Gagal Ginjal Didominasi Usia Muda

Gagal Ginjal Didominasi Usia Muda
BERI MOTIVASI: Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah dan Wakilnya Muhammad Najib Hamas menjenguk pasien gagal ginjal di RSDP Serang, belum lama ini.

BANTENRAYA.CO.ID – Sebanyak kurang lebih 300 pasien penderita gagal ginjal rutin melakukan cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Drajat Prawiranegara (RSDP) Kabupaten Serang.

Mirisnya, trend kasus gagal ginjau meningkat khususnya di kalangan usia muda yang disebabkan pola makan yang tidak sehat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Efrizal mengatakan, penyakit diabetes melitus dan hipertensi menjadi penyebab utama kasus gagal ginjal di masyarakat.

Selain faktor medis, gaya hidup buruk juga memperparah risiko kerusakan ginjal.

BACA JUGA : Dewan Desak Pemprov Segera Bahas APBD Perubahan 2026

“Secara medis penyebabnya adalah berkurangnya aliran darah ke ginjal. Tapi yang paling banyak terjadi pemicunya pertama karena diabetes melitus, kedua hipertensi atau darah tinggi, ketiga penyakit bawaan dan peradangan ginjal karena kuman atau bakteri,” ujarnya, Selasa (1 September 2026).

Ia menjelaskan, terdapat empat kebiasaan yang dapat memicu gagal ginjal seperti mengonsumsi obat berlebihan tanpa resep dokter, kurang minum air putih, pola makan buruk, tinggi garam dan gula, hingga kebiasaan merokok. “Jangan asal membeli obat. Karena enak, dibeli lagi, dibeli lagi. Itu bahaya,” katanya.

Mengenai pengobatan, Efrizal menjelaskan penanganannya tergantung stadium, jika masih stadium 2 sampai 3, fokusnya mengendalikan penyakit penyebab seperti diabetes dan hipertensi.

Namun untuk stadium lima atau stadium akhir, pasien hanya memiliki 3 pilihan yakni hemodialisa atau cuci darah di rumah sakit, cuci darah mandiri di rumah dan ransplantasi atau cangkok ginjal.

BACA JUGA : Wakil Walikota Cilegon Tekankan Etika Bermedsos dan Pemanfaatan AI

“Kalau sudah hemodialisa, itu dilakukan seumur hidup. Tidak ada jalan lain selain tiga pola tadi, transplantasi sulit dilakukan karena keterbatasan donor,” jelasnya.

Untuk menekan angka kasus, pihaknya memperkuat program pencegahan melalui tiga langkah utama yakni skrining kesehatan gratis, pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala serta edukasi pola hidup sehat, termasuk bahaya obat bebas dan pentingnya berobat rutin

“Kita sampaikan ke masyarakat, obat ini ada ukurannya, ada dosisnya. Kalau belum sembuh jangan beli lagi di apotek bebas,” katanya.

Efrizal menyebut data kasus gagal ginjal belum tercatat di Puskesmas karena penegakan diagnosis dilakukan di rumah sakit yang memiliki laboratorium lengkap.

BACA JUGA : Investasi Tak Lagi Harus Rumit, bank bjb Hadirkan Pilihan SR025 Mulai Rp1 Juta

“Di 10 besar penyakit Puskesmas tidak ada gagal ginjal. Tapi pasti ada di rumah sakit. Kami sedang komunikasi dengan rumah sakit di Kabupaten Serang untuk mendapatkan datanya. Mudah-mudahan besok sudah ada masukan,” tuturnya.

Sebelumnya, direktur RSDP Serang Rachmat Setiadi mengatakan, saat ini RSDP melayani pasien HD dalam dua shift per hari, setiap shift menampung 40 pasien, sehingga total 80 pasien per hari.

“Kalau yang cuci darah dua kali seminggu, total pasien rutinnya sekitar 200 sampai 300 orang,” ujarnya.

Pasien tersebut tidak hanya dari Kabupaten Serang, tapi juga dari Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, dan wilayah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

BACA JUGA : Wakil Walikota Cilegon Tekankan Etika Bermedsos dan Pemanfaatan AI

“Kita rumah sakit rujukan. Kalau ada slot kosong di RS terdekat kita arahkan ke sana. Tapi kalau pasien ingin tetap di sini juga tidak masalah,” katanya.

Rachmat menuturkan, penyebab utama gagal ginjal adalah pola makan dan minuman tidak sehat. Ia mendukung penuh arahan Bupati untuk melakukan edukasi ke sekolah-sekolah.

“Faktor utamanya makanan dan minuman. Penting sekali empat sehat lima sempurna untuk anak-anak kita. Di rumah sakit ada ahli gizi yang bisa diajak konsultasi,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini RSDP Serang telah memiliki tambahan 10 alat hemodialisis (HD) yang berfungsi untuk menangani pasien cuci darah.

BACA JUGA : Lynn Hotel Pilihan Utama Rest dan Meeting

Penambahan alat tersebut untuk mengantisipasi tren kasus gagal ginjal yang terus naik di Kabupaten Serang dan wilayah Banten.

“Yang kami sayangkan, trennya sekarang di usia muda. Dua sampai tiga tahun terakhir pasien usia 20, 30, 40 tahun semakin banyak. Dulu kebanyakan usia menengah ke atas,” paparnya.

Untuk meningkatkan kualitas layanan, RSDP menghadirkan 3 inovasi baru yakni layanan manikur, pedikur, dan perawatan rambut untuk pasien HD.

Tujuannya agar pasien lebih rileks selama menjalani terapi 4 jam. “Pasien HD kalau lihat darahnya bisa down, mentalnya turun.

BACA JUGA : 800 Hektare Hutan Lindung Dicaplok Tambang

Kita coba bangkitkan dengan edukasi dan salah satunya salon. Layanannya bergantian di hari tertentu karena petugasnya terbatas,” tuturnya.

Sementara itu, penderita gagal ginjal di Kota Cilegon terus mengalami tren kenaikan. Pada 2024 tercatat sebanyak 535 kasus, dan meningkat pada 2025 menjadi 615 kasus.

Berdasarkan data yang dihimpun Banten Raya, pada 2025 saja dari 615 penderita gagal ginjal hanya 378 orang yang melakukan cuci darah rutin.

Rinciannya yakni di RSUD sebanyak 338 pasien, Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) sebanyak 40 orang. Dimana, angka tersebut hanya 61 persen yang melakukan cuci darah secara rutin di rumah sakit.

BACA JUGA : Investasi Tak Lagi Harus Rumit, bank bjb Hadirkan Pilihan SR025 Mulai Rp1 Juta

Untuk sebaran penderita gagal ginjal sendiri ada di Puskesmas Citangkil 2 sebanyak 46 orang, Puskesmas Citangkil 1 sebanyak 36 orang, Puskesmas Ciwandan 2 orang, Puskesmas Purwakarta 66 orang,

Puskesmas Cibeber 36 orang, Puskesmas Jombang 24 orang dan Puskesmas Grogol 17 orang.Untuk data pada 2024 sendiri ada sebanyak 535 kasus dan sebanyak 9 kakus meninggal dunia.

Humas RSUD Kota Cilegon Yoyo Muhazir mengungkapkan, pihaknya setiap tahunnya melayani ratusan penderita gagal ginjal. Dimana, untuk cuci darah dilakukan secara rutin.

“Untuk data resminya nanti saya minta ke bidang administrasi. Namun, memang ada ratusan yang melakukan cuci darah rutin,” katanya, Selasa (1 September 2026).

BACA JUGA : Kangen Kampoeng, Surganya Masakan Sunda

Yoyo menyampaikan, soal secara medis ada perawatan apa dan penyebabnya. Hal itu bisa ditanyakan ke dokter yang terkait. “Itu dokter yah. Ada fenomena apa dan lainnya secara medis,” ucapnya.

Hal sama disampaikan Humas RSKM Kota Cilegon Agus, rumah sakitnya cukup banyak melayani pasien cuci darah.

Namun, untuk data rinci berapa banyaknya membutuhkan waktu karena harus ditanyakan langsung ke divisi yang menangani. “Banyak mas (pasien cuci darah). Untuk pasti jumlahnya harus ditanyakan dulu mas,” singkatnya.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Ratih Purnamasari menjelaskan, pihaknya berharap semakin banyak masyarakat yang peduli dengan penyakit gagal ginjal. Sebab saat ini kasus penyakit tersebut mulai menyerang usia produktif.

BACA JUGA : Ratusan ASN Pemprov Bolos Kerja

“Untuk total data itu ada di bidang. Namun kunci agar ginjal tetap sehat adalah mencerna makanan yang sehat dan menjaga kondisi fisik,” katanya.

Ratih menyampaikan, dalam data kementerian kesehatan, gagal ginjal tidak hanya menyerang orang berusia 60 tahun. Tapi 20 tahun hingga 50 tahun berpotensi terkena penyakit tersebut.

“Berdasarkan data Kemenkes tidak hanya menyerang usia tua saja. Namun usia produktif juga,” pungkasnya. (andika/uri)

Pos terkait