BANTENRAYA.CO.ID – Mengajarkan ilmu dan menciptakan ruang pembelajaran bukan sekadar upaya memajukan kualitas sumber daya manusia, melainkan juga bentuk investasi abadi yang manfaatnya akan terus dirasakan sepanjang masa.
Semangat tersebut juga diperkuat pada sebuah hadits riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa ada tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski seseorang telah meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah atau wakaf, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang saleh.
Ketiga perkara ini dikategorikan sebagai investasi kehidupan akhirat, karena kebaikan dan manfaat yang ditimbulkannya terus mengalir kepada orang lain.
Mendirikan sarana pendidikan serta mengajarkan keterampilan menulis dan berbagai ilmu pengetahuan menjadi wujud nyata dari amalan yang dimaksud dalam ajaran tersebut.
Hal inilah yang dijadikan pedoman hidup dan landasan kuat oleh Gol A Gong, bersama istrinya Tias Tatanka dan rekannya Toto ST Radik,
ketika mereka merintis dan membangun Rumah Dunia sebagai wadah pengembangan literasi dan pusat kebudayaan di Kota Serang, Provinsi Banten.
Sore itu salah satu ruang di Rumah Dunia penuh dengan anak-anak yang tengah menggambar dan mewarnai. Ada yang serius dan ada pula yang santai menggerakkan krayon untuk menuangkan imajinasinya ke atas kertas.
Aktivis menggambar salah satu kegiatan rutin untuk anak-anak sekitar Rumah Dunia. Gol A Gong bersama istrinya Tias Tatanka dan seorang relawan membersamai kegiatan tersebut.
BACA JUGA : Makan Sambil Nikmati Sunset di The West Cove Cuma Rp150 Ribu
Rumah Dunia adalah sebuah komunitas literasi atau taman bacaan masyarakat (TBM) dan pusat kebudayaan yang berlokasi di Kota Serang, Provinsi Banten.
Rumah Dunia didirikan oleh pasangan penulis Heri Hendrayana Harris atau lebih dikenal sebagai nama pena Gol A Gong, bersama sang istri, Tias Tatanka dan rekannya Toto ST Radik, pada 3 Maret 2002.
Lokasi persisnya di belakang rumah Gol A Gong-Tias Tatanka yakni di Komplek Hegar Alam, dan berbatasan dengan Lingkungan Ciloang, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten.
Gol A Gong mengatakan, Rumah Dunia sebagai taman bacaan sekaligus wadah kreatif bagi masyarakat.
Ia menuturkan, mendirikan Rumah Dunia berawal dari kepedulian melihat ketertinggalan wawasan masyarakat di wilayah yang secara geografis berdekatan dengan Jakarta.
Kini Rumah Dunia menjelma menjadi taman bacaan dan pusat pembelajaran yang terus beroperasi secara aktif selama lebih dari dua dekade.
Gol A Gong menjelaskan, tujuan mendirikan Rumah Dunia sejatinya merupakan bentuk investasi ilmu pengetahuan, terutama relawan dan masyarakat sekitar.
“Kami ingin ilmu yang kami miliki bisa diwariskan kepada para relawan, yang nantinya akan dikembangkan di daerah masing-masing.
BACA JUGA : Cobain Uniknya Meltd Me Burger dengan Isian Es Krim
Bayangkan jika semangat ini menyebar ke seluruh Banten, pasti provinsi ini akan tumbuh dan maju,” ujar Gol A Gong, ditemui di sela-sela kegiatannya di Rumah Dunia, Sabtu (9 Mei 2026).
Ia menegaskan, kehadiran Rumah Dunia bukan sekadar sensasi sesaat, melainkan komitmen jangka panjang yang terbukti tetap bertahan dan berkarya di bidang literasi hingga hari ini.
Dorongan mendirikan Rumah Dunia juga muncul dari keprihatinan mendalam.
Gol A Gong mengungkapkan, wilayah ini termasuk jalur sejarah yakni Jalan Raya Pos Daendels yang melintasi Serang, tetapi secara umum tertinggal sekitar 25 tahun dari segi kemajuan wawasan dibandingkan Jakarta.
BACA JUGA : Makan Sambil Nikmati Sunset di The West Cove Cuma Rp150 Ribu
Bahkan di kawasan seperti Lingkungan Ciloang, tempat yang dulunya menjadi lokasi aktivitasnya seperti jogging dan pawai obor sekolah, kesenjangan pengetahuan diperkirakan mencapai 50 tahun.
“Tanpa Rumah Dunia, mungkin banyak anak muda di sini masih mengamen di jalanan. Bukan berarti mengamen itu hina, tetapi tidak niat untuk menjadi musisi,” jelas penulis novel best seller Balada Si Roy ini.
Gol A Gong berharap keberadaan Rumah Dunia dapat memberikan contoh kepada pemerintah dan pemegang kebijakan bahwa pendidikan formal dan non formal memerlukan dukungan nyata, bukan hanya sekadar formalitas penyaluran bantuan atau pemenuhan kewajiban administratif.
“Di Serang itu kan banyak taman bacaan-taman bacaan. Dilihat dulu program-programnya, bisa meningkatkan kapasitas warga belajarnya nggak.
BACA JUGA : Siswa SMP 10 Cilegon Juara Pencak Silat Banten Open
Atau dinas pendidikan punya program yang sifatnya hanya menggugurkan kewajiban, hanya formalitas, itu juga bukan investasi,” katanya.
Rumah Dunia hingga saat ini masih memfokuskan kegiatannya pada tiga bidang utama yakni jurnalistik, sastra, dan film.
Ketiga ilmu disiplin ini dipilih karena dinilai mampu membentuk pola pikir kritis, mengembangkan daya ungkap, dan mengemas informasi secara menarik sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam perintah Iqra dan Qolam dalam Al-Qur’an.
Bahkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau AI, ketiga keterampilan ini tetap dianggap sebagai solusi terbaik dan terus diajarkan.
BACA JUGA : Sekolah Swasta Diburu Warga
Pembelajaran di sini terbuka untuk semua kalangan tanpa batasan usia. Jadwal kegiatan disesuaikan dengan kelompok peserta.
Senin hingga Jumat diperuntukkan bagi anak-anak dengan materi menggambar, mengarang, membaca puisi, dan acara rutin seperti Kado Lebaran serta Pesta Anak.
Sementara Sabtu dan Minggu menjadi waktu belajar bagi orang dewasa melalui diskusi buku, diskusi film, hingga peringatan Hari Buku Sedunia.
Meskipun jumlah relawan dan jumlah peserta yang hadir secara fisik kini berkurang seiring dengan kemudahan akses informasi melalui internet, semangat berkegiatan tidak pernah surut.
BACA JUGA : Puteri Indonesia Dorong Pemberdayaan Perempuan
“Misalnya dulu bisa 100 orang yang dateng, sekarang paling 50. Jadi rame nya tetap berkegiatan tetapi audiensnya yang berkurang karena mereka menganggap lewat internet sudah cukup,” kata Gol A Gong.
Seluruh kegiatan di Rumah Dunia diselenggarakan secara gratis. Untuk Kelas Menulis, peserta hanya diminta menyumbang dana sebesar Rp100.000 yang digunakan untuk biaya operasional, konsumsi, dan buku.
Semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab bersama, bukan biaya pelati. Para pengajar dan relawan pun mengabdi tanpa menerima imbalan materi.
Tolok ukur keberhasilan pembelajaran diukur dari kemampuan praktis peserta, bukan sekadar sertifikat. Lulusan Kelas Menulis diharapkan mampu menulis berita dan mempublikasikannya melalui media online milik Rumah Dunia, yaitu golangongkreatif.com.
BACA JUGA : Makan Sambil Nikmati Sunset di The West Cove Cuma Rp150 Ribu
Sementara, karya sastra mereka sering kali diterbitkan dalam bentuk buku antologi yang diluncurkan setiap Hari Buku Sedunia atau moment lainnya.
“Jadi sebetulnya gak ada yang berubah, Rumah Dunia programnya tetap berjalan dan berkembang. Ditambah sekarang ada Kelas Film dari Igun, relawan angkatan pertama,” tegas Gol A Gong.
Gol A Gong menyebutkan, hingga saat ini Kelas Menulis Rumah Dunia telah memasuki angkatan ke-43, dengan jeda satu angkatan selama masa pandemi Covid-19, sekitar tahun 2019-2020.
Peserta tidak hanya berasal dari Banten, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Bandung, Sulawesi, dan Palembang pada masa-masa awal.
BACA JUGA : Yorday Jadi Pelopor Cafe 24 Jam di Kota Cilegon
Kini, dengan semakin banyaknya lembaga serupa di luar daerah, peserta lebih banyak berasal dari wilayah sekitar seperti Tangerang, Lebak, dan Pandeglang.
Setiap gelombang pendidikan selalu melahirkan talenta baru. Banyak alumni yang kini bekerja sebagai wartawan, penulis profesional, pendidik, atau bahkan mendirikan lembaga pembelajaran serupa di daerahnya.
Salah satu contohnya adalah Ibnu Adam Aviciena yang menjabat direktur lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) sekaligus tetap aktif menulis, serta Harir Baldan di koran lokal Banten dan Ali Sobri yang berkarya di Jakarta.
“Ada juga Daru dan Wayang yang berprofesi sebagai dosen namun tetap mengembangkan bakat literasi dan mengajak mahasiswanya belajar ke Rumah Dunia,” ungkap dia.
BACA JUGA : Robinsar Nyerah Dirayu Bank Banten
Gol A Gong telah menyiapkan langkah strategis agar Rumah Dunia dapat terus berjalan meski ia sudah tidak ada nanti.
Lembaga ini telah berbadan hukum menjadi Yayasan Pena Dunia, dengan dukungan entitas usaha Gong Media Cakrawala.
Lahan seluas 3.000 meter persegi yang dimiliki juga harus dikelola secara mandiri untuk keberlangsungan operasional.
“Saya berharap para alumni dan relawan dapat merawat dan melanjutkan apa yang telah kami bangun. Ilmu yang kami bagikan adalah investasi yang tidak akan pernah habis,” pesannya.
BACA JUGA : Bank Banten Bidik Laba Rp75 Miliar di 2026, Percaya Diri Berkat RKUD
“Jadi nanti kalau misalnya saya gak ada umur, ya sudah terusin aja. Gedung bisa disewain. Sekarang saya agak ringan untuk membiayai Rumah Dunia.
Dulu kan masih ditangani sendiri. Sekarang mereka sudah pada kerja, sudah bisa nyumbang,” pungkasnya.
Dengan demikian, Rumah Dunia menjadi bukti nyata bahwa komitmen, kompetensi, dan ketulusan dalam berbagi ilmu mampu mengubah nasib banyak orang dan memberikan manfaat yang abadi bagi masyarakat. (harir)





