BANTENRAYA.CO.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di Selat Sunda terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya hingga tahun 2026, sehingga mempengaruhi terhadap penambahan ketinggian.
Saat ini, gunung api aktif yang menjadi ikon Selat Sunda ini tercatat memiliki ketinggian mencapai 149 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Ketua Tim Kerja Gunung Api Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Heruningtyas Desi Purnamasari mengatakan, sejarah GAK bermula dari letusan katastropik induknya, yakni Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Letusan tersebut merupakan salah satu letusan terbesar dalam sejarah.
BACA JUGA : Tak Penuhi Standar, 61 SPPG Disuspend
“Sejarah Gunung Anak Krakatau itu dimulai saat letusan katastropik yang terjadi pada tahun 1883.
Gunung Krakatau atau Ibu Krakatau ini erupsi yang menelan korban cukup banyak, mencapai 36.000 jiwa dan kolom erupsinya mencapai 80 km ketinggiannya,” ujarnya di pos pemantau GAK, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Selasa (15 September 2026).
Setelah letusan dahsyat tersebut, Gunung Anak Krakatau kemudian muncul ke permukaan pada 20 Januari tahun 1929. “GAK ini mulai muncul di permukaan laut.
Itulah yang menjadi cikal bakal dari Gunung Anak Krakatau yang saat ini tumbuh hingga tahun 2026,” katanya.
BACA JUGA : WPC Cilegon Tampil Lebih Fresh Tawarkan Perawatan Kulit Terlengkap
Ia menjelaskan, perjalanan tinggi GAK mengalami pasang surut. Sebelum peristiwa tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, ketinggiannya sempat mencapai puncaknya.
Namun akibat erupsi yang menerus dari Juli hingga Desember 2018, sebagian tubuh gunung longsor ke laut dan memicu tsunami.
“Ketinggian Gunung Anak Krakatau sebelum terjadinya tsunami itu mencapai 338 meter. Pasca terjadinya tsunami 22 Desember 2018, Gunung Anak Krakatau mengalami longsor yang mana tubuhnya menghilang, roboh. Sampai erupsi terakhir di 2023, ketinggiannya mencapai 149 meter,” jelasnya.
Pada pertengahan 2026 ini, GAK kembali mengalami erupsi sejak bulan Juli hingga saat ini. Aktivitas tersebut dipastikan akan menambah ketinggian gunung, namun belum bisa diukur.
BACA JUGA : Horison Altama di Pandeglang Siap Akomodasi Bisnis hingga Wisata
“Erupsi dari bulan Juli sampai saat ini ketinggiannya bertambah, namun untuk pertambahannya belum dapat kita ukur sampai hari ini,” paparnya.
Ia menjelaskan, karakter Gunung Anak Krakatau memang merupakan gunung yang sedang bertumbuh. Tumpukan material hasil produk erupsi itulah yang membuat ketinggiannya semakin bertambah.
“Jadi dia itu dibangun oleh tumpukan material hasil produk erupsi yang membuat ketinggiannya semakin bertambah. Itulah ciri khasnya yang selalu membangun tubuhnya,” tuturnya.
Ketika telah mencapai ketinggian tertentu di puncak, tubuh gunung berpotensi kembali longsor dan memicu tsunami. Namun pertumbuhan tinggi GAK per tahun tidak dapat dipukul rata karena tergantung pada intensitas erupsi.
BACA JUGA : Banten Darurat Diabetes dan Hipertensi
“Tidak dapat disamaratakan karena tergantung kegiatan erupsinya. Apakah dalam 1 tahun itu full dia erupsi atau hanya beberapa kali. Itu yang menentukan penambahan ketinggian,” ujarnya.
Desi mengungkapkan, penyebab utama tubuh GAK rawan longsor adalah posisinya yang tumbuh miring di bekas kaldera dan materialnya yang tidak padat.
“Tumbuh Anak Krakatau di bekas kalderanya. Tumbuh miring di sini. Inilah yang menyebabkan Gunung Anak Krakatau itu tidak stabil,” katanya. (andika/tanjung)





