaya yang lebih mahal, kata dia, itu karena fasilitasnya lengkap, dan pembinaan di boarding school lebih lengkap dan terarah.
“Iya memang lebih mahal itu karena fasilitasnya lengkap mulai dari asrama, makan, pembinaan agama, tahfidz, kegiatan ekstrakurikuler, dan pembelajaran terstruktur,” beber dia.
BACA JUGA : RUPST Bank Bjb Resmi Tunjuk Pengurus Baru, Dorong Tata Kelola Lebih Solid
Ina menegaskan, menyekolahkan anaknya di sekolah swasta itu hasil kesepakatan bersama antara orang tua dan anaknya. “Ini keinginan anak dan dorongan orang tua,” tegasnya.
Ia mengaku merasakan suka duka menyekolahkan anaknya di boarding school. “Sukanya anak lebih mandiri dan terarah, dukanya karena jauh jadi kadang rindu,” tutur Ina seraya tersenyum.
Meski demikian, lanjut Ina, kerinduan terhadap anaknya terobati karena masih bisa berkomunikasi dengan anaknya yang difasilitasi oleh pihak lembaga pondok pesantren.
“Melalui telepon dengan jadwal komunikasi yang ditentukan sekolah tiga kali seminggu,” ungkap dia.
Ia bersama keluarganya pun bisa berkesempatan untuk menjenguk anaknya di pondok pesantren, karena ada jadwalnya. “Ada, sesuai jadwal sekolah, minggu ke 1 kepulangan dan minggu ketiga penjengukan,” katanya.
Kondisi jarak yang jauh menjadi salah satu tantangan Ina dan keluarganya memilih menyekolahkan sekolah boarding.
“Adaptasi awal, jauh dari orang tua, dan mengikuti aturan yang ketat. Kendala anak Alhamdulillah tidak ada, anak betah,” ujar Ina. (uri/harir)





