Masjid Kuno Jadi Wisata Religi di Gunung Karang

Masjid Kuno Jadi Wisata Religi di Gunung Karang
WISATA RELIGI: Sejumlah peziarah tengah melaksanakan salat di Masjid Baitul Arsy, di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Kamis (2 Juli 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Setiap libur akhir pekan, Gunung Karang menjadi salah satu tujuan tempat wisata religi di wilayah Kabupaten Pandeglang.

Kebanyakan dari para peziarah, hanya ingin mengunjungi Masjid Baitul Arsy, atau Masjid Kuno bersejarah yang terbuat dari kayu.

Masjid ini berusia sekitar 200 tahun, terletak di Kampung Pasir Angin, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Banten Raya, Masjid Baitul Arsy dibangun pada masa kolonial Belanda menggunakan bahan utama kayu nangka.

BACA JUGA : Posko Pengaduan SPMB Diserbu Wali Murid

Posisi bangunan masjid menghadap ke Gunung Karang dengan memiliki tiga pintu. Dua pintu samping kiri, dan kanan, kemudian satu pintu masuk bagian depan.

Di atap masjid terdapat kubah terbuat dari kayu, termasuk tiang-tiang, umpak atau pondasi bawah masjid terbuat dari kayu yang cukup kokoh.

Warga setempat menyakini Masjid Kuno merupakan Masjid Syeikh Karan, ulama besar pada masa Kesultanan Banten. Jarak tempat menuju Masjid Kuno sekitar 7 kilometer dari pusat kota Kabupaten Pandeglang.

H Jali (71) warga setempat membenarkan, Masjid Baitul Arsy sudah ada sejak dulu. Meski sempat akan direhab, namun bangunan lama yang terbuat dari kayu tetap dipertahankan oleh warga.

BACA JUGA : ASN Luar Daerah Incar Jabatan Strategis di Pemprov Banten

“Bahannya dari kayu gunung di sini (Gunung Karang). Tiang-tiangnya semuanya dari kayu nangka,” kata Jali, Kamis (2 Juli 2026).

Dikatakannya, dulu masjid ini sempat mau direhab, akan tetapi warga berbeda pendapat. Ada yang ingin dibangun baru, dan ada yang ingin dipertahankan.

“Bangunan lama masih kami pertahankan, ukurannya hanya sebelas kali tiga belas meter. Yang tembok itu dibangun belakangan,” ujarnya.

Jali menerangkan, keberadaan masjid di kampungnya sering kali dikunjungi para peziarah, baik warga lokal maupun warga dari luar daerah.

BACA JUGA : Gubernur Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Setiap hari, pintunya terbuka bagi siapa pun yang datang. “Banyak tamu yang datang, mulai dari Tangerang, Jakarta, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur.

Ada yang ingin salat, ada yang sekadar melihat bangunan, ada yang sudah ziarah ke Syeikh Karan, karena masjid di sini (Gunung Karang) dibuka dua puluh empat jam,” terangnya.

Jarna warga lainnya menuturkan, banyak para peziarah yang mengunjungi Masjid Kuno yang berada di kampungnya. “Biasanya yang datang ke masjid tujuan kegiatannya untuk melakukan ziarah, sekaligus shalat,” tuturnya. (yanadi)

Pos terkait