Al Khairiyah Pelopor Pendidikan Islam

Al Khairiyah Pelopor Pendidikan Islam
KAMPUS AL KHAIRIYAH: Suasana kampus Al Khairiyah di Jalan Enggus Arja, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Minggu (10 Mei 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Al Khairiyah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang menjadi epicentrum peradaban di Banten dan sebagian besar Indonesia.

Al Khairiyah lahir pada 5 Mei 1925 atau kini sudah berusia 101 tahun.

Al Khairiyah juga menjadi salah satu pelopor lembaga yang mempraktikkan pendidikan Islam modern berupa madrasah, seperti Al Azhar di Mesir dengan tingkatan kelas.

Nama Al Khairiyah diambil dari bendungan besar di Mesir. Saat itu, pendiri Madrasah Al Khairiyah Brigjen KH Syamun terinspirasi oleh filosofi bendungan yang membawa manfaat untuk penampung air dan mengaliri air di sawah masyarakat.

BACA JUGA : Hari Pendidikan Nasional: Ketika Karakter Melemah, Guru Kehilangan Wibawa

Artinya, Al Khairiyah diharapkan menjadi seperti bendungan yang menampung pengetahuan ilmu agama dan teknologi, lalu mengalir sampai ke lingkungan masyarakat.

bahkan, diharapkan Al Khairiyah yang artinya adalah kebaikan secara bahasa Arab bisa memberikan berkah kepada masyarakat.

Keberadaan lembaga pendidikan Al Khairiyah sendiri sudah memiliki hampir 764 cabang atau madrasah alias lembaga pendidikan atau perguruan semua tingkatan mulai dari taman baca Alquran hingga universitas di 11 Provinsi dan 24 kabupaten dan kota di Indonesia.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Khairiyah yang juga generasi ketiga atau alias cucu Brigjen KH Syamun Alwiyan Qosid Syamun menjelaskan, madrasah atau perguruan Al Khairiyah lahir atas dasar kegelisahan pendirinya Brigjen KH Syamun, terhadap persoalan keumatan.

BACA JUGA : Makan Sambil Nikmati Sunset di The West Cove Cuma Rp150 Ribu

Dimana saat itu bangsa Indonesia khususnya di Cilegon menjadi kaum yang terjajah oleh kolonialisme Belanda. Hal itu, membuat masyarakat sangat tertinggal secara pendidikan, ekonomi dan kebudayaan.

“Ki Syamun mendirikan Al Khairiyah karena bagaimana pun pendidikan itu media. Tokoh belahan dunia mana pun dan para nabi menggunakan pendidikan sebagai media pembaharuan.

Dengan pendidikan manusia bisa tercerahkan berbudaya dan berperadaban yang luhur. Pada 5 Mei 1925 Al Khairiyah sebagai antitesis pendidikan penjajahan belanda saat itu. Al Khairiyah bentuk sikap perlawanan,” katanya, Minggu (10 Mei 2026).

Alwiyan menyatakan, selain misi pendidikan, KH Syamun juga memiliki semangat menyejahterakan umat dengan mendirikan Koperasi Bumi Putera dan berjuang melawan kolonialisme dengan masuk menjadi militer dan mengangkat senjata.

BACA JUGA : Yorday Jadi Pelopor Cafe 24 Jam di Kota Cilegon

Koperasi didirikan menjadi salah satu pondasi ekonomi untuk melawan kamar dagang atau Naamloze Vennootschap (NV) Commanditaire Vennootschap (CV) atau perusahaan dagang.

“Itu tradisi ekonomi dan intelektual karena di Eropa dan Timur Tengah saat itu para intelektual sudah ada kekuatan koperasi.

Beliau membangun semangat nasionalisme anti kolonialisme, komunisme anti penghisapan manusia kepada manusia lain, itu semangat membela bangsa bagaimana merdeka buka jargon nasionalisme di kelas dan ikut menjadi panglima divisi,” ucapnya.

Al Khairiyah sebagai pondok pesantren kala itu, jelas Alwiyan sudah mengadopsi pendidikan modern madrasah di Timur Tengah tepatnya di Al Azhar Mesir.

BACA JUGA : Mahasiswa Desak Wakil Rektor III UIN SMH Banten Mundur

Dimana, madrasah sudah ada konsep kela dari kela 0 sampai kelas 7. Masing-masing kelas sendiri sudah ada kurikulumnya.

“Pada 1925 sudah ada kelas dari kelas 0, 1/2 kelas 1 sampai kelas 7 seperti di Mesir sana. Saat itu belum ada pesantren yang memberlakukan kelas seusai kurikulumnya masing-masing.

Sekarang Al Khairiyah berkembang bukan saja pesantren, tapi pada 2000 an ada sekolah tinggi hingga menjadi universitas sekarang ini,” ujarnya.

Selanjutnya, papar Alwiyan, awal pendirian pada 5 Mei 1925, Al Khairiyah hanya memiliki 20 murid saja.

BACA JUGA : Bupati Serang Diganjar Penghargaan

Baru kemudian berkembang besar dan pada pada 1935 sampai 1940 memiliki ratusan cabang. Itu terjadi karena para murid KH Syamun mendirikan madrasah dan pesantren di masing-masing kampung halamannya.

“Pada 1935 sampai 1940 itu menjadi masa keemasan KH Syamun atau Al Khairiyah.

Cabang Al Khairiyah sudah kemana-mana, cabang madrasah ada yang di Lampung sampai Palembang. Muridnya mendirikan madrasah di kampungnya,” ucapnya.

Sampai sekarang, tegas Alwiyan, untuk madrasah atau perguruan yang ada di bawah Al Khairiyah masih terus memegang adanya kurikulum wajib menghafal 6 kitab ilmu alat misalnya Jurumiah, Matan Bina, Ushul Fikih.

BACA JUGA : Bupati Serang Diganjar Penghargaan

“Yayasan Al Khairiyahnya sudah sangat lengkap, tapi kajian kitab kuning tetap dipertahankan.

Bahkan santri itu wajib menghafal 6 kitab ilmu alat yakni Jurumiyah, Matan Bina usul fikih, dengan menghafal mudah memahaminya harus hafal 6 kitab itu kewajiban,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Besar (PB) Al Khairiyah Ahmad Munji menyatakan, ada sebanyak 764 cabang atau perguruan yang dimiliki Al Khairiyah yang tersebar di 11 provinsi yakni Banten, Lampung,

Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Maluku dan Sulawesi Selatan.

BACA JUGA : Cobain Uniknya Meltd Me Burger dengan Isian Es Krim

“Terbanyak itu di Banten, ini disebarkan melalui alumni dan murid KH Syamun. Tersebar dan akhirnya ke 11 Provinsi,” katanya.

Sekarang, imbuh Munji, pihaknya melalui PB AL Khairiyah juga tengah mengembangkan konsep kaderisasi kembali.

Dimana, harapannya bisa seperti KH Syamun yang para muridnya bisa menyebar dan mendirikan perguruan apakah madrasah dan lainnya.

“Sekarang, konsep tersebut juga tengah dilakukan kembali. Dimana, sekarang sudah ada pembinaan khusus bagi para siswa dan mahasiswa Al Khairiyah.

BACA JUGA : Cobain Uniknya Meltd Me Burger dengan Isian Es Krim

Harapannya, ini bisa membangun pondok pesantren hingga juga perguruan tinggi di masing-masing daerah agar lebih luas lagi,” ujarnya. (uri)

Pos terkait