BANTENRAYA.CO.ID – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten memetakan penyakit tidak menular (PTM) sebagai temuan terbanyak di masyarakat.
Penyakit hipertensi dan diabetes melitus tercatat mendominasi hasil pemeriksaan, khususnya pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia.
Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan CKG menunjukkan tingginya prevalensi PTM dibandingkan penyakit menular.
“Rata-rata penyakit yang mendominasi masyarakat usia 15 tahun sampai lansia adalah penyakit tidak menular, dalam hal ini hipertensi dan diabetes melitus. Itu yang terbanyak,” kata Ati, Jumat (20 Februari 2026).
BACA JUGA : Mayoritas Kepala Daerah Jeblok
Ati menjelaskan, temuan tersebut menjadi peringatan bahwa perubahan pola hidup sehat perlu diperkuat, terutama dalam pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak, serta peningkatan aktivitas fisik masyarakat.
Saat ini, kata dia, cakupan program CKG di Banten baru mencapai 6,8 persen dari total sekitar 13.035.000 jiwa penduduk.
Dinkes menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 46 persen pada akhir 2026.
“Untuk CKG, saat ini kita memang baru di angka 6,8 persen dari total jumlah penduduk. Target kita sampai dengan akhir tahun 2026 nanti yaitu sekitar 46 persen,” jelasnya.
Ia menegaskan, peningkatan cakupan CKG harus menyasar seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, usia produktif hingga lansia, agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas dan berkelanjutan.
Selain PTM pada kelompok dewasa, Ati juga menyampaikan jika hasil CKG menunjukkan persoalan kesehatan anak yang cukup menonjol.
Pada usia balita hingga sekolah dasar, kasus karies gigi dan gangguan penglihatan menjadi temuan dominan.
“Kita juga menemukan cukup banyak kasus karies gigi dan gangguan penglihatan pada anak. Ini tentu harus ditindaklanjuti dengan edukasi dan intervensi,” kata Ati.
BACA JUGA : Budi Rustandi Larang Rumah Makan Buka Siang Hari
Sebagai langkah lanjutan, Ati mengaku jika pihaknya telah bekerja sama dengan menggandeng Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) untuk menggelar edukasi dan sikat gigi massal di sekolah dasar.
Sementara, untuk gangguan penglihatan, Dinkes bekerja sama dengan Ikatan Refraksionis Optisien Indonesia dalam penyediaan kacamata gratis bagi siswa yang membutuhkan.
Lebih lanjut, Ati berharap agar hasil CKG tidak berhenti pada pendataan semata, melainkan menjadi dasar penguatan program promotif dan preventif di Banten.
“Mudah-mudahan program cek kesehatan yang sudah dilakukan bisa kita tindak lanjuti dengan menggandeng berbagai organisasi di provinsi,” pungkasnya.
BACA JUGA : RSKM Kenalkan Trauma Center Lewat FGD, Pastikan Pasien Kembali Produktif Secara Optimal
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyatakan dukungan terhadap integrasi program CKG dengan layanan kesehatan yang dilakukan oleh para relawan melalui Pos Kesehatan Merah Putih.
Menurutnya, ketersediaan posko kesehatan di tempat-tempat ramai mempermudah deteksi dini yang diakses langsung oleh masyarakat.
“Kita dukung keberadaan pos Kesehatan Merah Putih yang salah satunya adalah memfasilitasi agar terintegrasi dengan data-data di Puskesmas.
Karena, di daerah-daerah keramaian itu banyak orang beraktivitas ekonomi tapi tidak sempat ke Puskesmas,” ujarnya.
BACA JUGA : Dari Persiapan hingga Kemandirian, bank bjb Hadirkan Solusi Pensiun Produktif
Menurutnya, deteksi dini terhadap TBC, hipertensi, dan diabetes menjadi prioritas karena bersifat preventif. “Supaya kita tahu, supaya kita temukan dan kita sembuhkan. Itu yang paling utama,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan relawan dalam program tersebut bukan bersumber dari APBD, melainkan bentuk dukungan sosial.
“Ini sifatnya membantu. Pemerintah kan sudah ada Puskesmas. Jadi ini bukan dari APBD, ini goodwill.
Mereka itu relawan-relawan dari tim Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) yang merupakan sayap daripada Partai Gerindra, dan saya sebagai ketua di tingkat Provinsi-nya. Tapi saya pastikan itu bukan dari APBD, murni dari kesediaan relawan,” tegasnya. (raffi)







