BMKG Ingatkan Bahaya Polusi Udara

BMKG Ingatkan Bahaya Polusi Udara
Ilustrasi: Asap karhutla yang menyebar di udara hingga ke wilayah Banten dan Jabodetabek.

BANTENRAYA.CO.ID – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatera dan Kalimantan mulai memasuki wilayah Provinsi Banten.

Kondisi ini memunculkan kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara, terutama di Serang bagian utara dan Kota Cilegon yang telah terpantau terdampak sebaran asap.

Berdasarkan citra satelit Himawari-9, Stasiun Meteorologi Maritim (Stamar) Kelas I Merak mencatat pergerakan asap karhutla tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, diimbau menggunakan masker untuk mengantisipasi paparan asap dan polusi udara.

BACA JUGA : Skor PISA Naik, Kualitas Pembelajaran Belum Memuaskan

Ketua Pokja Data dan Informasi Stamar Kelas I Merak pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banten, Akhmad Fadholi, membenarkan asap dari kebakaran hutan dan lahan di luar wilayah Banten mulai memasuki sejumlah daerah.

“Iya benar sudah mulai masuk. Untuk sebaran asap karhutla sementara menjangkau Serang bagian Utara dan Cilegon, mas,” katanya, Senin (19 Oktober 2026).

Fadholi menjelaskan, asap karhutla yang mencapai permukaan tanah dapat bercampur dengan polusi yang sudah ada di Banten.

Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar.

BACA JUGA : Dua Siswi MIN 1 Serang Juara Olimpiade IPAS dan Bahasa Arab

“Tentunya jika asap karhutla sampai ke permukaan tanah dan bergabung dengan polusi yang ada di wilayah Banten, itu dapat memperburuk kualitas udara,” ujarnya.

Oleh karena itu, masyarakat yang bekerja maupun melakukan aktivitas di luar ruangan diminta meningkatkan kewaspadaan.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah antisipasi yang disarankan, terlebih Banten belum memasuki musim hujan sehingga paparan debu dan polusi masih perlu diperhatikan.

“Jadi untuk masyarakat tetap waspada, usahakan memakai masker dalam beraktifitas di luar ruangan karna kondisi Banten juga belum masuk musim hujan sehingga paparan debu dan polusi masih tinggi. Demikian mas,” katanya.

BACA JUGA : MBG Tak Efektif Turunkan Stunting

Meski asap karhutla telah terpantau memasuki Banten, Fadholi menyebut intensitasnya saat ini cenderung menurun dibandingkan hari sebelumnya. Perkembangan tersebut merujuk pada pembaruan informasi dari BMKG pusat.

“Seperti yang diupdate oleh BMKG pusat, sementara intensitas menurun, mas,” katanya.

Namun, ia belum dapat memastikan kapan sebaran asap tersebut akan sepenuhnya berakhir. Kondisinya masih bergantung pada perkembangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah asal, baik di Sumatera maupun Kalimantan.

“Ini kami kurang tau ya, tentunya ini sangat bergantung dari kondisi di area karhutla apakah menurun/tetap/meningkat, namun demikian harapan kami ini akan cepat selesai,” timpalnya.

BACA JUGA : 40 Ribu Warga Banten Belum Masuk Desil, Dinsos Kewalahan Verifikasi Data

Di sisi lain, Kasubag TU Stamar Kelas I Merak, Trian Asmarahadi, mengingatkan masyarakat Banten agar turut mencegah terjadinya kebakaran lahan.

Meski titik panas atau kejadian kebakaran di Banten disebut masih minim, aktivitas yang berpotensi memicu api tetap perlu dikendalikan agar tidak memperburuk kondisi lingkungan.

Ia secara khusus mengingatkan warga agar tidak sembarangan membakar ilalang maupun sampah di kebun.

Upaya pencegahan tersebut dinilai penting untuk menghindari munculnya kebakaran baru di tengah kondisi sebaran asap karhutla yang mulai memasuki wilayah Banten.

BACA JUGA : Nasib Manajer Kopdes Tak Jelas

“Walaupun titik panas atau kebakaran di Provinsi Banten ini sangat minim, tetapi masyarakat harus tetap berhati-hati. Jangan sampai membakar ilalang atau sampah dikebun, harus dikontrol,” katanya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang memastikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayahnya masih dalam tren datar dan belum mengalami peningkatan signifikan.

Pernyataan itu disampaikan di tengah isu dampak asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang dikabarkan masuk wilayah Provinsi Banten.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti mengatakan, ISPA merupakan kumpulan banyak penyakit yang menyerang saluran napas bagian atas maupun bawah dengan spektrum yang sangat luas.

BACA JUGA : Dosen dan Mahasiswa Unpam Dorong UMKM Optimalkan Biaya dan Tingkatkan Laba Usaha

“ISPA adalah kumpulan banyak penyakit mengenai saluran napas bagian atas ataupun bagian bawah. Spektrumnya sangat luas,” ujarnya, Senin (19 Oktober 2026).

Berdasarkan data beberapa bulan terakhir, pihaknya belum mencatat adanya lonjakan kasus. “Kalau kita lihat data dari bulan-bulan kemarin, belum ada peningkatan secara signifikan. Jadi trennya masih flat,” katanya.

Terkait isu dampak asap Karhutla yang dikabarkan sudah sampai wilayah Banten dan membuat cuaca memburuk, Dinkes menyebut hal itu masih ditelusuri dan belum terkonfirmasi masuk Kabupaten Serang.

“Untuk dampak asap Karhutla sampai saat ini belum sampai ke sini,” jelasnya.

BACA JUGA : Dosen dan Mahasiswa Unpam Dorong UMKM Optimalkan Biaya dan Tingkatkan Laba Usaha

Ia mengatakan, informasi dari BMKG memang menyebut Jakarta dan Banten terdampak, namun secara resmi laporan rutin dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang belum melaporkan adanya pergerakan asap.

“Itu harus dievaluasi. Karena dari BPBD pun belum ada laporan dampak asap dari Karhutla. Kalau saya tunggu data dari BPBD dulu, asapnya bergerak ke mana,” paparnya.

Meski belum ada dampak asap, Pihaknya tetap melakukan antisipasi melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah ISPA. “Kita lebih ke edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Yang pertama tingkatkan daya tahan tubuh kita, kemudian pakailah APD, cuci tangan supaya kita tidak mudah terinfeksi kuman dari luar,” tuturnya.

BACA JUGA : Pemprov Pilih Bantu Air Bersih

Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, dan selalu menggunakan masker jika terpaksa harus keluar, terutama saat ada paparan asap.

“Kalau misalnya ada paparan asap, berarti penggunaan APD, kemudian tidak keluar rumah kalau tidak perlu-perlu banget. Kalau terpaksa keluar rumah ya pakailah masker,” katanya. (raffi/andika)

Pos terkait