BANTENRAYA.CO.ID – Selama lebih dari dua dekade, sepasang suami istri, Juned (61) dan Saniti (56) bersama dua anaknya di Kampung Pasir Ipis,
Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, harus bertahan hidup di rumah reyot nyaris ambruk dengan kondisi serba kekurangan.
Saat Banten Raya menyambangi kediamannya, Minggu (5/10/2025). Rumah yang ditempati pasangan suami istri dan dua anaknya itu tak tampak layak huni.
Gubuk renta yang seolah menunggu waktu untuk roboh. Atap terlihat bocor di berbagai sudut, dinding lapuk dimakan usia.
BACA JUGA : Ketua DPRD Provinsi Banten Fahmi Hakim Potong Tumpeng HUT Banten ke 25
Bahkan tiang penyangga yang keropos disangga kayu seadanya. Seakan menjadi saksi hidup derita panjang mereka.
Setiap hari, pasangan suami istri bersama dua anaknya hidup dalam kecemasan, dihantui rasa waswas akan ambruknya tempat berteduh yang mereka sebut rumah.
“Kalau hujan atau angin kencang, kami harus mengungsi ke rumah tetangga atau rumah RT. Takut ketimpa reruntuhan, Pak,” kata Saniti saat bertemu pada Minggu (5 Oktober 2025).
Ini contoh pengembangan kalimat agar terasa lebih dramatis dan menyentuh:
Bagi Saniti, hidup di rumah reyot itu bukan sekadar menimbulkan rasa takut akan roboh setiap saat, tetapi juga menghadirkan luka batin yang ditanggung sepanjang hidupnya.
“Sedih, Pak. Sedih sekali. Bukan bohong-bohongan. Rasanya hati hancur, tapi mau bagaimana lagi,” ucap Saniti.
Derita kian berat karena sang suami, Juned, sudah lama tak bekerja akibat sakit dan usia.
Sementara Saniti hanya sesekali bekerja sebagai buruh tani dengan upah tak seberapa. Jangankan untuk memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sering kali kelabakan.
“Saya cuma kuli ke sawah, nandur, ngoyos, ngegebot punya orang. Kalau suami sudah enggak kerja apa-apa, sedih, Pak,” tuturnya.
Saniti mengaku sudah berkali-kali mengajukan bantuan perbaikan rumah ke pemerintah. Namun harapan itu tak pernah benar-benar datang.
Bahkan, Saniti mengaku pernah dimintai uang hanya untuk sekadar mengurus berkas.
“Cuma difoto-foto doang, Pak. Pernah dimintai Rp50 ribu, pernah juga Rp30 ribu untuk persyaratan. Padahal kami sama sekali tidak punya uang,” imbuhnya.
Saniti mengungkapkan, satu-satunya bantuan yang pernah mereka terima hanyalah BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) senilai Rp400 ribu yang turun tiga bulan sekali. Jumlah itu jelas tak cukup untuk menopang kehidupan keluarganya.
“Saya hanya berharap bisa hidup tenang sampai ajal menjemput, tidak lagi ketakutan kalau rumah ini roboh,” ungkap Saniti sambil matanya berkaca-kaca.
Sementara itu, salah satunya Erawati (27) mengaku sering melihat Saniti dan keluarganya mengungsi ke rumah warga saat terjadi hujan deras.
bocor dan bangungan reot, membuat keluarga miskin itu khawatir.
“Kasihan sekali, rumahnya seperti mau roboh. Kalau hujan, pasti mereka ngungsi, kadang ke rumah saya, kadang ke tetangga lain. Sering juga kami bantu sebisa mungkin, tapi kami juga terbatas,” katanya.
Erawati berharap, ada perhatian dari pemerintah maupun pihak dermawan untuk membantu keluarga Saniti. Sebelum gubuk yang ditinggali keluarga miskin itu ambruk.
“Kalau dibiarkan, rumah itu bisa ambruk kapan saja. Kami semua takut terjadi hal yang tidak diinginkan, harapannya ya mudah-mudahan ada yang ngebantu gitu. Ya saya mau ngebantu ya gimana juga kan ya terbatas ya,” tandasnya. (aldi)







