BANTENRAYA.CO.ID – Warga Kecamatan Bojonegara mengeluhkan perbaikan jalan di Jalan Raya Serdang Bojonegara Merak (SBM) yang jadi salah satu pemicu kemacatan panjang.
Kemacatan tersebut sangat menggangg warga sekitar karena kesulitan ketika ingin beraktivitas seperti bekerja, sekolah dan kegiatan lainnya.
Pantauan Banten Raya di lokasi, kemacetan dimulai dari Pintu Tol Cilegon Timur karena adanya antrean bergilir dari tiga arah, baik yang hendak memasuki tol maupun yang hendak keluar tol.
Selain itu, kemacetan diperparah dengan adanya perbaikan jalan di sekitar Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu karena kendaraan harus bergantian meelawati jalur tersebut.
BACA JUGA : Mambruk Hotel & Convention Nyaman Bagi Keluarga
Camat Bojonegara Asep Sofwatullah mengatakan, perbaikan jalan tersebut sudah berlangsung lebih dari dua pekan dan berdampak luas pada aktivitas warga.
“Sudah lebih dari dua minggu. Sebenarnya perbaikan jalannya ada di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu. Jadi warga kami kena imbasnya saja, kena dampak macetnya saja,” ujarnya, Senin (13 Juli 2026).
Ia menjelaskan, kemacetan tersebut sangat panjang karena jalur tersebut hanya dapat dilewati secara bergantian sehingga menyebabkan antrean hingga belasan kilometer.
“Tadi (kemarin) pukul 13.00 saja antreannya sudah sampai Desa Margagiri, apalagi sore pasti antreannya sampai Kecamatan Puloampel,” katanya.
BACA JUGA : Wagub Siap Ratakan Situ Rancagede
Asep menuturkan, dampak dari kemacetan tersebut sangat dirasakan langsung oleh warga, mulai sulitnya untuk berangkat kerja, sekolah hingga rendahnya tingkat keselamatan berkendara.
“Bahaya mengintai, kita tidak tenang ke mana-mana, karyawan telat, sekolah juga terdampak. Dari Januari sampai sekarang ini sudah ada enam kasus kecelakaan yang meninggal dunia,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, untuk pengaturan arus lalu lintas sendiri masih dilakukan oleh warga sekitar karena tidak ada petugas Dinas Perhubungan maupun Kepolisian.
“Dishub tugasnya menahan truk yang dari dalam area tambang. Jadi yang buka tutup di lokasi perbaikan jalan biasanya anak-anak setempat,” paparnya.
BACA JUGA : Dulu, Sekolah Favorit Anak Ekspatriat dan Pejabat KS
Ia juga menyoroti masih beroperasinya mobil tambang pada siang hari, padahal secara aturan hanya diperbolehkan dari pukul 22.00 sampai 05.00.
“Masih ada di siang hari juga. Ini kan yang kena macet mobil tambang juga. Meskipun secara aturan harusnya malam keluar, tapi tetap saja dari pagi sudah keluar,” tegasnya.
Asep juga mengapresiasi kedatanagan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo yang sudah turun melihat kondisi Jalan Raya SBM. “Menteri sudah turun, alhamdulillah.
Harapan kita jadi besar lagi. Meskipun tadinya harapan tinggal setipis benang jahitan, minimal sekarang sudah sebesar tali kapal,” katanya.
BACA JUGA : Bedah Rumah Tak Kunjung Terealisasi, Warga Pandeglang Tagih Janji Pemprov
Namun ia menyayangkan lambatnya pembuatan Detail Engineering Design (DED) tentang pelebaran Jalan Raya SBM yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Banten.
“Padahal DED itu isinya inventarisasi bangunan dan tanah yang akan digusur. Itu belum dilakukan oleh provinsi. Akhirnya menteri datang pun tidak ada manfaatnya karena pada akhirnya harus menunggu DED dari provinsi,” jelasnya.
Camat menegaskan, yang dibutuhkan warga saat ini adalah pelebaran jalan, bukan perbaikan yang terus-terusan dan membuat macet hingga belasan kilometer.
“Yang diharapkan warga Bojonegara itu pelebaran, bukan perbaikan jalan. Kalau perbaikan, mau sebagus apa pun dikasih keramik juga tidak akan mengurangi kemacetan. Kalau pelebaran kan bisa ada ruang tambahan,” paparnya.
BACA JUGA : Dulu, Sekolah Favorit Anak Ekspatriat dan Pejabat KS
Tokoh masyarakat Bojonegara Sufyani Sidik mengatakan, setiap hari lebih dari 2.000 kendaraan yang antre dari pintu Tol Cilegon Timur hingga Kecamatan Puloampel.
“Saya sudah minta orang untuk menghitung, truk tambang saja ada 1.800 an, belum mobil pribadi, mobil perusahaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemacetan panjang hingga belasan kilometer tersebut sangat berdampak bagi masyarakat karena harus menghabiskan waktu empat jam untuk perjalanan yang seharusnya bisa untuk waktu 20 menit.
“Permasalahan ini sangat krusial, saya juga sering kena macet, mau kemana-mana susah karena itu jalan satu-satunya,” katanya. (andika)





