Hasil Pertanian Banten Dilirik Industri Korea

Hasil Pertanian Banten Dilirik Industri Korea
KERJA SAMA : Prosesi penandatanganan MoU antara PT ABM dengan PT Daesang Food Indonesia yang disaksikan oleh Gubernur Banten Andra Soni, Selasa (3 November 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Perusahaan asal Korea Selatan, PT Daesang Food Indonesia menggandeng PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri, mulai dari cabai hingga tomat.

Kerja sama tersebut membuka peluang bagi petani Banten mendapatkan akses pasar yang lebih luas sekaligus kepastian penyerapan hasil pertanian.

Kemitraan antara kedua perusahaan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang disaksikan Gubernur Banten Andra Soni, Selasa (3 November 2026).

Direktur Utama PT ABM Asep Kurnia mengatakan, kebutuhan bahan baku Daesang Food Indonesia mencapai ratusan ton setiap bulan. Adapun komoditas yang menjadi sasaran pasokan meliputi cabai segar, pasta cabai, tomat segar, hingga pasta tomat.

BACA JUGA : Polda Banten Tangkap 14 Orang BBM Subsidi Dijual ke Industri

“Pada tahap awal, kami PT ABM ditargetkan memasok sedikitnya empat ton bahan baku setiap bulan kepada perusahaan tersebut. Itu minimum yang harus disuplai sebanyak 4 ton per bulan.

Maksimumnya terserah kita, kita bisa berapa banyak,” ujar Asep.

Menurut Asep, jumlah pasokan tersebut masih berpeluang meningkat seiring kemampuan PT ABM memenuhi kebutuhan industri.

Untuk merealisasikannya, Asep menyampaikan jika pihaknya akan menyiapkan sejumlah langkah, termasuk membangun kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD), mengedukasi petani, serta mengembangkan kebun cabai dan tomat secara mandiri.

BACA JUGA : 190 Lansia Dilatih Kendarai Becak Listrik

Asep menuturkan, PT ABM berencana menggandeng Dinas Pertanian untuk mendukung pembinaan petani.

Sementara melalui Dinas Pendidikan, sekolah menengah kejuruan (SMK) juga berpeluang dilibatkan dalam kegiatan penanaman komoditas pertanian.

“Upaya tersebut diarahkan untuk menyiapkan sumber daya manusia sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Asep juga menjelaskan, kerja sama dengan PT Daesang direncanakan berlangsung dalam jangka panjang hingga lima tahun ke depan. Namun, perjanjian akan dibuat secara bertahap dengan masa berlaku satu tahun agar pelaksanaannya dapat dievaluasi.

BACA JUGA : 376 Gerai Kopdes Merah Putih di Banten Belum Siap Beroperasi

Asep menilai kemitraan tersebut menjadi peluang besar bagi PT ABM untuk memperluas akses pasar hasil pertanian Banten.

Terlebih, kerja sama itu tidak hanya berorientasi pada penyerapan bahan baku, tetapi juga membuka peluang investasi dan transfer pengetahuan serta teknologi pengolahan pangan.

Diketahui, PT Daesang sendiri merencanakan investasi pembangunan pabrik dalam skala kecil dengan perkiraan nilai Rp5-10 miliar.

“Prospek ke depan sangat besar. Jika mudah kita bisa mengakses industri besar sekelas Daesang Food Indonesia. Alhamdulillah kita bisa mengakses mereka.

BACA JUGA : Pabrik Sepatu Kabur dan PHK 1.100 Karyawan, Hasbi Tuding Ada Gangguan Oknum

Prospek ke depan selain mereka menjadi offtaker raw material bahan pertanian yang ada di Provinsi Banten, mereka sendiri akan berinvestasi transfer knowledge, transfer teknologi ke Banten,” kata Asep.

Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik kemitraan tersebut. Ia menilai kerja sama antara BUMD dengan perusahaan industri pangan berskala global merupakan langkah strategis untuk mengintegrasikan potensi agribisnis daerah ke dalam rantai pasok industri bernilai tambah.

Menurut Andra, Banten memiliki sumber daya pertanian dan kelautan yang melimpah serta posisi geografis strategis.

Namun, potensi tersebut perlu dikembangkan agar memberikan manfaat langsung bagi petani dan pelaku usaha lokal.

BACA JUGA : Golden Tulip Essential Hotel, Strategis dan Ramah Keluarga

“Tentu kami berharap kemitraan ini tidak hanya sebatas transaksi perdagangan, tetapi juga memperkuat rantai pasok berkelanjutan, memberikan kepastian pasar bagi petani, serta mendorong peningkatan kualitas dan nilai tambah produk pertanian,” kata Andra.

Andra juga meminta PT ABM segera membentuk tim kerja bersama, menyusun rencana kerja, serta menyiapkan perjanjian turunan yang jelas dan terukur.

Petani, kelompok tani, dan koperasi harus dilibatkan agar mendapatkan harga yang adil serta pendampingan untuk memenuhi standar mutu dan keamanan pangan.

“Kepercayaan mitra dibangun dari konsistensi, kualitas, dan ketepatan pasokan. Kelola kerjasama ini dengan profesional, transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi,” tegas Andra.

BACA JUGA : Aston Banten Siapkan Grand Prize Rp10 Juta

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Manufaktur PT Daesang Food Indonesia, Faiqal Ardiansyah mengatakan, potensi sumber daya alam dan pertanian Banten menjadi daya tarik bagi industri pangan.

Ketersediaan bahan baku dan pasar merupakan dua faktor penting yang membuat Banten memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari rantai pasok industri. Faiqal menjelaskan, kerja sama dengan PT ABM bukan sekadar hubungan jual beli.

Kemitraan tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem baru di sektor pertanian dan pengolahan pangan.

“Dengan begitu, industri mendapatkan pasokan bahan baku berkelanjutan, sedangkan petani dan masyarakat lokal berkesempatan memperoleh pengetahuan mengenai standar produksi dan teknologi pengolahan,” kata Faiqal.

BACA JUGA : Peredaran 8,8 Kilogram Sabu Jaringan Internasional Digagalkan

Ia menjelaskan, salah satu aspek yang menjadi perhatiannya adalah kualitas bahan baku.

Faiqal mencontohkan, perusahaan memiliki standar kandungan pestisida terhadap hasil pertanian yang akan digunakan dalam proses produksi.

Menurutnya, penerapan standar industri tersebut akan mendorong petani dan pemasok lokal meningkatkan kualitas hasil pertanian sekaligus memahami ketentuan produksi pangan.

“Dari standar kualitas industri, akan melahirkan banyak pertanyaan bagi petani dan anak-anak kita,” ujar Faiqal.

BACA JUGA : Peredaran 8,8 Kilogram Sabu Jaringan Internasional Digagalkan

Ia berharap proses kerja sama tersebut dapat melahirkan pengetahuan baru bagi masyarakat Banten, mulai dari standar mutu hasil pertanian hingga proses pengolahan pangan.

Dengan demikian, kemitraan tidak hanya membuka pasar bagi komoditas lokal, tetapi juga mendorong tumbuhnya produk dan peluang usaha baru di daerah.

“Ekosistem ini akan melahirkan produk-produk baru dan bisnis baru di Banten,” kata Faiqal. (raffi)

Pos terkait