BANTENRAYA.CO.ID – Kekurangan pasokan air akibat kemarau panjang membuat sejumlah petani di Provinsi Banten terpaksa menunda penanaman padi.
Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas penggarapan sawah, tetapi juga berpotensi menekan luas panen dan produktivitas padi jika ketersediaan air tidak segera terpenuhi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan, kondisi kemarau atau El Nino membuat petani harus menyesuaikan jadwal tanam dengan ketersediaan air.
Sebagian petani tidak bisa melanjutkan kegiatan pertanian karena pasokan air untuk menggarap lahan tidak mencukupi.
BACA JUGA : Perusahaan Belum Butuh Karyawan Baru Lebak Job Fair 2026 Ditiadakan
“Petani banyak yang menyesuaikan kondisi kemarau dan menunda tanam, sehingga luas panen dan produktivitas pun menurun,” kata Saiful, Selasa (20 Oktober 2026).
Untuk membantu petani menghadapi kondisi tersebut, Saiful mengatakan jika pihaknya telah berupaya menyalurkan bantuan pompa dan mengembangkan irigasi perpompaan.
Langkah ini, kata dia, dilakukan agar sumber air yang masih tersedia dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan mendukung kegiatan tanam.
Kendati demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan kekeringan. Saiful menerangkan, penggunaan pompa dan irigasi perpompaan tetap bergantung pada ketersediaan sumber air di sekitar lahan pertanian.
BACA JUGA : Lima Siswa SMPIT Bina Insan Juara PAI Fair dan Youth Festival JSIT
Ketika sumber air terbatas, petani masih kesulitan mengandalkan fasilitas tersebut untuk menjaga keberlangsungan kegiatan tanam.
“Kita coba memberikan pompa dan irigasi perpompaan apabila ada air yang tersedia. Tetapi, kita turun produksi, tetapi kebutuhan beras kita masih surplus,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Banten, produksi padi sepanjang Januari hingga Oktober 2026 tercatat sekitar 1,701 juta ton.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan produksi pada periode 2025 yang mencapai sekitar 1,646 juta ton. Meski secara keseluruhan produksi padi Banten masih meningkat, sejumlah daerah mencatat penurunan.
BACA JUGA : Truk Tambang Seliweran Tiap Hari
Kabupaten Serang, misalnya, menghasilkan sekitar 404,2 ribu ton pada 2026, lebih rendah dibandingkan 2025 yang mencapai 415,4 ribu ton.
itu, produksi padi di Kabupaten Pandeglang meningkat dari sekitar 493,3 ribu ton pada 2025 menjadi 529 ribu ton pada 2026.
Kabupaten Lebak juga mengalami kenaikan dari 404,4 ribu ton menjadi 410,2 ribu ton, sedangkan Kabupaten Tangerang meningkat dari 270,7 ribu ton menjadi 287,4 ribu ton.
Perubahan produksi tersebut juga berlangsung di tengah dinamika luas lahan yang digarap hingga panen.
BACA JUGA : 1,2 Juta Pekerja Rentan Belum Terlindungi
Di Kabupaten Lebak, luas lahan garapan tercatat sekitar 86.072 hektare pada 2026, turun dari 87.043 hektare pada 2025.
Kabupaten Serang juga mengalami penurunan dari sekitar 77.023 hektare menjadi 76.413 hektare.
“Kondisi ini menjadi perhatian karena ketersediaan air berpengaruh terhadap kemampuan petani mempertahankan jadwal tanam.
Ketika pengairan tidak berjalan optimal, petani harus menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk kembali menggarap sawah,” tandas Saiful.
BACA JUGA : DPRD Sempurnakan Perda Pekat Bersama Ulama
Sementara itu, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang yang juga seorang anggota DPRD Banten, Anton Haerul Samsi, berharap kemarau tidak semakin mengganggu hasil panen petani.
Ia meminta persoalan kekeringan menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama dalam menjaga pasokan air ke seluruh area persawahan.
“Harapan kita, petani ini tetap bisa menggarap sawah mereka meskipun kemarau. Mudah-mudahan ke depan akan ada banyak bantuan untuk menjaga pasokan air ke semua area pesawahan yang ada,” kata Anton. (raffi)





