Kasus ISPA di Banten Capai 1,9 Juta

Kasus ISPA di Banten Capai 1,9 Juta

BANTENRAYA.CO.ID – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Banten yang mencapai hampir dua juta kasus mendapat perhatian dari DPRD Banten.

Pemerintah daerah diminta tidak hanya berfokus pada penanganan pasien, tetapi juga mengevaluasi berbagai faktor yang memicu peningkatan kasus tersebut.

Anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa menilai, kenaikan kasus ISPA dari sekitar 745 ribu kasus pada 2025 menjadi 1,9 juta kasus pada 2026 merupakan kondisi serius yang harus segera direspons pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Yeremia, lonjakan tersebut menunjukkan masih perlunya penguatan dalam upaya perlindungan kesehatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kualitas udara, pencegahan penyakit, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

BACA JUGA : Sekolah Pinggir Jalan, Tempat Belajar Anak Jalanan

“Meningkatnya kasus ISPA dari sekitar 745 ribu kasus menjadi 1,9 juta kasus merupakan kondisi yang harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Yeremia, Senin (10 Agustus 2026).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, jumlah kasus ISPA pada 2025 tercatat sebanyak 745.797 kasus. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 1.939.656 kasus pada 2026.

Kabupaten Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 521.265 kasus.

Selanjutnya Kabupaten Serang 322.255 kasus, Kabupaten Lebak 244.314 kasus, Kabupaten Pandeglang 236.345 kasus, Kota Tangerang 208.586 kasus, Kota Tangerang Selatan 201.574 kasus, Kota Cilegon 118.101 kasus, dan Kota Serang 87.216 kasus.

BACA JUGA : Raden Maulana Khafid Dipercaya Jabat Koordinator Humas KKM Kelompok 10 Kemanisan

Menurut Yeremia, kondisi tersebut perlu diikuti evaluasi menyeluruh untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus.

Ia menyebut perubahan cuaca, polusi udara, kepadatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta berbagai faktor risiko lainnya perlu diperiksa secara serius.

Yeremia menilai penanganan ISPA tidak cukup hanya dengan memberikan pengobatan kepada masyarakat yang sudah sakit. Pemerintah perlu memperkuat langkah preventif agar jumlah penderita dapat ditekan sejak awal.

“Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap faktor penyebab peningkatan kasus ISPA.

BACA JUGA : Yuk Cobain Wisata Camping Ground di Pesona Curug Goong

Upaya penanganan tidak boleh hanya bersifat kuratif atau mengobati pasien, tetapi harus diperkuat melalui langkah preventif,” ujarnya.

Ia juga meminta Dinkes Banten bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan deteksi dini serta edukasi kepada masyarakat.

Pemantauan kualitas udara juga dinilai perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya mengantisipasi risiko gangguan pernapasan.

Selain itu, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan harus menjadi perhatian. Yeremia mengingatkan agar puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya mampu menghadapi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien ISPA.

BACA JUGA : Pertumbuhan Ekonomi Banten Turun

Menurut Yeremia, kelompok masyarakat yang lebih rentan, seperti balita, lanjut usia, serta warga yang memiliki penyakit penyerta, menurutnya, harus mendapatkan perhatian dan perlindungan lebih.

“Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, pemantauan kualitas udara, serta memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi peningkatan jumlah pasien.

Kelompok rentan harus menjadi prioritas perlindungan,” katanya.

Yeremia juga menilai persoalan ISPA tidak dapat diselesaikan hanya dari sektor kesehatan.

BACA JUGA : KKM Kelompok 10 Uniba Tanamkan Kesadaran Keselamatan Berkendara Sejak Dini Kepada Siswa SMP 22 Kota Serang

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor karena munculnya penyakit pernapasan juga berkaitan dengan kondisi lingkungan, transportasi, aktivitas industri, hingga tata kelola kawasan perkotaan.

Oleh karena itu, penanganan persoalan tersebut membutuhkan kebijakan yang terintegrasi antara pemerintah daerah, sektor lingkungan, transportasi, industri, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Kenaikan kasus yang signifikan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan masyarakat.

Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang konkret agar masyarakat tidak terus menjadi korban dampak buruk lingkungan dan meningkatnya faktor risiko penyakit pernapasan,” pungkas Yeremia.

BACA JUGA : 408 Ribu Warga Banten Menganggur

Sementara itu, sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan peningkatan kasus terjadi akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang dan membuat daya tahan tubuh masyarakat lebih mudah menurun sehingga risiko terserang penyakit saluran pernapasan ikut meningkat.

“Kasusnya memang sedang meningkat. Karena di musim kemarau panjang, apalagi saat ini masyarakat dengan kondisi kemarau daya tahan tubuhnya mudah menurun, maka kasus ISPA saat ini di setiap puskesmas mengalami peningkatan,” kata Ati.

Oleh karena itu, Ati mengimbau kepada masyarakat untuk lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna menekan risiko penularan maupun mencegah munculnya gejala ISPA.

Selain itu, Ati juga meminta agar masyarakat dapat mencukupi waktu istirahat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak minum air putih agar kondisi tubuh tetap prima selama musim kemarau.

BACA JUGA : Pertumbuhan Ekonomi Banten Turun

“Setiap orang harus mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, cukup istirahat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak minum air putih,” ujar Ati. (raffi)

 

Pos terkait