BANTENRAYA.CO.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang menyebut indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Kota Serang berangsur menurun ke angka 44.
Sebelumnya, ISPU nyaris menyentuh level tidak sehat akibat sebaran abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang turun di Kota Serang.
Meski ISPU sempat menunjukkan tren menurun, namun ancaman kualitas udara buruk masih mengintai di Kota Serang.
Kondisi ini pun belum sepenuhnya aman bagi kesehatan masyarakat Kota Serang untuk jangka panjang. Keadaan udara yang berfluktuasi ini dipengaruhi oleh musim kemarau dan faktor emisi regional.
BACA JUGA : Waspada Potensi Bencana Industri
Kepala DLH Kota Serang, Farach Richi mengakui adanya penurunan tajam pada parameter polusi udara. Sebelumnya, kualitas udara di wilayah tersebut sempat memburuk dan berada di ambang batas bahaya bagi pernapasan.
“Kemarin kita hampir mendekati 90, tepatnya 89,67. Dan itu mendekati hampir tidak sehat, meskipun masih sedang. Untuk saat ini, nilainya adalah sekitar 44,” ujar Farach, kepada Banten Raya, Selasa (8 September 2026).
Ia mengakui bahwa angka ISPU menurun, namun parameter partikel halus PM2.5 dan ozon terpantau masih cukup dominan. Pemkot Serang juga menolak lengah lantaran aktivitas vulkanik belum mereda secara total.
“Jadi kalau kita lihat, memang terjadi penurunan parameter, namun belum sepenuhnya bisa dikatakan baik.
BACA JUGA : Hari Pelanggan Nasional 2026, bank bjb Hadir untuk Layanan yang Setara dan Berkelanjutan
Tadi pagi saja BMKG menyampaikan terjadi erupsi Anak Gunung Krakatau sudah tiga kali. Nah, tinggal kita melihat arah angin itu jatuhnya ke mana,” tutur dia.
Farach mengungkapkan, pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup langsung merapat ke Kota Serang. Kehadiran KLH ini merespons fluktuasi kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Banten.
Ia menuturkan, satu unit mobil pemantau udara disiagakan di markas DLH selama satu minggu ke depan untuk memberikan data seketika yang akurat.
“Keberadaan kendaraan taktis ini sangat krusial bagi pemerintah daerah dalam merumuskan langkah penanganan secara cepat,” katanya.
BACA JUGA : Hari Pelanggan Nasional 2026, bank bjb Hadir untuk Layanan yang Setara dan Berkelanjutan
Sebagai upaya mitigasi jangka pendek, lanjut Farach, armada Dinas Pemadam Kebakaran dan DLH juga diturunkan untuk mengguyur jalan-jalan protokol pada pukul 14.00 WIB demi menyapu sisa debu.
Upaya mitigasi lintas sektoral kini terus diperkuat dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang.
“Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah mengantisipasi debu, dan partikulat di lingkungan perkotaan, sembari terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Seluruh data pergerakan abu vulkanik akan dianalisis secara harian sebagai dasar pengambilan keputusan darurat oleh Walikota Serang,” ujarnya.
BACA JUGA : PMI Banten Kirim Nakes ke NTT Bantu Pengungsi
Sebelumnya, pada Senin 7 September 2026, tingkat polusi PM2.5 di Kota Serang masih bertahan di indeks 66.
Kondisi berangsur membaik karena arah angin terpantau membawa partikel debu menuju Samudra Hindia dan menjauhi daratan Pulau Jawa. (harir)





