BANTENRAYA.CO.ID – Kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah masyarakat Baduy, Kabupaten Lebak, dilaporkan semakin mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut terungkap dari hasil pemantauan relawan kesehatan yang selama ini melakukan pelayanan di sejumlah titik permukiman Baduy.
Ketua Sahabat Relawan Indonesia Muhammad Arif Kirdiat mengatakan, pihaknya saat ini mengoperasikan tiga Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang berada di Ciboleger (Baduy Utara), Nangerang (Baduy Barat), dan Cijahe (Baduy Selatan). Seluruh layanan diberikan secara gratis untuk warga Baduy.
“Operasional Poskesdes ini dibantu donatur, sementara tenaga dokter didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Banten. Pasien Baduy yang datang tidak dikenakan biaya,” ujar Arif, Minggu (19 April 2026).
BACA JUGA : Siswa Dekat Sekolah Langsung Diterima
Namun di balik layanan tersebut, pihaknya menemukan persoalan serius terkait penyebaran TBC.
Berdasarkan hasil skrining awal di tiga titik, sekitar 70 persen warga yang diperiksa menunjukkan indikasi positif TBC.
Namun, Arif enggan membeberkan data jumlahnya dan mempersilakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten yang mengungkapkannya.
“Dari tiga titik yang kami lakukan screening, sekitar 70 persen hasilnya mengarah ke TBC. Ini sudah lampu merah,” kata Arif.
BACA JUGA : Situ Rancagede Segera Dieksekusi
Dia menegaskan, penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus komprehensif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pasien membutuhkan pemantauan rutin, termasuk pengawasan dalam mengonsumsi obat hingga tuntas.
Sebab obat TBC harus diminum rutin setiap hari. Sekali tidak minum obat karena lupa atau tidak ada obat, maka pengobatan harus diulang dari awal lagi.
“Kalau hanya datang, periksa lalu selesai, itu tidak cukup. Harus ada yang standby untuk memastikan pengobatan berjalan,” ujarnya.
BACA JUGA : Murah, Cocok Buat Pelancong
Arif juga menyoroti keterbatasan jangkauan layanan kesehatan di wilayah Baduy. Dengan jumlah penduduk sekitar 16 ribu jiwa, wilayah tersebut hanya didukung oleh lima puskesmas dengan jumlah dokter yang terbatas.
“Idealnya satu dokter menangani seribu pasien. Sementara di Baduy hanya ada lima dokter untuk 16 ribu penduduk,” ungkapnya.
Dia menambahkan, hingga saat ini baru tiga dari total 68 kampung Baduy yang dilakukan skrining TBC. Kondisi ini dinilai belum mencerminkan gambaran keseluruhan penyebaran penyakit di wilayah tersebut.
Menurut Arif, persoalan TBC di Baduy sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2021, relawan telah fokus melakukan pendampingan, terutama sejak masa pandemi Covid-19.
BACA JUGA : Pertamina Wisuda 168 Binaan Usaha Ultra Mikro, Total Cuan Hingga 2,7M
Bahkan, isu tersebut juga pernah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Banten saat kunjungan Gubernur Banten Andra Soni pada 2025 lalu.
Dalam waktu dekat, kata dia, isu TBC akan menjadi aspirasi utama masyarakat Baduy dalam agenda Seba Baduy, menggantikan keluhan sebelumnya terkait kasus gigitan ular.
Arif juga menyinggung respons dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten yang dinilai belum optimal. Dia berharap pemerintah daerah dapat lebih serius menangani persoalan ini.
“Kami berharap pemerintah daerah turun langsung. Relawan punya keterbatasan, baik dari sisi kewenangan maupun sumber daya,” katanya.
BACA JUGA : Kejar Target Rp10 Triliun, Pemprov Cari Sumber PAD Lain
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten Muhsinin mengatakan, bila kasus TBC di Baduy mengkhawatirkan, maka Dinas Kesehatan Provinsi Banten memang harus turun tangan mengatasi masalah ini.
Apalagi, TBC merupakan penyakit yang mudah menular sehingga berbahaya apabila tidak diobati. “Pemprov Banten harus segera bertindak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti yang coba dikonfirmasi berkaitan dengan persoalan ini belum bisa memberikan keterangan karena nomor telepon yang bersangkutan dalam kondisi tidak aktif. (tohir)





