KABUPATENLEBAK.CO.ID -Saat kebanyakan orang masih tertidur ketika jam menunjukkan pukul setengah empat pagi, Bahri Permana, sudah terbangun lebih dulu.
Sebagai wali asrama putra di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Kabupaten Lebak, dia punya tanggung jawab memastikan para siswa untuk segera bersiap menunaikan sholat subuh.
“Berkeliling gitu dari kamar ke kamar untuk memastikan para siswa sudah bangun,” kata Bahri menceritakan kisahnya, Minggu (3 Mei 2026).
Aktivitas yang ia ceritakan itu merupakan permulaan dari seluruh tugasnya hingga para siswa kembali bangun di subuh hari berikutnya.
Sejak menjadi wali asrama di awal Maret 2026 lalu setelah dirinya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Bahri mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru.
Di tempat kerja sebelumnya, dirinya mengaku menghabiskan waktu di depan komputer untuk menyelesaikan dokumen dari atasan.
Namun sekarang, dia dan beberapa wali asrama lainnya harus menjadi orang tua kedua bagi 100 anak yang tinggal di sana.
“Kalau dulu, biasa ngerjain dokumen gitu, dan sore pulang ketemu keluarga. Tapi sekarang kan gak bisa ya, jadi harus ngejelasin ke keluarga tugas baru ini kalau saya gak bisa pulang setiap hari,” lanjut Bahri menceritakan.
BACA JUGA : RUPST Bank Bjb Resmi Tunjuk Pengurus Baru, Dorong Tata Kelola Lebih Solid
Bagi Bahri, perubahan hidup yang ia alami bukan hal kecil. Dia harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, tinggal di asrama, menunda pulang ke rumah dan berbagi waktu dengan 100 orang siswanya.
“Awalnya memang sulit karena baru bisa pulang ketika weekend, tapi setelah lebih dari sebulan ini, Alhamdulillah cukup menikmati,” imbuhnya.
SRMA 34 Kabupaten Lebak sendiri memiliki sekitar 100 orang siswa. 49 merupakan siswa putri, dan 51 siswanya putra, yang menjadi tanggung jawab Bahri. Para siswa merupakan anak-anak yang berasal dari keluarga miskin kategori desil 1 dan 2.
Bagi Bahri, memastikan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dan mendapatkan makanan yang layak merupakan kewajiban.
BACA JUGA : Bank Banten Bidik Laba Rp75 Miliar di 2026, Percaya Diri Berkat RKUD
Ketika memasuki malam hari, Bahri juga harus berbagi sift dengan rekan sesama wali asrama untuk tetap berjaga.
“Ya kalau siang jelas mastiin mereka ikut di kelas. Selama itu tanggung jawab full ada di tangan guru sampai mereka kembali ke asrama,” imbuhnya.
Meski lelah, Bahri menemukan alasan untuk bertahan. Ia masih ingat ketika seorang siswa mendekatinya di malam hari, menangis karena rindu rumah.
Bahri duduk, mendengarkan, lalu menenangkan. “Saya bilang, kalau kamu kuat di sini, nanti kamu bisa kuat menghadapi dunia luar,” kenangnya.
Momen kecil seperti itu membuat Bahri merasa kehadirannya berarti. “Reward-nya jelas, status kepegawaian juga jelas. Tapi yang membuat saya nyaman adalah mendidik anak-anak istimewa ini,” ujarnya. (aldi)






