BANTENRAYA.CO.ID – Dalam rangka mendukung transformasi pendidikan yang berakar pada kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi, tim dosen dari Universitas Setia Budhi Rangkasbitung melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat di SMPN 1 Lebak Gedong pada sekema Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP).
Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Guru Bahasa Inggris untuk Kreasi Kamus Bergambar Berbasis Budaya Lebak Versi Flipbook.”
Kegiatan pengabdian ini sepenuhnya didukung oleh BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Kemdiktisaintek (Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi) melalui program hibah Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2025, sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat guna menciptakan inovasi pembelajaran yang kontekstual dan berdaya guna. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru Bahasa Inggris dalam menyusun media pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan kontekstual melalui pembuatan kamus Bahasa Inggris bergambar digital berbasis budaya lokal Lebak.
Kamus tersebut menyajikan kosakata dalam Bahasa Inggris dengan menampilkan unsur budaya khas Lebak seperti traditional games, traditional tools, farming and planting, culinary, traditional clothing, traditions and custom, tourism objects, native flora. Pelaksanaan program PMP ini pada tanggal 7 Agustus – 9 Agustus 2025 bertempat di SMPN 1 Lebak gedong.
Ketua tim pengabdian, Dr. Berita Mambarasi Nehe, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah hibah dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang merupakan bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam penguatan kemitraan antara kampus dan sekolah. “Kami ingin menghadirkan media pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan Bahasa Inggris, tetapi juga menanamkan rasa cinta terhadap budaya daerah sendiri, membantu para guru di daerah untuk literasi digital sehingga keberadaan teknologi ini mempermudah guru dalam menjalankan tugasnya di dalam kelas. Flipbook menjadi solusi inovatif yang menarik dan mudah diakses oleh siswa,” jelasnya. Selama kegiatan berlangsung, para guru didampingi oleh dosen dan mahasiswa untuk menyusun konten kosakata, memilih ilustrasi bergaya lokal, serta merancang flipbook interaktif menggunakan platform digital.
Pendekatan ini memperkenalkan guru pada penggunaan teknologi sederhana namun efektif untuk pembelajaran abad ke-21. Ada 12 guru yang terlibat mengikuti pelatihan Flipbook ini diantaranya Maesaroh, M.Pd., Idha Mulyani, S.Pd, Boy Angky Sudoarjo, S.Pd., Nurajiji, S.Pd, Iin Sulastini, S.Sos., Yuyum Rumiati, S. Sos., S.Pd., Eka Damayanti, M.Pd., Lia Lesmana, S.Ag, Saepudin, Elis Solihat, Eka Junya Susila, S.Pd., Fitri Sri Rahayu, S.Pd.
Kepala SMPN 1 Lebak Gedong, Muhammad Zain Zakaria, M.Pd., menyambut baik program Pengabdian Masyarakat Pemula ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim dosen dan mahasiswa yang diketuai Dr. Berita Mambarasi Nehe, M.Pd, yang membantu guru-guru kami untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar berbasis teknologi. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat bermanfaat,” ungkapnya.
Salah satu guru peserta, Ibu Maesaroh M.Pd., menyampaikan pengalamannya selama pelatihan. “Saya sangat terbantu sekali dengan pelatihan ini, karena saya tidak pernah tahu tentanng Flipbook, setelah mengikuti pelatihan ini sekarang saya bisa membuat dan akan dipalikasikan saat saya mengajar. Saya merasa lebih percaya diri menggunakan teknologi untuk membuat media ajar. Tema budaya Lebak juga sangat relevan karena dekat dengan kehidupan siswa,” tuturnya.
Dr. Dine Trio Ratnasari, M.Pd., salah satu anggota tim pengabdian, mengungkapkan antusiasmenya terhadap keterlibatan guru-guru dalam pelatihan ini.
“saya melihat semangat para guru yang luar biasa. Mereka sangat terbuka terhadap hal-hal baru dan cepat beradaptasi dengan teknologi. Ini menunjukkan bahwa guru di daerah pun siap untuk berinovasi asalkan diberikan ruang dan dukungan yang tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Eka Setiawati, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah. “Pengabdian ini membuka ruang dialog dan kolaborasi yang saling menguntungkan. Guru mendapat pelatihan, kami pun belajar dari praktik nyata di lapangan. Ke depan, kami berharap bisa mendampingi sekolah-sekolah lain dengan program serupa,” katanya.
Muhamad Nazarudin, mahasiswa yang terlibat, mengaku mendapatkan pengalaman yang berharga. “Saya belajar langsung bagaimana menyusun materi ajar yang berbasis budaya dan memanfaatkan media digital flipbook. Ini sangat membuka wawasan kami sebagai calon pendidik,” katanya.
Sementara itu, Sindy Maharani, mahasiswa lain yang turut serta, menyatakan bahwa interaksi dengan guru dan siswa sangat menginspirasi. “Semangat guru-guru di sini luar biasa. Meskipun sebagian belum terbiasa dengan media digital, mereka sangat antusias belajar dan mencoba hal baru,” ujarnya.
Hasil akhir dari kegiatan ini adalah kamus bergambar Bahasa Inggris versi flipbook yang memuat ilustrasi dan kosakata bertema budaya Lebak, yang nantinya dapat digunakan sebagai media ajar di kelas maupun secara daring.
Produk ini juga diharapkan menjadi tambahan model pengembangan bahan ajar lokal untuk sekolah-sekolah lain di wilayah Kabupaten Lebak. Melalui kegiatan pengabdian ini, sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah di daerah kembali ditegaskan sebagai upaya nyata dalam menghadirkan pendidikan yang inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan.





