BANTENRAYA.CO.ID – Enam sekolah jenjang SMA di Banten ditetapkan menjadi sekolah percontohan penggunaan AI. Enam sekolah tersebut yakni SMAN 1 Pandeglang, SMAN 1 Jawilan, SMAN 1 Kramatwatu, SMAN 1 Cilegon, SMA Swasta Hellomotion, dan SMAN 2 Kota Tangerang Selatan.
Pembelajaran menggunakan AI ini sesuai arahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah nomor 0010 tahun 2026 tentang Penetapan Satuan Pendidikan Pelaksana Program Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding dan Kecerdasan Artifisial, tertanggal 12 Maret 2026.
Kepala SMA Negeri 1 Cilegon Agus Pancasusila mengatakan, penetapan tersebut menjadi kesempatan bagi sekolah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
Menurutnya, SMA Negeri 1 Cilegon ditetapkan sebagai salah satu sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) di Provinsi Banten pada 2026.
BACA JUGA : Masduki Pimpin PAPPRI Cilegon, Janji Semarakkan Hari Musik Nasional
Sekolah ini diharapkan menjadi rujukan bagi satuan pendidikan lain dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ke dalam proses pembelajaran.
“Alhamdulillah, SMAN 1 Kota Cilegon pada tahun 2026 ini dipilih sebagai salah satu SMA yang menjadi sekolah model di Provinsi Banten,” kata Agus, Minggu (25 Oktober 2026).
Agus menjelaskan, program tersebut merupakan percontohan bagi sekolah-sekolah lain dalam menerapkan pembelajaran mendalam serta koding dan kecerdasan artifisial.
Karena itu, pemanfaatan AI diharapkan tidak terbatas pada pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran.
BACA JUGA : Budi Rustandi Puji Semangat Gotong Royong Warga Gelam Bangun Gapura
“Setiap guru dalam setiap pembelajaran diharapkan bisa menggunakan kecerdasan buatan agara pembelajaran lebih menyenangkan. Apa pun itu harus berbasis AI dan pembelajaran mendalam,” ujarnya.
Menurut Agus, penerapan AI tidak harus dilakukan melalui satu mata pelajaran khusus. Konsep kecerdasan buatan dapat disinergikan dengan materi yang diajarkan guru, termasuk ketika memberikan tugas kepada siswa.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan menjadi sarana pendukung pembelajaran, bukan sekadar alat untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah.
Guru juga perlu mengarahkan siswa agar memahami materi dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
BACA JUGA : Perusahaan Belum Butuh Karyawan Baru Lebak Job Fair 2026 Ditiadakan
Ketentuan dalam keputusan Dirjen nomor 0010 tahun 2026 mengatur bahwa sekolah model memiliki sejumlah tugas.
Di antaranya membentuk tim kerja untuk mengawal implementasi, mengintegrasikan pembelajaran mendalam dan KKA ke dalam kurikulum, serta menerapkannya dalam kegiatan belajar dan tata kelola sekolah.
Sekolah model juga diwajibkan menyusun proyek pengembangan, membentuk kelompok belajar guru, melaksanakan asesmen formatif dan sumatif, membangun kemitraan dengan orang tua serta masyarakat, dan mendokumentasikan praktik baik.
Perkembangan program harus dilaporkan secara berkala, termasuk melalui laporan bulanan.
BACA JUGA : Pengelolaan Dana Sekolah Gratis Harus Transparan
Agus berharap, penetapan SMAN 1 Cilegon sebagai sekolah model dapat mendorong guru dan siswa semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Pengalaman penerapan program di sekolahnya juga diharapkan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi sekolah lain di Banten dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna dan sesuai kebutuhan zaman.
Kepala SMA Negeri 1 Pandeglang Jubaedi juga membenarkan sekolahnya mulai tahun 2026 ini menerapkan pembelajaran AI.
Dia mengungkap, terkait penerapan AI dalam pembelajaran, ada beberapa kategori yang diterapkan dalam pembelajaran di SMAN 1 Pandeglang.
BACA JUGA : Budi Rustandi Puji Semangat Gotong Royong Warga Gelam Bangun Gapura
Pertama, AI sebagai mata pelajaran, yaitu Koding dan Kecerdasan Artifisial. Materi ini mulai diajarkan sejak tahun ajaran 2026/ 2027 untuk siswa kelas X.
Kedua, AI digunakan dalam fungsinya sebagai penerapan teknologi untuk membantu guru-guru dalam pembelajaran. “Ini digunakan oleh seluruh guru mata pelajaran, baik perencanaan, pelaksanaan, maupun asesmen/ penilaian,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten Yeremia Mendrofa mengatakan, dia menyambut baik penetapan enam SMA di Banten sebagai sekolah model implementasi pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial (AI).
Baginya, ini merupakan kesempatan bagi Banten untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja di masa depan.
BACA JUGA : DPRD Sempurnakan Perda Pekat Bersama Ulama
“Namun, kita juga harus melihat persoalan mendasar pendidikan kita. Ketika kemampuan literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran masih menjadi tantangan, penerapan AI jangan sampai hanya menjadi program yang terlihat modern, tetapi tidak menyentuh persoalan inti pendidikan,” ujarnya.
Yeremia yang merupakan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Banten ini mengatakan, AI harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
Teknologi AI dapat membantu guru menyusun materi yang lebih interaktif, memberikan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, serta memudahkan pemahaman konsep yang sulit.
Tetapi, siswa tetap harus mampu membaca dengan baik, memahami persoalan, berpikir kritis, berhitung, dan menyampaikan argumentasi berdasarkan fakta.
BACA JUGA : Perusahaan Belum Butuh Karyawan Baru Lebak Job Fair 2026 Ditiadakan
“Jangan sampai siswa mahir menggunakan AI, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk berpikir mandiri.
Kita ingin AI membantu siswa belajar lebih baik, bukan sekadar menghasilkan jawaban secara instan,” katanya.
Selain itu, penerapan AI harus menjawab tantangan kualitas pendidikan, termasuk hasil PISA. Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam literasi membaca, matematika, dan sains.
Karena itu, implementasi AI harus dikaitkan secara nyata dengan penguatan kemampuan dasar tersebut.
BACA JUGA : Kota Serang Dapat Bantuan Bus Sekolah di 2027
“Kita perlu memastikan apakah penggunaan AI benar-benar membantu siswa memahami bacaan, memecahkan persoalan matematika, mengembangkan penalaran ilmiah, dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang menggunakan teknologi, tetapi dari kemajuan kompetensi siswanya,” tuturnya.
Kesiapan guru dan pemerataan akses juga menurunya harus menjadi prioritas. AI tidak akan memberikan hasil optimal apabila guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai, infrastruktur internet belum merata, dan perangkat pembelajaran belum tersedia.
Jangan sampai hanya sekolah tertentu yang menikmati kemajuan teknologi, sementara sekolah lain semakin tertinggal.
BACA JUGA : Lima Petinggi Polda Banten Diganti
“Pemerintah Provinsi Banten perlu berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan pelatihan guru, ketersediaan perangkat, akses internet, dan pendampingan implementasi berjalan secara berkelanjutan,” kata Yeremia.
Dia menambahkan, enam sekolah model di Banten ini perlu dijadikan tempat pembelajaran dan evaluasi sebelum praktik baiknya diperluas ke sekolah lain.
Pemerintah perlu menetapkan indikator yang jelas, mulai dari peningkatan literasi dan numerasi, kualitas penalaran siswa, kompetensi guru, hingga kemampuan menggunakan AI secara etis.
“Kita juga harus memperhatikan perlindungan data pribadi siswa, risiko informasi yang keliru, plagiarisme, serta ketergantungan berlebihan pada teknologi.
BACA JUGA : Skor PISA Naik, Kualitas Pembelajaran Belum Memuaskan
Siswa harus diajarkan untuk memverifikasi jawaban AI, bukan menerima semua informasi yang dihasilkan begitu saja,” tuturnya.
Yeremia menegaskan, teknologi hanyalah alat. Kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh kualitas guru, kurikulum, proses pembelajaran, lingkungan sekolah, dan kesungguhan pemerintah dalam memperbaiki sistem pendidikan.
Ia berharap enam sekolah model di Banten ini tidak hanya menjadi proyek percontohan teknologi, tetapi benar-benar menghasilkan praktik pembelajaran yang terbukti meningkatkan kualitas siswa.
“Kita tidak boleh mempertentangkan AI dengan kemampuan dasar. Justru AI harus digunakan untuk memperkuat literasi, numerasi, kreativitas, karakter, dan daya kritis generasi muda.
BACA JUGA : Warung Makan Ibu Lampung Tempat Sarapan Favorit warga Serang
Sebab tujuan kita bukan sekadar mencetak generasi yang mampu menggunakan AI, melainkan generasi yang mampu berpikir kritis, bijak menggunakan teknologi, berkarakter, dan siap bersaing di masa depan,” tutupnya. (tohir)





