BANTENRAYA.CO.ID – Sejumlah siswa yang tinggal di Kampung Somang, Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak terpaksa menumpang perahu bambu untuk menyeberangi sungai saat hendak berangkat maupun pulang sekolah.
Hal itu mereka lakukan usai jembatan yang menghubungkan kampung mereka dengan jalan menuju sekolah, terendam dan dibongkar ketika perendaman bendungan Karian.
Selain itu, jembatan itu sebelumnya juga merupakan akses utama warga. Sementara, perahu bambu itu saat ini menjadi transportasi utama bagi warga maupun siswa untuk menyeberang.
Salah seorang siswa, Nina mengatakan, setiap kali menyeberang menggunakan perahu sambil membawa sepeda motor, warga biasanya memberikan uang sebesar Rp5 ribu. Sementara bagi anak sekolah, uang yang diberikan ada yang Rp2 ribu atau bahkan sengaja digratiskan.
BACA JUGA : Pawai Budaya Kota Serang Didorong Tembus Mancanegara
“Setiap nyebrang bayar Rp5 ribu berikut motornya. Kalau anak sekolah ada yang Rp2 ribu, malah kadang gratis,” kata Nina, Minggu (23 Agustus 2026).
Selain menyeberang menggunakan perahu, Nina menyebut bahwa terdapat akses darat lain yang sebetulnya bisa dilalui kendaraan. Namun, akses tersebut harus memutar jauh dan kondisi jalannya sangat rusak.
Warga maupun siswa seperti dirinya akhirnya memilih jalur air menggunakan perahu sebagai akses utama dalam menunjang mobilitas.
Dia berharap jalan yang selama ini dianggap sebagai akses utama dapat segera diperbaiki. Terlebih, menurutnya, sebagian ruas jalan tersebut tidak masuk kawasan rendaman Waduk Karian sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai akses darat.
BACA JUGA : Gubernur Ajak Masyarakat Lanjutkan Perjuangan dengan Kerja Nyata
“Dulu pernah selalu ada kabar bahwa jalan memutar itu mau diperbaiki, tapi sampai sekarang masih jelek saja kondisinya,” imbuhnya.
Pelaku usaha penyeberangan perahu sekaligus Ketua RT setempat, Unar memastikan setiap pemilik perahu di lokasi itu, termasuk dirinya tak pernah mematok tarif pasti bagi masyarakat yang hendak menggunakan jasanya.
“Ini mah keikhlasannya saja. Kalau ada Rp5 ribu, ya Rp5 ribu. Kalau anak sekolah ada yang Rp2 ribu. Tapi kalau tidak punya, ya tidak ngasih,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum menggunakan perahu bambu, warga masih mengandalkan jembatan sebagai akses penghubung. Namun, jembatan tersebut kemudian terendam hingga akhirnya dibongkar.
BACA JUGA : 86 Napi Korupsi Dapat Remisi, 1 Langsung Bebas,
“Tadinya di sini ada jembatan, terus jembatannya terendam lalu dibongkar. Ada jalan ke Sindangsari, tapi harus muter dan kondisi jalannya rusak. Jaraknya juga cukup jauh,” tuturnya.
Dalam sehari, Unar mengaku dapat melayani sekitar 100 penumpang. Ketika aktivitas warga sedang ramai, jumlah penumpang yang menggunakan jasa penyeberangan tersebut bisa mencapai 150 orang.
“Sehari dapat 100, kalau lagi ramai 150. Penumpangnya warga Kampung Somang, anak sekolah juga,” katanya.
BACA JUGA : 164 Wilayah di Banten Masih Kekeringan
Unar tidak menampik warga yang bermukim di dua kampung tersebut berada di kawasan yang masuk lahan rendaman. Kondisi tersebut menjadi risiko yang harus ditanggung masyarakat.
Meski demikian, saat ini terdapat permukiman warga yang berada di zona aman.
Mereka berharap pemerintah segera memberikan solusi terhadap persoalan akses tersebut.
Perbaikan jalan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat, termasuk anak sekolah, tidak terus bergantung pada perahu bambu untuk menyeberangi sungai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.(aldi)





