BANTENRAYA.CO.ID – Kota Cilegon menghadapi potensi ancaman bencana gagal teknologi seiring tingginya aktivitas industri, khususnya industri kimia.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon menyebut seluruh wilayah di Kota Cilegon memiliki risiko terdampak, terutama wilayah permukiman yang berada dekat kawasan industri.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Kebencanaan BPBD Kota Cilegon Oman Faturahman mengatakan, tingginya aktivitas industri kimia membuat Kota Cilegon memiliki risiko besar terhadap bencana gagal teknologi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD rutin menggelar simulasi bencana, terutama menghadapi potensi kebocoran bahan kimia.
BACA JUGA : Kadisdikpora Ajak Guru Pesisir Pantai Lestarikan Mangrove
“Ancaman gagal teknologi paling besar di Provinsi Banten itu di Kota Cilegon, makanya di sini sering dilakukan simulasi bencana kegagalan teknologi mana kala terjadi kebocoran,” kata Oman saat ditemui di kantornya, Senin (21 September 2026).
Oman menjelaskan, apabila terjadi bencana gagal teknologi, seluruh wilayah di Kota Cilegon berpotensi terdampak.
Bahkan wilayah yang tidak memiliki kawasan industri, seperti Kecamatan Purwakarta, Cilegon, dan Cibeber, tetap masuk kategori rawan karena dampaknya dapat dipengaruhi arah angin saat kejadian.
“Semuanya, 8 kecamatan wilayah di Cilegon rawan. Walaupun di Purwakarta aman tapi kalau anginnya mengarah ke sana ya rawan,” jelasnya.
BACA JUGA : Pemahaman Literasi Digital Warga Banten Baru 10 Persen
Menurut Oman, wilayah yang memiliki risiko terdampak paling besar adalah kawasan permukiman warga yang berada di sekitar industri.
Hal tersebut karena aktivitas industri, khususnya industri kimia, memiliki potensi menimbulkan dampak apabila terjadi kegagalan teknologi atau kebocoran bahan berbahaya.
“Walaupun semua wilayah rawan terdampak, tapi yang paling terdampak itu wilayah yang dekat dengan industrinya,” ujarnya.
Mengantisipasi terjadinya bencana, Oman mengungkapkan, sejumlah industri di Kota Cilegon rutin menggelar simulasi penanganan bencana gagal teknologi.
Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan pihak industri, tetapi juga masyarakat sekitar untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat.
BACA JUGA : 20 Sekolah Swasta Masuk Pemetaan Program Sekolah Gratis
“Yang harus antisipasi bukan cuma industri tapi warga juga harus siap. Mayoritas industri yang simulasi kebencanaan gagal teknologi ini melibatkan masyarakat juga,” paparnya.
Ia menuturkan, ancaman bencana di Kota Cilegon tidak hanya berasal dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir, tetapi juga bencana gagal teknologi yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, BPBD Kota Cilegon telah menyusun dokumen rencana kontinjensi serta rutin memberikan edukasi terkait langkah penyelamatan diri apabila terjadi kebocoran bahan kimia.
“Sebagai langkah mitigasi non-struktural, BPBD terus melakukan edukasi kepada masyarakat tentang cara penyelamatan diri saat terjadi kebocoran kimia,” tuturnya.
BACA JUGA : PTM di Sekolah, Siswa Diminta Pakai Masker
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cilegon Damanhuri mengatakan, kesiapan industri menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana gagal teknologi, termasuk memastikan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan pendukung saat kondisi darurat.
“Dari industri harus mempersiapkan bencana gagal teknologi seperti alat kebencanaannya, sirine, SDM, alat APAR, dan fasilitas yang lainnya,” katanya.
Selain mendorong simulasi dan edukasi kepada masyarakat, BPBD Kota Cilegon juga melakukan koordinasi dengan pihak industri serta organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Cilegon dalam upaya mitigasi maupun penanganan pascabencana.
“Kami turut membantu mengoordinasikan kepada OPD terkait, misalkan pasca bencana ada saluran air atau jembatan ambruk yang rusak kita sampaikan kepada DPUPR, sekolah yang rusak kita sampaikan kepada Dindikbud,” tutupnya.(tia)





