Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PHE Dorong KSOT Struktur dan Area Migas dengan standar HSSE Ketat

BANTENRAYA.CO.ID — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina menggelar sosialisasi konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT) dalam pengelolaan struktur dan area migas sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi nasional sekaligus menjaga ketahanan energi Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 24 April 2026, ini juga menegaskan komitmen kuat perusahaan terhadap penerapan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) dalam setiap pelaksanaan kerja sama.

KSOT merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi struktur idle dan undeveloped discovery melalui kolaborasi dengan mitra dan penyedia teknologi. Inisiatif ini sejalan dengan terbitnya Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 serta PTK SKK Migas No. 23 Tahun 2025 yang menjadi landasan regulasi dalam pelaksanaan kerja sama operasi dan teknologi di sektor hulu migas.

BACA JUGA : 27 Tahun Cilegon Terus Berkembang

Sebagai bentuk implementasi awal regulasi tersebut, PHE telah membuka kerja sama pengelolaan sumur idle. Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 serta Confidentiality Agreement (CA) untuk Batch 1 dan Batch 2 dengan calon mitra.

Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kementerian ESDM dan SKK Migas atas dukungan regulasi yang membuka peluang kolaborasi lebih luas. Ia menegaskan bahwa KSOT menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong peningkatan produksi migas nasional.

“KSOT merupakan bagian dari strategi kita untuk mendukung kemandirian energi dan meningkatkan produksi migas nasional. Kami mengundang para mitra dan penyedia teknologi untuk berpartisipasi aktif dalam peluang kerja sama ini,” ujar Awang.

BACA JUGA : Hari Bumi 2026, Pertamina Perkuat Transisi Energi dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Berkelanjutan

Dalam pelaksanaannya, PHE menegaskan bahwa seluruh proses bisnis harus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta menjadikan aspek HSSE sebagai prioritas utama.

“Tidak ada kepentingan bisnis perusahaan yang begitu penting sehingga kita harus mengorbankan aspek HSSE,” tegas Awang. Ia juga mengajak seluruh mitra untuk menginternalisasi semangat keselamatan kerja dalam setiap aktivitas operasional.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini menegaskan bahwa kerja sama pengelolaan kemitraan struktur/area sejalan dengan strategic initiatives Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi. “Setiap barel itu sangat berarti sekali buat Pertamina sekarang, every single barrel is very meaningful untuk memperkuat ketahanan energi nasional, apalagi jika melihat situasi geopolitik saat ini,” kata Emma.

BACA JUGA : Cukup Menabung di bank bjb, Bisa Ikut Keseruan BOGORUN 2026

Sementara itu dalam sambutannya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochammad Iriawan, menegaskan pentingnya sosialisasi konsep KSOT dan kemitraan dalam mendorong optimalisasi potensi migas nasional melalui pendekatan yang mengedepankan aspek HSSE. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi migas yang sangat besar, namun belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal.

“Tantangan kita bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengkonversi potensi tersebut menjadi produksi nyata untuk mendukung ketahanan energi nasional. Namun produksi ini harus berjalan seiring dengan dan senantiasa mengutamakan keselamatan, keamanan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” papar Iriawan.

Dalam kesempatan sama, Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menekankan bahwa aspek HSSE harus menjadi fondasi utama dalam setiap upaya peningkatan produksi migas. Ia juga mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi ini sebagai langkah penting dalam memperkuat pemahaman dan implementasi pelaksanaan Permen ESDM No 14/2025.

BACA JUGA : Peluncuran BSPS Tahun 2026 di Jawa Barat dan Kolaborasi Program Pembiayaan Perumahan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Kementerian PKP-Pemprov Jawa Barat dan Bjb

Sejalan dengan itu, Komisaris PHE Nanang Untung, mengingatkan bahwa risiko keselamatan tetap menjadi perhatian Utama di industri hulu migas. “Walaupun skalanya lebih kecil, faktor risiko safety tetap sangat tinggi dan harus menjadi perhatian serius. Produksi yang dihasilkan harus berjalan seiring dengan kemampuan kita dalam mengelola risiko yang muncul,” tambahnya.

Imbauan senada disampaikan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, yang menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam setiap kegiatan hulu migas. Ia juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan operasional, termasuk di lingkungan sekitar wilayah kerja migas.

Lebih lanjut, PHE juga mengumumkan rencana pembukaan kerja sama pengelolaan struktur idle dan undeveloped discovery, yang ditandai dengan sosialisasi kepada calon mitra. Sebanyak 31 struktur yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4 akan ditawarkan dalam skema kerja sama ini dan dibagi dalam 2 batch penawaran.

BACA JUGA : Nasabah Bank BJB Dapat Akses Eksklusif Suroboyo 10K

Melalui sosialisasi ini, PHE berharap calon mitra dapat memahami konsep KSOT secara komprehensif, termasuk peran HSSE dalam memastikan operasional yang aman, andal, dan berkelanjutan. Kolaborasi yang terjalin diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi migas nasional sekaligus menjaga keselamatan pekerja dan lingkungan.

PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). PHE juga senantiasa berkomitmen Zero Tolerance on Bribery dengan memastikan pencegahan atas fraud dan memastikan perusahaan bersih dari penyuapan. Salah satunya dengan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandardisasi ISO 37001:2016. (*)

Narahubung
Hermansyah Y Nasroen
Corporate Secretary
Subholding Upstream Pertamina

Pos terkait