BANTENRAYA.CO.ID – SMA 17 Serang pernah menjadi salah satu sekolah swasta favorit di Kota Serang pada era 1990-an.
Sekolah yang berlokasi di kawasan Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, tepat di lokasi yang saat ini digunakan oleh SDIT Bina Bangsa itu, dikenal memiliki jumlah siswa yang banyak, serta unggul dalam prestasi drumband dan sepak bola.
Alumni SMA 17 Serang angkatan 1994, Rudi Safrudin menceritakan, pada masa itu terdapat dua lembaga pendidikan di bawah Yayasan Brigade 17, yakni SMA 17 Serang yang berada di kawasan stadion, dan SMEA 17 Serang yang berlokasi di kawasan Brimob. Kini, kedua sekolah tersebut telah gulung tikar.
“Dulu ada SMA 17 Serang yang di stadion, dan ada juga SMEA 17 Serang yang di Brimob, sekolah ekonomi,” kata Rudi, Minggu (19 Juli 2026).
BACA JUGA : Cucurella Umumkan Nazar Jika Spanyol….
Menurutnya, SMA 17 Serang memiliki nama besar di bidang kesenian dan olahraga. Jika SMA Negeri 1 Serang dikenal dengan marching band-nya, SMA 17 Serang justru tersohor berkat drumband yang kerap tampil dalam berbagai acara, termasuk upacara di Alun-alun Serang (saat itu Kota Serang belum lahir).
“Kalau dulu SMAN 1 Serang terkenal marching band-nya, kalau kita drumband-nya. Upacara di Alun-alun kita suka tampil drumband,” ujarnya.
Tak hanya itu, prestasi di bidang olahraga, khususnya sepak bola, juga menjadi kebanggaan sekolah tersebut. Bahkan, salah seorang alumninya, Imam Riyadi, direkrut menjadi pemain Persib Bandung setelah menyelesaikan pendidikan di SMA 17 Serang.
“Sepak bolanya lumayan, kalau tanding antar sekolah. Pemainnya juga sampai dimasukin ke Persib Bandung,” ungkap Rudi.
BACA JUGA : Swiss-Belhotel Serpong Langganan Pebisnis
Pada masanya, SMA 17 Serang menampung siswa dari berbagai daerah di Banten, seperti Pandeglang, Lebak, Cilegon, Merak, hingga Cikande.
Banyaknya siswa membuat kegiatan belajar mengajar dibagi menjadi dua sesi, yakni pagi dan siang. “Sekolah dibagi dua, ada angkatan pagi dan siang. Yang siang masuk jam 13.00,” katanya.
Di luar aktivitas belajar, Stadion Maulana Yusuf dan Terminal Ciceri yang saat itu masih beroperasi menjadi tempat favorit para siswa untuk berkumpul.
Sementara, siswa yang terlambat masuk sekolah biasanya menghabiskan waktu di Kantin Ibu Rois yang berada di samping sekolah.
BACA JUGA :Jalur Pendakian Pulosari Via Pamengker Dibuka Lagi
“Kalau nongkrong anak-anak biasanya di stadion sama di Ciceri yang waktu itu masih jadi terminal. Yang suka telat masuk biasa kumpul di Kantin Ibu Rois,” tutur Rudi.
Namun, di balik prestasi tersebut, SMA 17 Serang juga dikenal sebagai salah satu sekolah yang kerap terlibat tawuran antarpelajar.
Menurut Rudi, rival utama sekolahnya saat itu adalah STM Hasanuddin, meski bentrokan juga pernah melibatkan sekolah lain.
“Soal tawuran, SMA 17 mah biangnya. Lawannya STM Hasanuddin, juga sekolah lain,” katanya sambil mengenang masa sekolahnya.
BACA JUGA : Selalu Libatkan Pengusaha Lokal, PT Asahimas Chemical Banjir Apresiasi
Dia menceritakan, sekitar tahun 1992 SMA 17 Serang pernah diserang oleh gabungan siswa STM Hasanuddin, STM PGRI, dan STM Prisma.
Untuk mencegah bentrokan susulan, para siswa bahkan sempat mendapat pengawalan dari aparat militer saat pulang sekolah.
“SMA 17 pernah diserang sekitar tahun 1992 sama anak-anak STM Hasanuddin, STM PGRI, dan STM Prisma. Kalau pulang suka dikawal sama orang Korem, digiring sama tentara supaya nggak tawuran,” ujarnya.
Menurut Rudi, penyebab tawuran pada masa itu beragam, salah satunya persoalan asmara. Banyaknya siswi di SMA 17 Serang disebut turut menjadi salah satu pemicu perselisihan antarpelajar.
BACA JUGA : 20.595 Seragam Sekolah Gratis Siap Dibagikan
“Pemicu tawuran macam-macam, salah satunya karena urusan cewek. SMA 17 kan banyak ceweknya,” ucapnya.
Seringnya aksi tawuran juga membuat pihak yayasan mengambil langkah khusus dengan mengganti jendela kaca sekolah dengan kawat besi untuk mengurangi kerugian akibat kerusakan fasilitas.
Juga untuk menghindari adanya pecahan kaca yang bisa berbahaya.
“Karena sering tawuran dan kaca suka pecah, akhirnya yayasan mengganti kaca jendela jadi kawat pagar yang gede itu. Daripada tiap tahun ganti kaca karena tawuran,” katanya.
BACA JUGA : Zakiyah Rotasi Besar-besaran Pejabat Eselon III dan IV
Meski demikian, Rudi menegaskan, tawuran tidak terjadi setiap tahun. Selama bersekolah, dirinya hanya mengalami dua kali peristiwa bentrokan antar pelajar.
Dia juga mengaku tawuran zaman dulu tidak pernah menggunakan senjata tajam, sehingga tidak ada pelajar yang sampai tewas ketika tawuran.
Kini, banyak alumni SMA 17 Serang yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari aparatur sipil negara (ASN) hingga pejabat pemerintahan. Salah satu alumninya yang saat ini dikenal luas adalah Walikota Serang Budi Rustandi.
“Alumni SMA 17 Serang banyak yang jadi PNS, ada yang di Kota Serang, Provinsi Banten, staf ahli di Cilegon, sampai kepala dinas.
BACA JUGA : 20.595 Seragam Sekolah Gratis Siap Dibagikan
Bahkan Walikota Serang, Pak Budi Rustandi, juga alumninya. Alhamdulillah bangga juga sebagai alumni, walaupun Pak Budi adik kelas agak jauh,” kata Rudi.
Bagja Kudrata, alumni SMA 17 Serang lain mengungkapkan, dahulu sejumlah pengajar di SMA 17 bukan guru kaleng-kaleng.
Beberapa dari mereka adalah juga merupakan dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang saat itu masih merupakan kampus swasta.
Meski sejumlah siswa terlibat dalam kenakalan remaja, namun Bagja menyaksikan saat itu para siswa masih segan dan menaruh hormat kepada para guru.
BACA JUGA :Perbaikan Jalan Biang Kerok Macet di Pertigaan Tol Cilegon Timur
Karena segan, para siswa melakukan kenakalan lebih banyak di luar sekolah, ketimbang di lingkungan sekolah. (tohir)





