BANTENRAYA.CO.ID – Nama SD YPWKS 1 Cilegon pernah menjadi simbol sekolah dasar (SD) unggulan di Kota Cilegon.
Berdiri pada era 1980-an, bertepatan dengan masa kejayaan industri baja nasional, sekolah yang berada di kawasan perumahan PT Krakatau Steel (KS) itu menjadi pilihan utama anak-anak ekspatriat dan pejabat perusahaan baja pelat merah tersebut.
Namun, sekolah yang pernah melahirkan sederet prestasi tingkat nasional hingga internasional itu kini telah tutup dan digabungkan dengan SD YPWKS 2 Cilegon.
Menyusutnya jumlah siswa akibat perubahan kondisi lingkungan sekitar menjadi salah satu penyebab utama penggabungan tersebut.
BACA JUGA : Warga Lebak Patungan Perbaiki Jalan Rusak
Mantan wali kelas III sekaligus koordinator kesiswaan SD YPWKS 1 Cilegon Yati Riva’ati Rahayu mengatakan, pada masa jayanya sekolah itu selalu dipenuhi siswa.
Bahkan, dalam satu tingkat terdapat tiga rombongan belajar dengan masing-masing kelas diisi sekitar 40 siswa.
“Pada 2002, muridnya luar biasa membludak. Dalam satu angkatan ada tiga rombel dan satu kelas bisa diisi 40 siswa.
Saking banyaknya siswa yang mau sekolah, SD YPWKS 1 bahkan terpaksa menolak pendaftar,” kata Yati akhir pekan lalu.
BACA JUGA : Pencemaran Sungai Ciujung Merusak Ekosistem
Menurutnya, SD YPWKS 1 tumbuh seiring perkembangan PT Krakatau Steel yang pada dekade 1980-an dikenal sebagai salah satu perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara.
Saat itu, banyak tenaga ahli asing yang didatangkan untuk bekerja di perusahaan tersebut, sehingga anak-anak mereka bersekolah di SD YPWKS 1.
“SD KS 1 dulu sekolah favorit, terutama bagi anak-anak ekspatriat dan pejabat PT Krakatau Steel. Dari awal bahasa pengantarnya juga sudah menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.
Tak hanya unggul dari sisi akademik, sekolah itu juga dikenal sebagai gudang prestasi nonakademik. Berbagai piala tingkat daerah hingga nasional menghiasi lemari penghargaan sekolah.
BACA JUGA : Pencemaran Sungai Ciujung Merusak Ekosistem
Yati mengenang, SD YPWKS 1 pernah menjuarai kompetisi robotik tingkat nasional pada saat teknologi tersebut masih tergolong baru di Cilegon.
Selain robotik, prestasi kepramukaan sekolah itu juga kerap mendominasi berbagai kejuaraan. Bahkan, salah seorang siswa pernah meraih juara ketiga karate tingkat internasional.
“Kepramukaan selalu juara. Kami juga pernah memiliki siswa yang meraih juara tiga karate tingkat internasional,” katanya.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar. Menurut Yati, isu relokasi kawasan perumahan di sekitar sekolah membuat masyarakat mulai meninggalkan wilayah tersebut.
BACA JUGA : Warga Pulomerak Tercemar Debu Batubara
Kondisi lingkungan yang semakin sepi menyebabkan orang tua khawatir terhadap keamanan anak-anak mereka.
“Lokasinya sudah sepi. Ada rumor bahwa kawasan itu akan direlokasi. Akibat rumor itu, lama-kelamaan orang tua takut tinggal di sana dan jumlah siswa turun drastis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, posisi sekolah yang berada di bagian dalam kawasan perumahan turut memperkuat kekhawatiran para orang tua.
Letak SD YPWKS 1 memang sangat pojok, terutama apabila masuk dari arah Krakatau Jungle Park Cilegon. Karena itu, orang tua khawatir dengan keamanan anak mereka.
BACA JUGA : Pendaftar di SMP Negeri Overload
Penurunan jumlah siswa akhirnya membuat SD YPWKS 1 digabungkan dengan SD YPWKS 2. Pada 2017, Yati dipindahkan ke SD YPWKS IV, yang saat itu dinilai masih memiliki kondisi keuangan dan jumlah siswa yang sehat.
Meski demikian, kenangan terhadap sekolah tersebut masih melekat kuat di hati para guru. Yati mengaku hingga kini dirinya masih kerap keliru menyebut SD YPWKS V sebagai SD YPWKS 1.
“Sedih. Kami inginnya SD YPWKS 1 tetap ada. Para guru yang pernah mengajar di sana sangat tidak rela. Bahkan, PGRI sempat turun untuk mempertahankan keberadaan SD YPWKS 1,” ujarnya.
Ia menilai, salah satu kekuatan terbesar sekolah itu adalah dukungan para orang tua siswa yang luar biasa. Meski banyak berasal dari kalangan pejabat PT Krakatau Steel, hubungan antara wali murid dan guru terjalin tanpa sekat.
BACA JUGA : Warga Lebak Patungan Perbaiki Jalan Rusak
“Saya sangat terkesan karena dukungan orang tua terhadap sekolah dan kemajuan anak-anak sangat luar biasa. Hubungan orang tua dengan guru tidak ada gap, walaupun mereka adalah para pejabat PT Krakatau Steel,” katanya.
Bentuk dukungan itu bahkan diwujudkan melalui pembangunan akses jalan menuju sekolah sepanjang lebih dari satu kilometer yang sepenuhnya dibiayai secara swadaya oleh para orang tua siswa. Itu bentuk dukungan luar biasa kepada sekolah.
Selain lingkungan yang asri dan sejuk, SD YPWKS 1 pada masanya juga memiliki fasilitas yang terbilang sangat maju.
Sekolah tersebut telah dilengkapi laboratorium komputer dengan konsep satu komputer untuk satu siswa yang terhubung dengan internet, laboratorium bahasa, perpustakaan, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan voli, lapangan upacara, area parkir, hingga kantin sehat.
BACA JUGA : Warga Lebak Patungan Perbaiki Jalan Rusak
“Lingkungannya sangat nyaman. Tanpa AC pun sudah sejuk. Tata letak kelas dibuat dengan sistem klaster, tidak berjajar seperti sekolah pada umumnya,” katanya.
Yati menambahkan, iklim kompetisi yang sehat antarsiswa turut membentuk budaya berprestasi di SD YPWKS 1. Siswa-siswa saling berkejaran dalam hal prestasi. Bahkan, siswa yang sebelumnya belum mampu ikut termotivasi untuk bisa lebih baik.
Kini, bangunan dan kejayaan SD YPWKS 1 Cilegon tinggal menjadi kenangan bagi para guru, siswa, dan orang tua yang pernah menjadi bagian dari sekolah tersebut.
Namun, jejaknya sebagai salah satu sekolah dasar favorit di masa keemasan industri baja Indonesia tetap membekas dalam sejarah pendidikan Kota Cilegon. (tohir)





