BANTENRAYA.CO.ID – Sebanyak 31.582 warga Banten mengidap tuberkulosis atau TBC.
Kasus tersebut merupakan temuan tim dinas kesehatan melalui program cek kesehatan gratis (CKG) hingga akhir Agustus 2026. Jumlah kasus TBC ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, meski telah mendapatkan temuan kasus sebanyak itu, pihaknya mengaku masih akan terus mencari temuan kasus baru guna mencapai target temuan kasus TBC di Banten yang pada 2026 ditarget mencapai 50.710 kasus.
“Kalau TBC itu ditargetkan tahun ini harus menemukan sekitar 50.710, jadi perkiraan estimasi ada segitu penderita TBC di Banten.
BACA JUGA : SBR015 Hadir, bank bjb Buka Akses Investasi SBN Ritel bagi Masyarakat
Namun dari jumlah itu yang sudah kami temukan sampai September itu baru di angka 66 persen dari target itu,” kata Ati, Rabu (30 September 2026).
Diketahui, berdasarkan data yang dihimpun dari Dinkes Banten per Agustus 2026, Kabupaten Tangerang mencatat temuan TBC tertinggi dengan 7.544 kasus.
Kemudian Kota Tangerang 6.942 kasus, Tangerang Selatan 3.627 kasus, Kabupaten Lebak 3.488 kasus, Kabupaten Serang 3.382 kasus, Kabupaten Pandeglang 3.082 kasus, Kota Serang 2.314 kasus, dan Kota Cilegon 1.203 kasus.
Hingga kini Dinkes Banten masih mengejar temuan kasus baru agar mencapai target tahun ini. Upaya tersebut dilakukan melalui penemuan kasus secara aktif atau active case finding dengan mengerahkan petugas kesehatan ke berbagai wilayah.
BACA JUGA : Siswa SDN 3 Kramatwatu Wakili Banten di Ajang Juara Kelas Nasional
Jika dibandingkan dengan data 2025, temuan kasus TBC di Banten juga masih cukup besar. Pada 2025 tercatat 50.298 warga Banten terindikasi menderita TBC, termasuk 9.708 anak-anak.
Pada 2025, Kabupaten Tangerang juga menjadi daerah dengan jumlah tertinggi, yakni 11.881 kasus.
Kemudian Kota Tangerang 8.930 kasus, Kabupaten Serang 7.612 kasus, Kabupaten Lebak 6.027 kasus, Kabupaten Pandeglang 5.933 kasus, Tangerang Selatan 4.909 kasus, dan Kota Cilegon 1.826 kasus.
Ati mengatakan, setiap kasus yang berhasil ditemukan akan langsung mendapatkan penanganan melalui pengobatan. Lama pengobatan disesuaikan dengan kategori dan tingkat keparahan TBC yang dialami pasien.
BACA JUGA : Enam Pejabat BPN Didakwa Korupsi Rp933 juta
“Kalau masuk kategori satu, maka pihaknya akan obati selama enam bulan tidak terputus.
Kemudian untuk kategori dua, diobati selama delapan bulan, kategori tiga diobati selama 12 bulan, dan untuk yang sudah resisten bisa lebih dari satu tahun,” jelasnya.
Menurut Ati, penderita harus menjalani pengobatan secara rutin. Jika pengobatan tidak dilakukan secara teratur, proses penyembuhan dapat semakin lama karena kuman bisa menjadi semakin kebal terhadap obat. Kondisi tersebut juga berpotensi memperluas penyebaran penyakit.
Selain pengobatan terhadap penderita, Pemprov Banten juga memberikan edukasi kepada anggota keluarga.
BACA JUGA : Dewan Minta Pemprov Evaluasi Tukin Kepsek
Keluarga penderita diminta mengatur interaksi dengan pasien serta menjaga kondisi kesehatan dan imunitas untuk mengurangi risiko penularan.
“TBC itu angka kematiannya tinggi, dan daya tularnya juga cukup tinggi. Makanya ketika ditemukan kasus langsung diperiksa dan diobati,” ujarnya.
Ati menyebutkan, lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan masih ditemukannya kasus TBC di Banten.
Kondisi Indonesia sebagai wilayah tropis juga dinilai mendukung berkembangnya kuman penyebab TBC.
BACA JUGA : Anggaran Perbaikan Terbatas 1.138 Ruang Kelas SD Rusak
“Penyebabnya kita tahu bahwa lingkungannya, perilaku hidup bersih dan sehatnya. Kemudian kita tahu bahwa Indonesia ini termasuk daerah tropis yang subur terhadap berkembangnya kuman ini,” ucapnya.
Untuk mempercepat penemuan kasus, pihaknya bersama dengan pemerintah kabupaten dan kota menerapkan enam strategi.
Strategi tersebut meliputi penguatan komitmen dan kepemimpinan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota, peningkatan akses layanan TBC bermutu, optimalisasi promosi dan pencegahan, pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining,
peningkatan peran komunitas, mitra dan multisektor, serta penguatan manajemen program melalui sistem kesehatan yang lebih baik.
BACA JUGA : Pemkab Fokus Pulihkan Citra Anyer
Ia juga mengatakan, dalam percepatan temuan kasus, Dinkes Banten turut memanfaatkan teknologi dalam proses active case finding.
Salah satunya melalui penggunaan rontgen portabel yang hasil pemeriksaannya dibaca dengan bantuan artificial intelligence untuk membantu mempercepat penemuan kasus.
“Active case finding yang kami lakukan dengan pemanfaatan teknologi digital yaitu dengan portable rontgen yang dibaca dengan artificial intelligence. Dengan ini akan membantu mempercepat proses penemuan kasus yang ada,” ujar Ati.
Lebih lanjut Ati menuturkan, tenemuan kasus TBC juga menjadi bagian dari pelaksanaan program CKG.
BACA JUGA : Jenazah ABK Kapal Arupadhatu I Ditemukan di Bengkulu Sempat Dikubur, Keluarga Ikhlas
Hingga September 2026, sekitar 6,6 juta penduduk telah mendapatkan layanan CKG atau sekitar 51 persen dari total penduduk Banten.
Ati mengatakan capaian CKG tidak hanya berkaitan dengan pencapaian angka pemeriksaan, tetapi juga bagaimana masyarakat semakin banyak mendapatkan akses layanan kesehatan.
“Pesan arahan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur sangat jelas, yaitu capaian CKG bukan hanya sekadar target angka, tetapi bagaimana caranya penduduk kalau bisa lebih dari separuh mendapatkan akses layanan CKG,” tuturnya.
Selain TBC, Ati menyebutkan jika berdasarkan hasil pemeriksaan CKG, penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes juga masih banyak ditemukan di Banten.
BACA JUGA : SBR015 Hadir, bank bjb Buka Akses Investasi SBN Ritel bagi Masyarakat
Ati mengatakan kedua penyakit tersebut perlu dikendalikan karena dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
“Hipertensi dan diabetes ini juga merupakan cikal bakal bisa menyebabkan jantung kalau tidak kita kendalikan. Bahkan menjadi penyebab gagal ginjal dan layanan cuci darah,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pemerintah tidak hanya bertujuan mengetahui jumlah warga yang telah mendapatkan layanan CKG.
Lebih dari itu, pemeriksaan menjadi upaya menemukan potensi penyakit sejak dini sehingga dapat segera ditindaklanjuti.
BACA JUGA : G&R Aroid Garden Hadir di Kota Serang Tempat Nongkrong Bernuansa Alam
“Temuan penyakitnya masih seperti yang kita temukan sebelumnya, potensi diabetes dan tekanan darah tinggi masih mendominasi. Sudah disiapkan obatnya untuk ditindaklanjuti,” kata Andra.
Kendati demikian, Andra menegaskan capaian persentase bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan program.
Pemprov Banten ingin memastikan semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan tersebut sehingga kondisi kesehatan warga dapat diketahui lebih awal.
“Target utama kita bukan sekadar angka atau persentase capaian, melainkan bagaimana memastikan seluruh masyarakat Banten benar-benar mengikuti CKG dan terpantau kesehatannya,” tegasnya.
BACA JUGA : Pemprov Bangun 407 Kilometer Jalan Lingkungan di Kota Serang
Ia menambahkan, ketika pemeriksaan menemukan kasus TBC, penanganan tidak berhenti pada pasien yang dinyatakan positif. Pemerintah juga melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita untuk memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan.
“Jadi, kalau ditemukan TBC, kita tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga melakukan penelusuran kontak erat untuk diperiksa sebagaimana mestinya. Artinya, masyarakat dipastikan dapat mengakses pengobatan secara gratis,” sambung Andra. (raffi)





