BANTENRAYA.CO.ID – Ratusan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Provinsi Banten yang belum mulai menjalankan usaha bisnisnya,
meski sudah dilanuching serentak oleh Presiden Prabowo Subianto. Adapun yang menjadi kendala koperasi belum beroperasi karena kesulitan mencari tempat.
Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoumperindag) Kabupaten Serang Mokhamad Rifqi mengatakan,
banyak keluhan-keluhan yang masuk dari Kopdes Merah Putih khususnya bagi yang belum memiliki tempat usaha.
SMAIT RJ Berkontribusi Dominasi Raih Juara
“Keluhan-keluhan yang ada di 326 desa, kebanyakan terkait dengan kantor koperasinya belum ada, tempat usahanya juga belum ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari 326 desa di Kabupaten Serang, hanya ada empat Koperasi Desa Merah Putih yang sudah menjalankan usahanya.
Di antaranya seperti Desa Ranjeng, Desa Citerep di Kecamatan Ciruas; Desa Nanggung di Kopo, dan Desa Mekarsari di Kecamatan Anyar. “Nah itu yang kami lihat sekilas, karena kami belum datang ke desa-desa,” katanya.
Rifqi menuturkan, meski Kopdes Merah Putih bisa bertempat di kantor desa, namun banyak desa yang belum memiliki bangunan sendiri bahkan sebagian kantor desa mengalami kerusakan.
Melanggar Perda, Gedung Farmasi Disegel Satpol PP Kota Tangerang
“Jadi kalau seandainya kantor desanya rusak mereka bisa mencari rumah warga yang sudah tidak terpakai untuk digunakan selama satu tahun,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, masih banyak pengurus Kopdes Merah Putih yang belum faham tentang perkoperasian, sehingga Diskoumperindag menggelar Bimtek selama tujuh hari.
“Sebelumnya banyak dari mereka yang enggak tahu koperasi itu seperti apa. Makannya dari tanggal 23 Juli sampai 29 Juli kita adakan bimtek supaya mereka melek koperasi,” paparnya.
Banyak dari pengurus Kopdesa Merah Putih mempertanyakan kapan bantuan akan turun, serta mekanisme pinjaman modal yang akan di salurkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Dongkrak PAD, Gubernur Bidik Transaksi GIIAS Rp20 Triliun
“Jadi saran dari Diskoumperindag, manfaatkan uang simpanan wajib maupun simpanan pokok yang sudah terkumpul untuk dijadikan modal awal,” tuturnya.
Terpisah, Sekretaris Kopdes Merah Putih Desa Waringinkurung Jalaludin Alafgani mengatakan, belum bisa memulai kegiatan bisnisnya karena belum menemukan tempat yang cocok.
“Masih bingung karena belum ada tempatnya, modalnya juga belum ada karena kita masih mengurus administrasi untuk pencarian modal,” ujarnya, Jumat (25 Juli 2025).
Jalaludin berencana mengembangkan bisnisnya dengan membuka agen BRIlink dan penyedia kebutuhan gas elpiji yang akan disalurkan ke tiap-tiap pangkalan.
Lampu Hias Taman Badak KP3B Sengkleh
“Rencana usahanya itu, tapi kendalanya kita belum ada modal dan kantor desa juga masih dalam tahap pembangunan. Sekarang ketua kita sedang ikut pelatihan,” katanya.
Ketua Kopdes Merah Putih Desa Ranjeng Cahyadi mengatakan, setelah launching pihaknya langsung menjalankan program yang sudah dicanangkan sebelumnya.
“Terutama untuk pengembangan penambahan keanggotaan, saya mencoba untuk menambah produk-produk yang ada di yang ada di gerai kita,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan, ada beberapa penyedia yang menawarkan kerja sama seperti produk merek Kapal Api, dealer yamaha, produk ice creem dan Telkomsel untuk mendukung pembuatan aplikasi sebagai sistem kerja Kopdes Merah Putih.
Lahan Bekas Bongkaran Pedagang Ikan Hias Taman Sari Kota Serang Dipercantik
“Alhamdulillah sekarang dengan Kapal Api mulai bergabung. Kemarin untuk membantu sistem dari Telkomsel pusat sudah datang ke kami dan mensupport akan memberikan aplikasi,” katanya.
Cahyadi menuturkan, di bidang pertanian pihaknya juga sudah mengundang gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Ranjeng untuk minta keterangan kebutuhan pupuk.
“Sehingga sudah bisa memprediksi kebutuhan pupuk di kita itu berapa. Dari usaha konveksi sudah mendapatkan pesanan seragam untuk persiapan bulan Agustus,” jelasnya.
Ia menjelaskan, program yang dijalankan juga cukup baik sehingga lebih dari 500 warga juga sudah mendaftar menjadi anggota koperasi.
Lahan Bekas Bongkaran Pedagang Ikan Hias Taman Sari Kota Serang Dipercantik
“Intinya program-program ini makin ke sini memang oke, pergerakannya semakin cepat kemudian perekrutan anggota juga sudah diadakan. Antusias dari masyarakat untuk menjadi anggota cukup lumayan besar,” tuturnya.
Pria yang menjabat sebagai ketua Koperasi di PT Nikolas Gemilang itu menuturkan, beberapa desa juga sudah mendatangi usahanya untuk saling sharing mengenai Kopdea Merah Putih.
“Beberapa desa datang ke sini cuman kita untuk tidak mengajarkan dan hanya sharing. Saya pikir temen-temen di desa lain juga ada kekurangan dan kelebihan,” paparnya.
Sementara itu, Koperasi Desa Merah Putih di Lebak masih menghadapi satu kendala, yakni profesionalisme kepengurusan.
Kinerja Zakiyah-Najib Dinilai Sesuai Harapan Masyarakat
Kecakapan pengurus koperasi dinilai akan menjadi penentu keberhasilan Kopdes Merah Putih dalam menjalankan fungsinya.
Kendati begitu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak berkomitmen akan konsisten melakukan pembinaan terhadap pengurus Kopdes Merah Putih di Kabupaten Lebak.
“Soal kepengurusan memang tidak bisa dipungkiri masih jadi kendaka. Harus ada pembinaan lebih lanjut,” kata Kepala Bidang Koperasi pada Dinas Koperasi dan UKM Lebak, Asep Wahyudin saat dikonfirmasi Banten Raya.
Asep menuturkan, hal paling fundamental yang harus dipahami pengurus koperasi ialah terkait resiko dalam mengelola kredit atau pinjaman modal usaha. Menurut Asep, modal yang didapatkan koperasi dari pinjaman merupakan sebuah beban.
Siapkan 27 Bukti, Dahlan Iskan Tuntut Deviden Rp54 Miliar ke Jawa Pos
Mengingat, jaminan untuk modal tersebut ialah dana desa. Ia khawatir jika pengelolaan pinjaman modal tidak didahului dengan studi kelayakan,
yang terjadi ialah hasil dari Kopdes Merah Putih di Lebak tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya.
“Seperti di Desa Girimukti, Kecamatan Cilograng yang jadi mock up, atau percontohan. Mereka dapat pinjaman modal dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Itu semua harus dikaji dan harus diawasi ketat oleh kepala daerah maupun kepala desanya,” tuturnya.
Dukung HUT MUI ke 50 dan Halal Fest 2025, Baznas Kota Tangerang Hadirkan Enam Program Ungulan
Di sisi lain, bidang usaha yang dijalankan juga dinilai akan berpengaruh terhadap berjalannya koperasi merah putih.
Asep memastikan, Kopdes Merah Putih di Kabupaten Lebak akan menjadikan sektor usaha riil sebagai yang utama.
Sementara simpan pinjam hanya akan dijadikan usaha sampingan. Untuk itu, pihaknya juga harus memastikan, baik pengurus maupun masyarakat memahami konsep tersebut.
“Jangan ketika koperasi terbentuk, masyarakat mikir koperasi jadi tempat pinjam uang. Intinya, Kopdes Merah Putih di Lebak harus bergerak di sektor riil.
Mencari dan Tandai Lapak PKL di Halaman Masjid Raya Albantani
Seperti di Desa Girimukti yang fokus dengan gula aren. Atau lainnya ya seperti sembako dan sebagainya, klinik, dan sebagainya,” papar Asep.
Sejauh ini, Asep menjelaskan bahwa Kopdes Merah Putih di Lebak tengah bersiap untuk menyambut launching operasional.
Batas waktu persiapan itu direncanakan sampai tanggal 28 Oktober 2025 mendatang.
Selama masa persiapan ini pula, seluruh Kopdes Merah Putih di Lebak melakukan perekrutan calon anggota sekaligus untuk menghimpun simpanan pokok dan simpanan wajib untuk menghimpun modal awal.
Dokter Forensik Sebut Siti Dimutilasi Dalam Kondisi Hidup
“Harus memenuhi syarat seperti membuka rekening, NPWP koperasi, selanjutnya menjadi penyimpanan modal koperasi.
Rencananya, total modal yang didapat dari pemerintah pusat ialah Rp3 miliar,” jelas dia.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Bayah Timur, Rafik Rahmat Taufik memastikan bahwa dirinya akan mengawasi ketat Kopdes Merah Putih di desanya.
Untuk itu, ia juga akan memastikan bahwa Kopdes Merah Putih di Desa Bayah Timur akan bergerak di bidang usaha yang direkomendasikan. Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan potensi pertanian yang ada di Desa Bayah Timur.
Kinerja Zakiyah-Najib Dinilai Sesuai Harapan Masyarakat
“Kopdes Merah Putih di Bayah Timur rencananya akan jualan gas dan sembako. Simpan pinjam itu sampingan saja.
Selain itu, kita juga punya sekitar 35 hektare sawah yang hasilnya bisa dijual lewat Kopdes Merah Putih,” kata Rafik.
Rafik memastikan, Kopdes Merah Putih yang baru saja terbentuk tidak akan mengganggu BUMDes yang memang sebelumnya sudah berjalan.
Bahkan ke depan jika Kopdes Merah Putih sudah efektif, akan bersinergi dengan BUMDes ketika menjalankan usaha.
Anak Dikepung Konten Negatif di Medsos
“Secara umum, kendala sih tidak terlalu besar. Kita hanya masih menunggu modal saja dan harus lebih ekstra dalam mengajak masyarakat,” ujarnya.
Di Kabupaten Pandeglang, sebagian koperasi merah putih hingga saat ini belum berjalan sesuai harapan. Masih ada beberapa koperasi menunggu akta notaris hingga menunggu permodalan.
Kepala Desa Kadubungbang, Kecamatan Cimanuk, Supandis mengatakan, keanggotaan koperasi merah putih di desanya sudah terbentuk, namun saat ini menunggu proses akta notaris yang menjadi tahapan penting dalam pendirian koperasi, hingga modal usaha.
“Sekarang masih proses, nunggu akta notaris selesai, sekaligus Banprov (Bantuan Provinsi) Banten,” kata Supandis.
Meski akta notaris belum selesai, kata dia, koperasi merah putih di desanya sudah menyusun program pemberdayaan koperasi.
Yang menjadi kendala, saat ini karena belum memiliki gedung koperasi. “Sebetulnya gak ada kendala, belum dimulai saja, yang pertama kita juga belum punya gedung,” ujarnya.
Dijelaskannya, rencananya koperasi merah putih di desanya, akan bergerak di bidang pinjam pakai uang, dengan memberikan pinjaman uang kepada masyarakat di bidang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dengan harapan usaha warga mendapatkan permodalan yang baik.
“Ya, pinjam pakai uang buat modal usaha, tanpa jaminan. Pinjaman pertama maksimal Rp 500 ribu. Kalau cicilannya nanti bagus, pinjamannya bisa naik,” jelasnya.
Melanggar Perda, Gedung Farmasi Disegel Satpol PP Kota Tangerang
Sementara itu, pakar ekonomi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Wulan Retnowati mengatakan, pembentukan Koperasi Merah
Putih yang dinilai terlalu tergesa-gesa dikhawatirkan akan menimbulkan sejumlah masalah. Salah satunya adalah kredit yang macet.
“Sebenernya kami menyambut baik peluncuran Koperasi Merah Putih yang dilakukan pemerintah. Apalagi tujuannya adalah untuk pemberdayaan masyarakat desa dan kelurahan lewat koperasi.
Artinya di Koperasi Merah Putih digunakan sebagai sumber modal untuk pemberdayaan desa atau kelurahan tersebut,” kata Wulan, Minggu (27 Juli 2025).
Dari Mimpi Menjadi Kenyataan, bank bjb Bantu MBR Wujudkan Rumah Pertama
Meski bertujuan baik, namun Wulan melihat masalah utama koperasi ada banyak. Salah satunya adalah masalah pendanaan.
Dia mempertanyakan apakah dana yang akan diberikan kepada koperasi akan bisa dikelola secara maksimal?
“Misalnya soal pendanaan, apakah bisa dikelola maksimal oleh koperasi? Apakah koperasi siap mendapatkan dana dari luar?’ katanya mempertanyakan,
Selain soal modal, masalah lain adalah apakah pengelola koperasi mampu mengelola dana tersebut? Bila pengelolanya tidak siap, dia khawatir dana yang ada tidak akan maksimal menumbuhkan ekonomi di desa dan kelurahan.
Melanggar Perda, Gedung Farmasi Disegel Satpol PP Kota Tangerang
“Kalau pengelolanya nggak mampu, sia-siap dana koperasi tidak terkelola dengan baik, tersendat, bahkan menimbulkan fraud,” katanya.
Wulan mengatakan, seharusnya pemerintah tidak hanya menyiapkan dana untuk koperasi tetapi juga harus melakukan pendampingan kepada pengelola koperasi.
Sebab menjalankan koperasi agar bisa berjalan sesuai dengan harapan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Jangan sampai dana yang disalurkan pemerintah, jadi bancakan segelintir orang dan akhirnya jadi kredit macet dan beban pemerintah,” katanya.
Siapkan 27 Bukti, Dahlan Iskan Tuntut Deviden Rp54 Miliar ke Jawa Pos
Wulan menilai program Koperasi Merah Putih adalah program yang bagus. Di saat UMKM tidak bisa mengakses modal ke bank, maka koperasi bisa menjadi solusi UMKM di desa dan kelurahan.
Hanya saja usaha yang dijalankan koperasi tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi tidak memiliki SDM yang handal.
Maka, koperasi akan berakhir seperti BUMDes yang dananya tidak berjalan karena SDM-nya yang kurang mumpuni. “BUMDes nggak jalan karena human being-nya nggak mampu,” katanya.
Pada akhirnya, dana yang sebelumnya dimaksudkan sebagai dana bergulir yang akan memberdayakan semua malah tidak bergulir dan jadi kredit macet.
Ranting Tutupi Jalur Pedestarian Jalan Pangeran Diponegoro Kota Serang
Karena itu menurunya seharusnya pemerintah hanya membentuk koperasi yang sudah siap. Sementara yang belum siap dilakukan pembinaan terlebih dahulu. “Seharusnya membentuk yang siap saja dulu,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten Agus Mintono mengatakan, pembentukan Koperasi Merah Putih di Provinsi Banten sudah mencapai 100 persen.
Dari 1.552 jumlah desa dan kelurahan yang ada di Banten, hanya satu desa yang tidak membentuk koperasi, yaitu Desa Kanekes di Kabupaten Lebak.
Agus mengatakan, setiap Koperasi Merah Putih harus memiliki 7 gerai, yaitu kantor, unit simpan pinjam, klinik, apotek, sembako, gudang, dan logistik/ kendaraan pengangkut darat.
Awal Pekan Depan, PKL Luar Pasar Rau Kota Serang Dibongkar
Selain itu, Koperasi Merah Putih juga harus mengembangkan potensi lain yang ada di daerah tersebut.
Agus mencontohkan, koperasi mockup di Desa Girimukti, Cilograng, Kabupaten Lebak, mengembangkan potensi di bidang perdagangan gula aren.
Mulai dari gula aren batangan, gula aren cair, hingga gula semut atau gula aren bubuk. Bahkan, produk gula aren ini sudah diekspor ke Amerika Serikat. (tohir)





