100 Ribu Pekerja Formal Beralih ke Informal

100 Ribu Pekerja Formal Beralih ke Informal
KETENAGAKERJAAN: Sektor pertanian menjadi salah satu serapan tertinggi pekerja informal di Banten pada tahun 2026, saat terjadi penurunan jumlah tenaga kerja formal, Senin (9 Agustus 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat, Non-Performing Loan (NPL) atau kualitas kredit perbankan berada di posisi 2,92 persen pada Semester I 2026.

Meskipun teridentifikasi adanya pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal, data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, pekerja sektor formal merosot signifikan dari 52,19 persen menjadi 48,99 persen, atau kehilangan 100,77 ribu buruh atau karyawan pada Mei 2026.

Selain itu, tenaga kerja berpindah ke sektor informal pertanian sekitar 92,79 ribu orang, proporsi pekerja penuh waktu juga turun ke 77,24 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia mengatakan, pergerakan pekerja pabrik, konstruksi, dan real estate ke sektor pertanian maupun usaha jasa mandiri belum berdampak signifikan terhadap risiko lonjakan kredit macet.

BACA JUGA : Raden Maulana Khafid Dipercaya Jabat Koordinator Humas KKM Kelompok 10 Kemanisan

“Pergeseran status pekerjaan masyarakat ke sektor informal memang memengaruhi profil pendapatan menjadi lebih fluktuatif.

Namun, sejauh ini risiko kredit (exposure) perbankan di Banten tetap terkendali,” kata Sofwan kepada awak media dalam agenda Taklimat Media, Senin (10 Agustus 2026).

Sofwan menambahkan, ketahanan ekonomi masyarakat Banten di tengah transisi ini juga ditopang oleh membaiknya indikator kesejahteraan secara umum.

“Selama tingkat pendapatan informal tersebut masih mencukupi untuk memenuhi kewajiban angsuran, kualitas kredit perbankan akan terus terjaga,” cakapnya.

BACA JUGA : 672 Vape Store Terancam Tutup

Untuk memastikan para pekerja di sektor informal dan pertanian dapat mempertahankan kapabilitas finansialnya,

BI Banten terus memperkuat program pemberdayaan ekonomi lokal, seperti penerapan digitalisasi pertanian (smart farming) dan efisiensi biaya produksi pada kelompok tani pendampingan BI.

“Dengan efisiensi produksi hingga 50 persen dan peningkatan produktivitas panen di sektor basis seperti pertanian, tingkat pendapatan masyarakat dapat terjaga.

Ini menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan daerah secara keseluruhan,” tegas Sofwan.

BACA JUGA : Siswa Sekolah Rakyat Diminta Contoh Andra Soni

Deputi Direktur KPw BI Banten Rawindra Ardiansah menambahkan, tekanan harga pada kebutuhan pokok yang relatif terkendali turut membantu menjaga daya beli masyarakat pekerja.

“Pada inflasi sektor pangan selama 2026, terkendali di angka 2,56 persen melandai dari periode tahun sebelumnya yang mencapai 3,79 persen.

Dan Nilai Tukar Petani (NTP) Mengalami peningkatan menjadi 110,36, mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat di sektor pertanian berada dalam kondisi positif,” kata Rawindra. (raden)

Pos terkait