Pertumbuhan Ekonomi Banten Turun

Pertumbuhan Ekonomi Banten Turun
Pekerja di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang mengangkut beras yang menjadi salah satu sektor yang mempengaruhi perkembangan ekonomi Banten, Rabu (5 Agustus 2026).

BANTENRAYA.CO.ID – Badan Pusat Staistik (BPS) Banten mencatat, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan II 2026 sebesar 5,49 persen secara tahunan. Angka ini turun jika dibandingkan dengan capaian pada triwulan I 2026 yang sempat menyentuh angka 5,64 persen.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten Awang Pramila mengungkapkan, bahwa mobilitas dan aktivitas perekonomian masyarakat pada triwulan kedua tahun ini banyak diwarnai oleh momen momen Hari Raya Idul Adha, pelaksanaan ibadah haji, serta masa libur sekolah.

“Dari sisi produksi pada triwulan II 2026 pertumbuhan tertinggi diraih oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib yang melesat hingga 18,58 persen,” kata Awang dalam siaran resmi BPS, Rabu (5 Agustus 2026).

Di sektor investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Banten mencatatkan nilai realisasi investasi keseluruhan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp31,89 triliun pada triwulan II tahun 2026. Angka ini secara triwulanan turun 7,18 persen meski secara tahunan masih tumbuh 7,41 persen.

BACA JUGA : Realisasi PBBP2 Rendah, Camat Terancam Dievaluasi

“PMA menyumbang sebesar Rp13,02 triliun, sedangkan PMDN mencapai Rp18,87 triliun.

Adapun kontribusi PMTB Banten pada triwulan II 2026 berada di angka 5,39 persen, sedikit menyusut jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,09 persen,” jelas Awang.

Untuk sektor perdagangan e-commerce, Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) dari marketplace dengan tujuan pengiriman ke Banten turun 3,43 persen secara kuartalan, namun melesat hingga 19,77 persen secara tahunan.

“Sementara itu, rata-rata Indeks Penjualan Riil (IPR) nasional selama periode April-Juni 2026 berada di level 224, terkoreksi dari periode Januari-Maret 2026 yang sempat menembus 237,7,” urainya.

BACA JUGA : Bina Insan Tanamkan Santri Cinta Al-Qur’an Sejak Dini

Meskipun melambat secara tahunan, secara triwulanan, ekonomi Banten pada triwulan II 2026 masih tumbuh sebesar 1,24 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp253,09 triliun.

Secara akumulatif, ekonomi Banten sepanjang semester I 2026 tumbuh sebesar 5,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara jika dilihat sepanjang Semester I-2026, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,78 persen.

“Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PKP) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan tertinggi, yakni melonjak 16,86 persen secara tahunan serta tumbuh 10,98 persen kuartalan,” kata Awang.

BACA JUGA : 408 Ribu Warga Banten Menganggur

Pengamat Ekonomi Universitas Pamulang (Unpam) Serang M Nur Fahruqi menilai, perlambatan pertumbuhan dan pergeseran struktur pembentuk PDRB ini membawa beberapa implikasi langsung bagi perekonomian mikro.

Koreksi pada Indeks Penjualan Riil (IPR) dan penurunan belaanja e-commerce kuartalan, mengindikasikan bahwa masyarakat kelas menengah mulai mengetatkan anggaran pasca-pengeluaran besar di triwulan I.

“Tekanan inflasi pada komoditas pangan pokok seperti beras di pusat-pusat distribusi regional seperti Pasar Induk Rau dapat semakin menggerus pendapatan riil masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Fahruqi.

Karena pertumbuhan ekonomi lebih didorong oleh belanja pemerintah dan sektor jasa sebesar 12,78 persen, daya serap terhadap lapangan kerja berbasis industri manufaktur atau konstruksi cenderung melambat.

BACA JUGA : Bank bjb Perluas Potensi Bisnis Melalui Kemitraan Strategis Bersama Yayasan Adi Upaya

Sementara itu, Ia menilai penurunan pembentukan modal (PMTB) berpotensi memicu, tertahannya pembukaan lapangan kerja manufaktur baru di kawasan industri Banten serta peningkatan migrasi tenaga kerja ke sektor informal pedagang eceran, jasa harian.

Pertumbuhan yang ditopang oleh aktivitas konsumsi dan belanja pemerintah cenderung lebih dirasakan manfaatnya di pusat-pusat pemerintahan dan perkotaan.

“Sementara masyarakat di kawasan berbasis pertanian atau industri yang mengandalkan stabilitas harga komoditas dan investasi pabrik akan merasakan dampak perlambatan secara lebih signifikan,” kata Fahruqi. (raden)

Pos terkait