BANTENRAYA.CO.ID – Di halaman rumahnya yang sederhana, Iis Mulyati, dengan sabar mengajar anak-anak usia empat hingga lima tahun.
Aktivitas itu dia lakukan setiap weekday, Senin hingga Jumat di sore hari. Dengan semangat dan kepedulian yang tinggi, Iis ingin memastikan anak-anak yang ia ajar itu, mampu berhitung dan membaca atau setidaknya siap ketika nantinya masuk ke sekolah dasar (SD).
Iis merupakan seorang pengajar sekaligus pemilik bimbel di rumahnya yang berada di Desa Pagadungan, Kecamatan Karang Tanjung, Pandeglang.
Namun, profesinya itu bukan yang pertama, jauh sebelumnya, dirinya pernah menjadi seorang guru honorer di salah satu SD yang ada di Pandeglang selama sembilan tahun.
BACA JUGA : 20.595 Seragam Sekolah Gratis Siap Dibagikan
“Saya akhirnya mengundurkan diri tepat saat masa-masa pandemi di 2020 dan akhirnya buka les sendiri di rumah,” kata Iis, Minggu (19 Juli 2026).
Keputusan itu dia ambil lantaran pengabdian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan itu tak sejalan dengan timbal balik yang ia dapatkan untuk sekadar hidup layak.
Selama sembilan tahun menjadi pengajar honorer, Iis mengaku hanya mendapatkan upah sebesar Rp100 ribu per bulan.
“Dulu aktivitas saat menjadi pengajar di sekolah ya gak mampu buat sekadar nutupin ongkos berangkat,” tuturnya.
Hingga kemudian di era pandemi itu, salah seorang wali murid kemudian menyarankan dirinya membuka bimbel pribadi agar sang anak memiliki aktivitas karena saat itu, kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah.
Saran itu kemudian ia terima. Awalnya, hanya ada tiga murid, hingga saat ini dia memiliki 30 lebih siswa.
“Dulu memang muridnya kebanyakan anak-anak SD. Sekarang bergeser ke usia TK. Alhamdulillah sekarang, ya per siswa itu biasanya orang tuanya ngasih saya Rp100 ribu per bulan,” imbuhnya.
Kendati demikian, Iis menyebut bahwa dirinya menggratiskan biaya tersebut bagi anak-anak yatim maupun anak dengan kondisi yang tidak mampu.
BACA JUGA : Budi Rustandi Tinjau Proyek Pengaspalan Jalan Cibadak-Pageragung
Keptusan itu ia ambil lantaran dia merasa punya tanggungjawab memberikan pendidikan ke semua orang, termasuk mereka yang kesulitan mengaksesnya.
“Awalnya kan murid hanya dari tetangga, sekarang sudah ada dari yang cukup jauh juga,” ucapnya.
Di sisi lain, bimbel miliknya itu ternyata saat ini merupakan bagian dari kelas jauh di salah satu TK yang berada di Kecamatan Koroncong.
Hal itu terjadi setelah dia menyepakati permintaan dari pihak TK. Dengan begitu, setidaknya anak didiknya nantinya bisa mendapatkan bukti pendidikan formal.”Baru saja kemarin kita sudah meluluskan satu angkatan,” imbuhnya. (Aldi)





