MBG Disetop, Harga Sembako Turun

MBG Disetop, Harga Sembako Turun
WARGA BAHAGIA: Harga telur ayam di Pasar Induk Rau, Kota Serang, turun imbas MBG diliburkan sejak libur sekolah, Selasa (30 Juni 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Harga-harga sembilan bahan pokok (sembako) di sejumlah pasar tradisional menhalami penurunan.

Hal itu terjadi imbas dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disetop selama masa libur sekolah sejak akhir Juni ini. Diketahui, program MBG libur sejak 19 Juni hingga 12 Juli 2026.

Berdasarkan hasil pemantauan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten di pasar-pasar di Banten tercatat beberapa komoditas strategis mengalami penurunan harga yang cukup signifikan sepanjang Juni 2026.

Kepala Disperindag Provinsi Banten Iwan Hermawan mengatakan, komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah besar sebesar 20,9 persen, cabai rawit merah 19,1 persen, bawang merah 10,32 persen, cabai keriting 10,14 persen, telur ayam ras 5,03 persen, daging ayam ras 3,26 persen, serta cabai rawit hijau 2,05 persen.

BACA JUGA : 1.800 Truk Tambang Seliweran Tiap Hari

Menurut Iwan, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga tersebut adalah berkurangnya permintaan komoditas pangan selama program MBG tidak berjalan akibat libur kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Ada pengaruh MBG terhadap permintaan komoditas pangan ya, terutama pada pangan berbasis sumber protein dan bumbu-bumbu masak,” katanya, Selasa (30 Juni 2026).

Kendati demikian, Iwan menegaskan jika penurunan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh liburnya program MBG saja. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah melimpahnya hasil panen di daerah sentra produksi yang didukung distribusi barang yang lancar.

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan komoditas di pasar meningkat, sementara tingkat kebutuhan masyarakat relatif tetap sehingga memicu terjadinya kelebihan pasokan (over supply) dan berdampak pada penurunan harga.

BACA JUGA : Sistem SPMB di Banten Dipuji KPK

“Terutama pada produk pertanian karena panen yang berlimpah di daerah sentra produksi juga kelancaran distribusi, sehingga terjadi over supply di pasar-pasar utama sedangkan tingkat kebutuhan bersifat tetap,” ujarnya.

Iwan mengatakan, Pemerintah Provinsi Banten terus memantau perkembangan harga melalui SP2KP untuk mengantisipasi terjadinya gejolak harga, baik yang berpotensi merugikan konsumen maupun petani dan pelaku usaha.

Namun, terkait kebijakan menjaga stabilitas harga ketika terjadi penurunan yang terlalu tajam, ia menjelaskan hal tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional.

“Kebijakan menjaga stabilisasi harga terutama terkait dengan menjaga penurunan harga yang drastis berada di Pemerintah Pusat melalui Badan Pangan Nasional,” katanya.

BACA JUGA : Pelajar di Lebak Tembus Paskibraka Nasional

Dikonfirmasi terpisah, pedagang telur ayam di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang Raja Setiawan mengatakan, hampir sepekan harga telur ayam mengalami penurunan.

Saat ini harganya Rp24 ribu per kilogram (kg), sebelumnya Rp25-26 ribu per kg. “Turun sudah semingguan. MBG libur, ngaruh. Kalau MBG jalan lagi mah naik lagi,” ucap dia.

Menurutnyam pasokan telur pun bagus karena stok melimpah. Bahkan, Raja mengaku mampu menjual 100 kilogram (kg) per hari.

“Sehari yang terjual 100 kilo. Suplai banyak nggak susah. Kiriman dari Lampung. Kalau keuntungan saya nggak tau itu mah urusannya bos,” kata Raja.

BACA JUGA : Sistem SPMB di Banten Dipuji KPK

Pedagang sayuran dan sembako di PIR Babay Riki membenarkan bahwa ada sejumlah harga komoditas yang mengalami penurunan di saat MBG diliburkan.

Sejumlah komoditas yang harganya mengalami penurunan yakni kacang buncis dijual Rp10 ribu per kg, yang semula harganya Rp16-20 ribu per kg.

“Kalau dampak MBG libur paling sayuran. Buncis lagi anjlok. Pas MBG jalan mah mahal. Wortel kentang hitungannya masih stabil. Belum turun harganya,” ujar Babay, ditemui di tokonya.

Untuk harga cabai-cabaian seperti cabai merah besar dijual Rp30 ribu per kg yang semula dijual Rp 50 ribu per kg. Cabai keriting merah dijual Rp35 ribu per kg, semula di atas kisaran Rp50 ribu per kg.

BACA JUGA : M. Ibra Gholibi, Jagokan Spanyol di Piala Dunia 2026

Cabai rawit hijau Rp44 ribu per kg, semula Rp50 ribu per kg. Cabai rawit merah Rp50 ribu per kg, sebelumnya kisaran Rp70-80 ribu per kg.

Adapun harga tomat sebelumnya dijual dikisaran Rp17 ribu sekarang Rp10 ribu per kg. Kemudian, harga bawang merah semula kisaran Rp48-50 ribu per kg, sekarang dijual Rp38 ribu per kg. Kentang dijual Rp17 ribu per kg, sebelumnya Rp18 ribu per kg, dan wortel dijual Rp15 ribu per kg, semula Rp20 ribu per kg.

Bawang putih mengalami kenaikan yang tadinya Rp30 ribu sekarang dijual Rp40 ribu per kg. Untuk harga minyak goreng merk Minyakita dijual Rp20 ribu per liter, semula Rp21 ribu per liter.

Sedangkan untuk harga beras medium bervariatif mulai dari Rp11 ribu per liter, Rp11.500 per liter, Rp12 ribu per liter, hingga Rp 12.500 per liter.

BACA JUGA : Perangi Kejahatan Digital, IASC Tutup 12.824 Pinjol Ilegal

Adapun harga beras medium per karung bobot 25 kg bervariatif mulai dari Rp310 ribu, Rp315 ribu, Rp325 ribu, Rp330 ribu, dan Rp345 ribu.

Roni menyebutkan, suplai beras medium berasal dari lokal Banten mulai dari Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Pandeglang.

Sementara pasokan harga beras medium masih stabil hanya saja permintaannya yang lagi sedikit lesu.

“Pasokannya aman lancar. Penjualannya doang yang ngdrop sejak ada pembagian bansos 20 kg per KK, meskipun tidak merata ngaruh didaya beli,” katanya.

BACA JUGA : Pelajar di Lebak Tembus Paskibraka Nasional

Sementara itu, diperoleh informasi bahwa liburnya program MBG disebut tidak terlalu berdampak pada penyerapan hasil panen petani di Kabupaten Serang.

Sejumlah hasil tani seperti komoditas mentimun dan kacang panjang justru mengalami penurunan harga karena berkurangnya permintaan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Serang Anani Syarif mengatakan, meski MBG libur, para petani tetap memiliki jalur pemasaran lain.

“Kalau MBG libur, kita tidak terpengaruh karena memang kita punya pasar-pasar tersendiri. Artinya masih aman untuk jual produk pertanian,” ujarnya.

BACA JUGA : Hotel Flamengo Favorit Pelancong

Ia mengakui, harga jual hasil pertanian saat program MBG berjalan memang lebih tinggi dibandingkan harga pasar saat libur MBG berlangsung.

“Kalau harga agak rendah, kalau SPPG enggak libur agak lumayan baik harganya. Artinya harga sedikit turun jika MBG lagi libur karena permintaannya enggak banyak,” katanya.

Anani menuturkan, walaupun MBG diliburkan, petani tetap tidak mengalami kesulitan untuk menjual hasil panennya karena sebagian besar penjualan masih mengandalkan pasar induk.

“Untuk memasarkan hasil panen juga enggak ada kesulitan karena memang sekarang-sekarang kita punya spot untuk penjualannya sendiri,” jelasnya.

BACA JUGA : Pelajar di Lebak Tembus Paskibraka Nasional

Pihaknya menyoroti program MBG yang masih belum bisa menyerap secara menyeluruh terhadap hasil produksi petani.

“Sebetulnya karena MBG ini program yang baru, jadi belum secara maksimal bisa memenuhi keinginan para petani. Karena masih banyak teman-teman di wilayah-wilayah kecamatan yang belum bisa suplai,” paparnya.

Untuk komoditas, ia menyebut timun dan kacang panjang yang harganya sedang turun setelah diliburkannya program MBG.

“Kalau untuk saat ini memang yang agak turun itu itu timun, dan Kacang Panjang, kalau lagi tinggi harganya Rp6 ribu per kilo, sekarang Rp2 ribu per kilogram. Tapi selebihnya yang lain masih normal,” tuturnya.

BACA JUGA : Sistem SPMB di Banten Dipuji KPK

Sementara itu, hasil pantauan Banten Raya di Pasar Rangkasbitung diketahui bahwa harga sejumlah komoditas bumbu dapur mengalami penurunan signifikan.

Meti, salah seorang pedagang menyebut penurunan terjadi sejak memasuki libur sekolah.

Menurutnyam penghentian program MBG selama libur sekolah memberikan dampak yang cukup positif. Sebab sejak harga-harga sembako turun drastis, pelanggan yang datang cukup ramai secara bertahap dengan pembelian yang cukup besar.

“Alhamdulillah cukup ramai yang datang malah selama musim libur ini. Terus mereka juga belinya cukup banyak, yang biasanya hanya setengah kilogram, sekarang bisa sampai satu kilogram gitu,” ujarnya.

BACA JUGA : Gupi Cafe, Tempat Nongkrong dengan View Gunung Pinang yang Estetik

Irma, warga yang membeli kebutuhan pokok juga merasakan hal yang sama. Sebagai perempuan yang juga menjadi orang tua siswa pada salah satu sekolah di Lebak, penurunan harga komoditas membuat dia mampu belanja dalam jumlah besar.

Irma bahkan menilai program MBG yang diberikan ke anaknya tetap tidak setimpal jika harus dibandingkan dengan mahalnya harga bahan pokok di pasar.

“Anak makan sekali di sekolah, cuma buat harian dan lain-lain ya tetap berat kalau semua barang mahal,” kata Irma.

Dihubungi terpisah, Pedagang Pasar Kranggot, Kota Cilegon Arman menyatakan, sebenarnya penurunan harga sembako tidak terlalu signifikan. Bahkan ada beberapa sembako yang masih dijual sesuai HET atau harga eceran tertinggi.

BACA JUGA : Gupi Cafe, Tempat Nongkrong dengan View Gunung Pinang yang Estetik

Namun beberapa lainnya memang turun, misalnya telur ayam dari Rp28 ribu sekarang menjadi Rp22 ribu per kilo.

“Kalau sembako relatif tidak besar turunnya. Karena harga diatur HET. Tapi telur dan daging ayam memang turun,” jelasnya.

Untuk komoditas sayuran, papar Arman, sebenarnya secara harga masih sesuai standar. Hanya dianggap turun karena sebelumnya naik 2 kali lipat.

“Kalau sayuran itu sekarang sudah standar. Hanya kemarin naik dua kali lipat karena memang barang sedikit,” ujarnya. (raffi/harir/andika/aldi)

Pos terkait